Banjir Asia: 938 Orang Tewas, Diperkirakan Bertambah

Perubahan iklim, penggundulan hutan, dan pembukaan lahan memperburuk banjir dan longsor yang terjadi di Asia. Masih ada ratusan orang hilang dan terisolasi.

01 Des 2025 10:15 WIB · Internasional

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Iwan Santosa

KOLOMBO, SENIN — Jumlah korban tewas akibat banjir yang dipicu topan tropis di Sri Lanka, Thailand, dan Indonesia sudah mencapai 938 jiwa. Hingga Senin (21/1/2025), regu penolong berkejaran dengan waktu berusaha menyelamatkan korban yang terjebak. Sejumlah lembaga, termasuk militer, dikerahkan untuk menyalurkan bantuan dan membantu evakuasi penduduk.

Siklon topan Ditwah yang menghantam Sri Lanka mengakibatkan 334 orang tewas. Pusat Manajemen Bencana (DMC) Sri Lanka melaporkan, masih banyak warga yang hilang. Kejadian ini adalah bencana alam terburuk yang dialami Sri Lanka dalam 20 tahun terakhir.

Pejabat Sri Lanka mengatakan, daerah terparah akibat terjangan angin, banjir, dan tanah longsor terjadi di wilayah tengah Sri Lanka. Banyaknya korban dan kerusakan baru diketahui setelah regu penyelamat berhasil menempuh jalan darat mencapai lokasi bencana.

DMC Sri Lanka menyatakan, jumlah korban terus bertambah. Pada Sabtu lalu tercatat bencana longsor dan banjir menyebabkan 214 tewas. Pada Minggu tercatat korban bertambah menjadi 334 jiwa. Selain itu, sebanyak 400 orang juga dilaporkan hilang dan 1,3 juta orang terdampak hujan ekstrem dan banjir bandang.

Dalam proses evakuasi dan penyaluran bantuan terjadi insiden, yaitu sebuah helikopter Bell 212 yang membawa bantuan jatuh ke sungai. Sedianya helikopter itu menyalurkan bantuan untuk pasien yang terjebak di sebuah rumah sakit di utara Kolombo. Pilot dan kru helikopter, sebanyak lima orang, dilarikan ke rumah sakit.

Sebuah helikopter lain dikirim dari India untuk mengevakuasi 24 orang termasuk seorang perempuan hamil dan satu orang lelaki menggunakan kursi roda, yang terjebak di Kota Kotmale, 90 kilometer timur laut Kolombo.

People wade through a flooded road after heavy rainfall in Wellampitiya on the outskirts of Colombo on November 29, 2025. Sri Lanka made an appeal for international assistance on November 29 as the death toll from heavy rains and floods triggered by Cyclone Ditwah rose to 123, with another 130 reported missing. (Photo by Ishara S. KODIKARA / AFP)

Bencana nasional

Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake mengumumkan keadaan bencana nasional. Dia berjanji akan membangun kembali Sri Lanka dengan kerja sama internasional.

”Kita mengalami bencana alam terburuk dalam sejarah bangsa. Kita harus membangun kembali lebih baik dari keadaan sebelumnya,” kata Anura.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Sri Lanka kali ini merupakan yang terburuk sejak negeri itu diempas tsunami pada Desember 2004. Kala itu, tsunami membunuh 31.000 orang dan mengakibatkan lebih dari 500.000 orang kehilangan rumah.

Hujan sudah mereda di seluruh Sri Lanka, tetapi daerah dataran rendah di sekitar ibu kota Kolombo masih digenangi air, Minggu. Pemerintah Sri Lanka masih mengerahkan seluruh daya untuk operasi tanggap bencana.

Pemerintah Pakistan mengirim tim penyelamat membantu Sri Lanka. Jepang mengirim tim aju untuk memperkirakan kerusakan dan kebutuhan mendesak Sri Lanka.

Selvi (46), warga pinggiran Kolombo di Wennawatte, meninggalkan rumahnya, Minggu, dengan membawa empat tas berisi baju dan barang berharga. ”Rumah saya tenggelam, dan tidak tahu harus ke mana. Semoga ada tempat pengungsian untuk tinggal sementara,” katanya kepada wartawan AFP.

Banjir yang surut di Kota Manampitiya, 250 kilometer utara Kolombo, menyisakan kehancuran parah. ”Manampitiya memang rawan banjir, tetapi belum pernah kota ini banjir dan tenggelam sedemikian parah,” kata S Sivanandan (72), warga setempat.

People walk past a section of a highway blocked by a landslide caused by heavy rain in Badulla, Sri Lanka, Thursday, Nov, 27, 2025. (AP Photo)

Kepada media News Centre, dia mengatakan, pertokoan dan perumahan hancur. Ada sebuah mobil terbalik di depan tokonya.

Tak jauh dari sana, seorang perempuan di Wellawaya mengatakan mendengar suara gemuruh, ternyata sebuah tanggul runtuh dari atas bukit, lalu jatuh. ”Pepohonan tercerabut bersama tanggul yang runtuh. Kami tidak berani kembali ke rumah untuk saat ini,” kata dia mengkhawatirkan longsor susulan.

Kerahkan kapal perang

Sementara itu, kehancuran akibat siklon tropis yang memicu banjir bandang dan tanah longsor juga menghancurkan sejumlah wilayah di Thailand selatan dan Pulau Sumatera di Indonesia. Jumlah korban tewas di dua negara tersebut sudah melampaui 600 jiwa dan masih banyak korban hilang yang dikhawatirkan hanyut terbawa banjir atau tertimbun longsor.

Pemerintah Indonesia mengerahkan enam kapal perang ke lokasi bencana di Sumatera bagian utara. Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga mendapat perhatian khusus karena kerusakan yang terjadi.

Dinas Penerangan TNI AL menyebutkan, dari Jakarta KRI dr Soeharso 990 menuju Langsa, Aceh; KRI Teluk Gilimanuk 531 menuju Lhokseumawe; KRI dr Rajiman Wedyodiningrat 992, KRI Semarang 594 menuju Nias, dari Surabaya menuju Sibolga; KRI Sutedi Senaputra 378 dari Belawan menuju Langsa. Semua kapal bergerak pada Minggu untuk mempercepat penanganan bencana. Selain itu, lima helikopter TNI AL juga dikerahkan untuk pemantauan udara, evakuasi cepat, serta pengiriman bantuan ke daerah terisolasi.

Bantuan berupa berbagai macam kebutuhan sehari-hari hingga alat berat diangkut dengan kapal perang KRI TNI Angkatan Laut dari Jakarta menuju sejumlah tempat bencana di Sumatera, Minggu (30/11/2025).

Kapal perang TNI AL diperkirakan mencapai Pelabuhan Sibolga pada Senin (1/12/2025). Korban tewas di Indonesia sudah mencapai 442 jiwa, 402 orang masih hilang dan 646 orang terluka.

Di Nagari Sungai Nyalo, 100 kilometer dari Kota Padang, banjir mulai surut pada Minggu. Rumah dan kendaraan serta sawah tertutup lumpur tebal yang dibawa galodo (banjir bandang). Di sejumlah lokasi, didapati gajah-gajah mati mengenaskan tertimbun lumpur dan puing dekat bangunan rusak di Kota Meureudu, Aceh.

Kecaman publik

Di Thailand selatan, Provinsi Songkhla dan ibu kotanya, Hatyai, mengalami kerusakan parah akibat banjir. Sekurangnya 162 orang tewas akibat banjir terburuk dalam sepuluh tahun terakhir. Pemerintah Thailand memberikan bantuan 2 juta baht (Rp 1 miliar) bagi rumah tangga yang kehilangan anggota keluarga.

Foto aerial yang memperlihatkan banjir yang merendam kendaraan di jalanan di Hat Yai, Provinsi Songkhla, Thailand, Rabu (26/11/2025). Banjir bandang akibatcurah hujan tinggi sedikitnya menewaskan 33 orang pada Rabu (26/11/2025).

Meski demikian, masyarakat Thailand mengecam lambannya penanganan bencana di Hatyai. Sudah dua orang pejabat setempat ditangguhkan dari jabatan karena dianggap gagal bertindak dalam membantu masyarakat terdampak bencana.

Selain itu, Malaysia utara, yakni Kelantan, Perlis, dan Kedah, juga terdampak banjir. Dikabarkan dua orang tewas di Perlis yang berbatasan dengan Thailand selatan. Sebagian wilayah Perlis juga terendam banjir beberapa hari terakhir.

Musim hujan pada Juni hingga September biasa diikuti hujan ekstrem memicu longsor dan banjir di Malaysia utara. Badai tropis pekan lalu memperparah keadaan di Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Perubahan iklim mengubah pola badai mencakup jangka waktu dan kekuatan badai. Akibatnya, terjadi hujan ekstrem dan terjangan angin yang semakin kuat, serta banjir bandang. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto