Banjir akibat tanggul sungai yang jebol menjadi persoalan yang terus berulang di Jateng. Upaya nyata berupa normalisasi sungai dan penguatan tanggul didorong.
06 Apr 2026 20:04 WIB · Lingkungan
KOMPAS/Raditya Mahendra Yasa
SEMARANG, KOMPAS — Banjir akibat tanggul sungai yang jebol sudah berulang terjadi di Jawa Tengah, salah satunya di Kabupaten Demak. Selama ini, warga yang tinggal di sekitar sungai telah berupaya menambal tanggul yang retak secara swadaya. Mereka mendesak pemerintah agar segera menormalisasi sungai dan menguatkan tanggul.
Banjir akibat tanggul jebol yang terbaru terjadi pada Jumat (3/4/2026) pagi di Sungai Tuntang, Kecamatan Guntur. Sebelum jebol, sempat ada rembesan air yang keluar dari sela-sela tanggul yang retak.
Kondisi itu pun membuat warga Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, yang tinggal di sekitar sungai panik. Apalagi, debit air sungai kala itu meningkat seusai hujan deras mengguyur wilayah hulu pada Kamis (2/4/2026) sore hingga malam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/359dfc62a910ef1f4e7d82edee219795-1000849050.jpg)
Para pria langsung mendekat ke arah tanggul, berupaya menambal retakan dengan material seadanya. Rohman (40), warga Desa Trimulyo, merupakan salah satu orang yang ikut menambal retakan.
”Biasanya, kalau sudah ditambal itu aman, tidak sampai banjir tinggi, tetapi cuma limpasan-limpasan begitu. Airnya langsung lari ke sawah, jadi tidak merendam lama. Tetapi, yang kemarin ini kondisi air sungainya penuh, jadi sudah tidak kuat lagi tanggulnya, terus jebol,” tutur Rohman saat dihubungi, Senin (6/4/2026).
Menurut Rohman, upaya warga secara swadaya menambal retakan di tanggul sungai sudah berkali-kali dilakukan. Hal itu karena warga khawatir dengan kondisi tanggul dari tanah yang rawan longsor dan bocor tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/34ab031d86895a1d2dff798f397718f6-1000849048.jpg)
Ke depan, Rohman berharap, pemerintah bisa membangun tanggul yang lebih permanen demi keamanan warga. Dengan begitu, setiap musim hujan tiba, warga tidak lagi dihantui banjir yang terjadi karena limpasan air sungai.
Ismono (53), warga Desa Trimulyo lainnya, juga terlibat dalam penambalan tanggul yang dilakukan warga secara swadaya. Kala itu, Ismono bertugas meminta sand bag atau karung untuk wadah material ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Setelah menyerahkan karung kepada orang-orang yang sedang berada di tanggul, Ismono pulang untuk membantu istrinya menaikkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Kegiatan itu rutin dilakukan setiap kali tanggul retak sebagai langkah antisipasi agar barang-barang mereka tak terendam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/5da3d7019a05b3dbd4a699296dba840b-1000849051.jpg)
”Waktu saya lagi mau bantu istri beres-beres itu, tiba-tiba orang-orang yang ada di atas tanggul teriak-teriak, memperingatkan warga untuk menyelamatkan diri karena tanggulnya jebol. Karena air mengalir deras ke arah permukiman, saya langsung mengajak anak istri menyelamatkan diri, enggak pikirkan lagi menyelamatkan barang-barang,” ucap Ismono.
Ketika meninggalkan rumah, ketinggian air di rumah Ismono yang berjarak sekitar 30 meter dari tanggul sungai itu sudah mencapai 1 meter. Saat air mulai surut menjadi sekitar 50 sentimeter pada Sabtu (4/4/2026), Ismono pulang untuk mengecek kondisi rumahnya.
Ia terkejut karena rumahnya sudah hanyut terbawa air, tinggal menyisakan bagian atap yang sudah rata dengan tanah. Dokumen dan surat-surat berharga miliknya dan keluarganya juga hilang tak bersisa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/63d9a0319b917c337500118f9e98eb69-1000849057.jpg)
Rumah Ismono bukan satu-satunya yang rusak akibat bencana itu. Berdasarkan data BPBD Demak, ada 27 rumah yang rusak, dengan rincian sebanyak 11 unit hanyut, 7 unit rusak berat, dan 9 unit rusak ringan.
Akibat bencana itu, sembilan desa di empat kecamatan terendam. Di Kecamatan Guntur, ada lima desa yang terendam, yakni Trimulyo, Sidoharjo, Tlogorejo, Turirejo, dan Sumberejo. Selain itu, Desa Ploso di Kecamatan Karangtengah, Desa Lempuyang di Kecamatan Wonosalam, serta Desa Solowire dan Sarimulyo di Kecamatan Kebonagung juga tergenang.
Rumah yang terendam banjir di sembilan desa itu sebanyak 2.116 unit. Rumah-rumah itu dihuni sekitar 7.606 jiwa. Akibatnya, 2.839 jiwa mengungsi ke 14 tempat pengungsian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/d911bd05b0d96a51d3656f64accf0eb6-1000849044.jpg)
Namun, pada Senin, mayoritas pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing. Sekitar 12 jiwa bertahan di pengungsian yang berada di Madrasah Diniyah Sindon. Sebagian lagi, termasuk keluarga Ismono, menumpang di rumah kerabat.
Ismono menyebutkan, sejauh ini, keluarganya hanya mendapatkan bantuan berupa makanan dan minuman. Bantuan perbaikan ataupun pembangunan rumah bagi warga yang rumahnya rusak juga disebut telah dijanjikan. Ismono mengharapkan rencana itu bisa segera diwujudkan.
Seperti Rohman, Ismono juga berharap pemerintah bisa segera membangun tanggul permanen untuk Sungai Tuntang. Di samping itu, ia juga berharap pemerintah segera menormalisasi Sungai Tuntang, salah satunya dengan mengeruk sedimen supaya daya tampung sungai itu bertambah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/bc922ba7aff609b2a7fc4e19321bfdad-1000849053.jpg)
Sementara itu, Bupati Demak Eistianah mengatakan, pihaknya sudah menerima bantuan dari Pemerintah Provinsi Jateng untuk penanganan banjir di Demak. Warga yang rumahnya hanyut atau rusak, disebut Eistianah, bakal diberi stimulan, jika perlu dibantu membangun kembali rumahnya.
”Dari pemkab siap untuk membantu. Nanti kita akan mendiskusikannya dan secepatnya. Mungkin minggu ini bisa kita serahkan sehingga masyarakat, baik yang rumahnya hanyut, rusak berat, maupun rusak ringan, ini bisa segera kembali ke rumah. Kalau yang hanyut, mungkin proses pembangunan terlebih dahulu,” tutur Eistianah.
Untuk warga yang kehilangan dokumen, lanjut Eistianah, bakal dibantu pengurusannya. Warga diminta melapor ke pemerintah desa untuk selanjutnya dibantu petugas dari dinas-dinas terkait mengurus dokumen yang baru.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/f4086e68ae16954fb259edd6fb74d7f9-1000849042.jpg)
Eistianah juga mengaku telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana terkait upaya penutupan tanggul-tanggul yang jebol. Ada tiga titik tanggul yang jebol, dua titik berada di Desa Trimulyo dan satu titik di Desa Sidoharjo. Pada setiap titik, panjang tanggul yang jebol berkisar 20-25 meter.
Terkait dengan normalisasi sungai, Eistianah mengaku sudah mengusulkan hal tersebut, baik ke pemerintah provinsi maupun ke BBWS.
”Tahun ini, sebenarnya memang ada rencana normalisasi, anggarannya Rp 50 miliar. Tetapi, anggarannya sudah berkurang untuk kemarin penanggulangan di titik yang jebol yang di perbatasan Grobogan dan juga penanganan tanggul jebol yang ini,” kata Eistianah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/06/70e5fb711bda7c65d6cdc03d1e4b33da-1000849049.jpg)
Sekretaris Daerah Provinsi Jateng Sumarno mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait jebolnya sejumlah tanggul sungai di Jateng. Menurut dia, penguatan tanggul dan normalisasi sungai merupakan kewenangan dari pemerintah pusat.
”Karena kalau sudah beda kewenangan itu, tata kelola keuangannya juga enggak mudah. Dan, kami juga enggak mau kalau meng-cover (pekerjaan yang menjadi) kewenangan dari pemerintah pusat,” ucapnya.
Menurut Sumarno, penanganan masalah banjir yang terjadi akibat jebolnya tanggul sungai yang kerap terjadi di Jateng dipicu oleh banyak faktor. Selain penanganan di wilayah tengah dan hilir, penanganan di wilayah hulu juga bakal dilakukan.
Untuk itu, dalam waktu dekat, Pemprov Jateng bakal mengumpulkan kepala daerah-kepala daerah yang wilayahnya berada di wilayah hulu, tengah, ataupun hilir sungai. Mereka akan diajak rapat untuk menyusun langkah-langkah pencegahan.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul