Puluhan rumah di kawasan Lembah Anai habis tersapu banjir bandang. Sebanyak 36 warga belum diketahui nasibnya.
29 Nov 2025 10:58 WIB · Lingkungan
KOMPAS/YOLA SASTRA
PADANG PANJANG, KOMPAS — Sebanyak 36 warga di RT 20 yang bermukim di sekitar lokasi banjir bandang di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, belum jelas keberadaannya. Adapun puluhan rumah di kawasan sekitar Lembah Anai habis tersapu banjir bandang.
Sekretaris Kelurahan Silaing Bawah Nurmiati Amin di Padang Panjang, Sabtu (29/11/2025), mengatakan, ada 36 warga RT 20 yang bermukim di sekitar jembatan itu dilaporkan hilang oleh ketua RT setempat dan masyarakat. ”Mereka belum ditemukan dan belum dapat dihubungi,” kata Nurmiati.
Nurmiati menjelaskan, ada 25 rumah yang hanyut dan 5 rusak berat akibat banjir bandang di RT 20 yang berada di sekitar jembatan kembar di jalan nasional Padang-Bukittinggi itu. Adapun secara keseluruhan, ada 202 jiwa yang bermukim di RT 20.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/f4235b28cf5428de29e93727b0dcad5e-0a9b95f6_5604_4c4b_ad49_2d7b0f372ed0.jpeg)
Menurut Nurmiati, sebagian besar warga RT 20 yang selamat mengungsi di kantor Kelurahan Silaing Bawah. Total ada 99 warga RT 20 yang mengungsi di kantor lurah, 55 warga mengungsi ke tempat keluarga, dan 7 warga kembali ke rumah.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, hingga Jumat (28/11/2025) malam, total ada 7 korban jiwa dan 3 orang luka-luka dalam banjir bandang yang terjadi pada Kamis (27/11/2025) siang itu. Dari jumlah itu, tidak semuanya warga Padang Panjang.
Banjir bandang di sekitar kawasan Lembah Anai itu dipicu hujan lebat yang terjadi dalam sepekan terakhir. Air bah datang dari anak sungai yang merupakan hulu Sungai Batang Anai.
Selain rumah warga, di sekitar jembatan kembar di perbatasan Padang Panjang dan Tanah Datar itu terdapat banyak warung dan mushala. Lokasi tersebut biasanya menjadi tempat istirahat (rest area) ataupun berteduh pengendara saat hujan ketika melewati kawasan Lembah Anai.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/7abff8e0e450e91e128d43fba505f583-d9877223_ff88_4960_bab9_006df2b225f3.jpeg)
Jumlah korban pun berkemungkinan lebih banyak daripada data korban dari laporan resmi. Pendi (44), pengendara yang selamat, menyebut, banjir bandang terjadi pada Kamis sekitar pukul 11.30.
”Orang ramai di lokasi. Mungkin ada 30 pengendara berhenti di sana. Ada belasan sepeda motor dan sepuluh mobil berhenti di lokasi,” kata Pendi yang berangkat dengan sepeda motor dari Pekanbaru menuju Padang Pariaman.
Orang-orang berhenti inilah yang dihantam banjir bandang.
Pendi menyebut, selain karena hujan deras, ia dan pengendara lain berhenti di kedai di lokasi kejadian karena melihat bendera merah di jalan. Di jalan arah ke Padang (hilir sungai), ada batang kayu rebah menghambat jalan. ”Orang-orang berhenti inilah yang dihantam banjir bandang,” katanya.
Suheri (53), warga Kelurahan Silaing Bawah, mengatakan, sampai saat ini ayah, ibu, dua adik, keponakan, dan kakak iparnya belum ditemukan. Rumah orangtua dan warung milik adiknya di sekitar jembatan ini tak berbekas disapu banjir bandang. ”Sampai sekarang belum satu pun yang ditemukan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/2a110b73141ed43ecc5c344b49764f08-e4e5bb43_1289_49e2_9286_e5cf7acebce6.jpeg)
Bencana banjir dan longsor melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Puluhan ribu keluarga terdampak bencana itu. Dana Kemanusiaan Kompas membuka dompet kemanusiaan untuk menampung bantuan pembaca yang hendak meringankan derita para korban. Dompet dibuka hingga tanggal 31 Desember 2025. Bantuan dapat ditransfer ke rekening Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas, Rekening BCA Cabang Gajah Mada, Jakarta, Nomor A/C 0123021433
Penulis:
Yola SastraEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan