Flores diguyur hujan di atas 200 mm per hari dan Bali 385 mm per hari, memicu banjir di puncak musim kemarau.
10 Sep 2025 16:23 WIB · Lingkungan
Banjir bandang dan longsor melanda Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (8/9/2025) dan Kabupaten Jembrana, Bali, pada Selasa (9/9/2025). Banjir yang dipicu hujan ekstrem ini terjadi di puncak musim kemarau, yang menandai gejolak cuaca yang semakin tidak menentu akibat pemanasan global.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo masih mencari lima korban hilang akibat banjir bandang. ”Kondisi cuaca yang sering berubah-ubah ditambah masifnya timbunan material yang terbawa oleh banjir bandang menjadi tantangan tim SAR gabungan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari.
Menurut Muhari, banjir di Nagekeo menyebabkan 18 desa di Kecamatan Mauponggo terisolasi akibat terputusnya akses jalan, jaringan listrik, dan sinyal komunikasi. Upaya penyaluran bantuan logistik akan didukung BPBD Provinsi NTT melalui jalur laut dan dijadwalkan pada Kamis (11/9).
Sementara itu, banjir di Jembrana, Bali, menyebabkan dua warga meninggal. Bencana ini terjadi setelah hujan lebat pada Selasa (9/9) pukul 23.15 WIB. Menurut data BNPB, banjir melanda sejumlah wilayah di Provinsi Bali. Selain Jembrana, banjir juga terjadi di Gianyar, Tabanan, Klungkung, dan Kota Denpasar.
”Data sementara yang diterima BNPB pada Rabu (10/9/2025) pukul 11.30 WIB menyebutkan, dua warga meninggal dan 103 keluarga (200 jiwa) terdampak di Kabupaten Jembrana. Sedangkan di Kabupaten Klungkung, sebanyak 104 keluarga (432 jiwa) jiwa terdampak,” kata Muhari.
Peneliti iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan, bulan Agustus dan September seharusnya menjadi puncak musim kemarau di sebagian besar NTT dan Bali. ”Banjir di puncak musim kemarau di wilayah Bali dan NTT seperti saat ini baru terjadi kali ini,” katanya.
Menurut dia, secara regional, hujan lebat yang memicu banjir ini dipicu oleh aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby. Hal ini memicu hujan lebat yang cukup merata di Bali hingga Nusa Tenggara dan Kalimantan barat daya.
”Khusus di NTT, hal ini juga diamplifikasi oleh faktor lokal berupa kontur wilayah pegunungan,” kata Siswanto.
Data curah hujan yang dilaporkan Stasiun Klimatologi NTT menunjukkan, intensitas hujan di Mataloko-Golewa Kabupaten Ngada, yang berbatasan dengan Nagekeo bagian selatan pada Senin mencapai 182 milimeter (mm) per hari. Sedangkan di Ende, intensitas hujan mencapai 201,9 mm per hari dan di Bajawa 62,1 mm per hari.
Secara regional, hujan lebat yang memicu banjir ini dipicu oleh aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby.
Laporan yang dikeluarkan Stasiun Meteorologi El Tari Kupang menunjukkan, suhu muka laut di wilayah perairan NTT cukup hangat dan dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan awan di wilayah ini. Pada saat yang sama, Gelombang Rossby Ekuator tengah aktif dan angin monsun timur melemah karena perbedaan tekanan antara Asia dan Australia yang tidak signifikan. Hal ini mendukung melemahnya angin dan meningkatkan pertumbuhan awan konvektif di beberapa wilayah NTT.
Sementara itu, curah hujan di Stasiun Klimatologi Bali pada 9 hingga 10 September mencapai 385 mm per hari, menjadi yang tertinggi di Indonesia pada hari itu. ”Curah hujan ekstrem di Bali ini merupakan yang tertinggi dalam catatan sejarah di wilayah ini,” kata Siswanto.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/10/5db65a045691361c136de66e6ae9db9c-intensitas_hujan.jpeg)
Menurut Siswanto, fenomena Gelombang Ekuatorial Rossby merupakan salah satu jenis gangguan di atmosfer yang sangat berpengaruh terhadap pola cuaca di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Gelombang ini dinamai dari Carl-Gustaf Rossby, ilmuwan yang pertama kali mengidentifikasinya pada 1930-an. Karakteristik utama Gelombang Rossby Ekuatorial adalah pergerakan dari timur ke barat, di sepanjang ekuator dengan kecepatan relatif lambat, berkisar 5-10 meter per detik.
Gelombang ini biasa bergerak selama 10-20 hari. ”Ini merupakan gelombang atmosfer berskala planet, dipengaruhi oleh rotasi Bumi (efek Coriolis) dan distribusi tekanan atmosfer,” kata Siswanto.
Dampaknya, ketika aktif, gelombang ini dapat menyebabkan ketidakstabilan angin di lapisan bawah atmosfer dan mendorong akumulasi massa udara lembab dari wilayah laut tropis seperti Samudra Hindia dan Laut Jawa.
Beberapa studi menyebut dampak Gelombang Rossby ekuatorial terhadap cuaca adalah sering menjadi pemicu pertumbuhan awan konvektif yang intens yang menimbulkan hujan lebat dan cuaca ekstrem, termasuk yang baru-baru ini terjadi di Bali dan NTB, menyebabkan banjir dan angin kencang. Masalahnya, fenomena ini terjadi di puncak musim kemarau, yang seharusnya tidak mendukung terjadinya hujan ekstrem.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/10/a235e08d6ca16f5034d01df0727aab67-20250910wer2.jpg)
”Masalahnya, musim kemarau kali ini, atmosfer dan laut wilayah Indonesia lebih hangat daripada biasanya dan konsekuensinya uap air melimpah di atmosfer. Hal ini yang lebih mudah memicu awan dan hujan ekstrem. Meskipun tetap perlu kondisi dinamika atmosfer tertentu berupa pola cuaca,” tutur Siswanto.
Menurut Siswanto, hujan ekstrem di puncak kemarau ini tidak bisa dilepaskan dari menghangatnya suhu perairan akibat pemanasan global. ”Ini menguatkan hipotesis dalam riset kami sebelumnya, tentang meningkatnya risiko cuaca ekstrem di Indonesia karena pemanasan global,” ujarnya.
Pekan lalu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga melaporkan bahwa fenomena La Nina kemungkinan akan kembali memengaruhi pola cuaca dan iklim di tahun ini. Meskipun La Nina pada umumnya memberikan pengaruh pendinginan sementara dan memicu lebih banyak hujan di Indonesia, suhu diperkirakan masih akan berada di atas rata-rata di sebagian besar wilayah dunia.
Menurut WMO, ada peluang 55 persen bagi suhu permukaan laut di Pasifik khatulistiwa untuk mendingin ke tingkat La Nina. Sementara peluang 45 persen bagi suhu itu untuk tetap pada tingkat netral ENSO pada September-November 2025. Untuk Oktober-Desember 2025, probabilitas kondisi La Nina sedikit naik jadi sekitar 60 persen.
Sejumlah kajian yang ada menunjukkan terjadinya perubahan pola hujan di berbagai belahan dunia. Kondisi ini disebabkan oleh adanya peningkatan suhu serta kelembaban.
Berdasarkan analisis data satelit dan data stasiun seluruh dunia, Lau dan Wu (2007), misalnya, mencatat pergeseran signifikan distribusi fungsi probabilitas hujan di kawasan tropis pada 1979-2003. Ada kenaikan kejadian hujan kategori lebat (10 persen curah tertinggi) dan hujan ringan (5 persen curah hujan terendah).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/12/473cc5900a90e57168400f315a7ca7a5-20250812ronC.jpg)
Sementara kajian G Lenderink dari Royal Netherlands Meteorological Institute dan tim di Hydrology and Earth System Sciences (2011) menemukan kenaikan hujan ekstrem seabad terakhir di De Bilt, Belanda, dan Hong Kong.
Hal ini terkait perubahan kelembaban udara dekat permukaan. Sesuai teori Clausius-Clapeyron, setiap kenaikan suhu 1 derajat celsius meningkatkan kelembaban udara permukaan dan hujan ekstrem per jam 7 persen. Di Hong Kong dan De Bilt ada kenaikan 14 persen.
Riset Siswanto berbasis data jangka panjang di Jakarta juga menemukan, kenaikan suhu telah memicu kenaikan hujan ekstrem per jam 14 persen, dua kali daripada relasi Clausius-Clapeyron. Kenaikan suhu di Indonesia 1,6 derajat celsius dibandingkan dengan 1850-an.
Maka, kegagalan mengerem laju pemanasan global meningkatkan potensi hujan ekstrem di Indonesia. Bahkan, hujan ekstrem juga bisa terjadi di puncak musim kemarau seperti saat ini melanda Bali dan NTT dan di Jakarta serta sekitarnya pada Juli dan Agustus lalu.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Retma Wati