Banjir dan Bangunan Roboh Menjadi Ancaman Baru di Gaza

Potret pengungsi Gaza menghadapi musim hujan dan musim dingin.

17 Des 2025 09:28 WIB · Internasional

AFP/OMAR AL-QATTAA

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Beberapa anggota keluarga Hosari memeriksa bangunan yang roboh di Kota Gaza, Selasa (16/12/2025). Bangunan yang telah hancur itu terpaksa ia jadikan tempat tinggal saat Gaza memasuki musim Hujan.

Hujan deras berhari-hari yang melanda kawasan ini menyebabkan gedung yang ia tempati bersama-sama 30 pengungsi lain ambruk. Seorang pengungsi meninggal dalam peristiwa ini. Saat kejadian,  hanya terdapat sembilan pengungsi di dalam gedung.

Kejadian bangunan runtuh ini setidaknya telah menyebabkan 10 orang tewas selama sepekan terakhir. Ribuan warga Palestina terpaksa berpindah dari tenda-tenda ke sisa-sisa gedung yang masih berdiri di Gaza. 

Seorang wanita Palestina menggantung cucian di sebuah apartemen tanpa dinding yang rusak di Kota Gaza, Senin (15/12/2025).

Petugas penyelamat memperingatkan warga agar tidak menggunakan bangunan yang rusak karena rawan runtuh.  Namun, karena sebagian besar wilayah telah hancur menjadi puing-puing, hanya sedikit tempat yang bisa untuk berlindung dari hujan.

Pada Juli, Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan hampir 80 persen bangunan di Gaza telah hancur atau rusak parah. Gaza menerima curah hujan antara 60 mm dan 160 mm dalam seminggu terakhir, menurut Layanan Meteorologi Israel. Jumlah ini melonjak lebih dari dua kali lipat jumlah curah hujan rata-rata setahun.

Anggota keluarga Hosari memeriksa puing-puing mencari barang-barang mereka setelah rumah mereka runtuh di Kota Gaza, Selasa (16/12/2025).
Pemandangan tenda yang rusak di kamp darurat yang didirikan di pantai di Kota Gaza, Selasa (16/12/2025).
Seorang anak laki-laki Palestina berdiri di samping ibunya yang mencuci pakaian di kamp darurat di pantai di Kota Gaza, Selasa (16/12/2025).
Anak-anak berlarian di tengah hujan melewati perkemahan  di Kota Gaza, Senin (15/12/2025).
Pejalan kaki berlindung dari hujan di Kota Gaza, Senin (15/12/2025).

”Ketika mendengar berita tentang badai, kami mulai memikirkan ke mana harus pergi,” kata Mohammed Gharableh, seorang ayah yang mengungsi dari kota Rafah di selatan. Tenda yang dimilikinya terbuat dari kain dan air hujan akan masuk membasahi barang-barang di dalamnya.

Kementerian Kesehatan Gaza, pada Selasa mengatakan, seorang bayi berusia dua minggu meninggal karena hipotermia akibat cuaca buruk. Bayi tersebut dibawa ke rumah sakit beberapa hari yang lalu dan dipindahkan ke ruang perawatan intensif, tetapi meninggal pada Senin.

Warga Palestina mendorong mobil melewati air banjir setelah hujan lebat di Kota Gaza pada Senin (15/12/2025).

Bantuan dibutuhkan

Gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hamas yang mulai berlaku pada Oktober telah melonggarkan sebagian pembatasan barang dan bantuan, tetapi bantuan yang masuk ke Gaza masih belum mencukupi. PBB menyatakan, pada Senin diperkirakan 1,3 juta orang saat ini membutuhkan bantuan tempat tinggal di Gaza dan memperingatkan tentang meningkatnya risiko hipotermia.

Disebutkan bahwa bayi-bayi berada dalam bahaya tinggi, khususnya akibat kondisi musim dingin. ”Dengan hujan lebat dan udara dingin yang dibawa badai Byron, orang-orang di Jalur Gaza membeku hingga meninggal,” kata kepala badan bantuan Palestina PBB, Philippe Lazzarini, dalam sebuah unggahan di X pada Senin.

Warga Palestina mengendarai kereta yang ditarik kuda melalui banjir di Kota Gaza pada Senin (15/12/2025).
Warga Palestina menggunakan payung untuk melindungi dari hujan di Kota Gaza pada Selasa (15/12/2025).
 Warga Palestina berjalan melewati genangan setelah hujan lebat di Kota Gaza pada Senin (15/12/2025).
Sebuah mobil menerobos banjir setelah hujan lebat di Kota Gaza pada Selasa (15/12/2025).
Warga Palestina berjalan melewati genangan air di dekat tenda mereka setelah hujan lebat di Kota Gaza pada Selasa (15/12/2025).

Gaza yang terletak di antara Sinai dan gurun Negev di satu sisi, dan Laut Mediterania di sisi lainnya, dilanda hujan deras di akhir musim gugur dan musim dingin. Hujan juga mengubah jalan tanah menjadi lumpur dan membanjiri tenda-tenda di kamp-kamp pengungsi. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari