Tanggul jebol di beberapa sungai mengakibatkan sejumlah wilayah di Grobogan dan Demak terendam banjir. Jalan utama Semarang-Grobogan juga putus tergerus banjir.
17 Feb 2026 20:29 WIB · Lingkungan
Kompas
SEMARANG, KOMPAS — Banjir di Kabupaten Grobogan dan Demak, Jawa Tengah, belum surut hingga Selasa (17/2/2026). Sedikitnya 9.000 keluarga terdampak dalam bencana itu. Mereka diperkirakan menyambut awal Ramadhan di tengah banjir.
Banjir di dua wilayah itu terjadi akibat sejumlah tanggul sungai jebol setelah hujan deras pada Minggu (15/2/2026) malam hingga Senin (16/2/2026) dini hari.
Di Grobogan, ada 7 titik tanggul yang jebol, yakni 1 titik di Sungai Cabean, 3 titik di Sungai Jajar Baru, 1 titik di Sungai Jratun, dan 2 titik di Sungai Tuntang. Panjang kerusakan tanggul beragam, mulai dari 15 meter hingga 25 meter.
Pejabat pembuat komitmen Operasional dan Pemeliharaan Sumber Daya Air di Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana, Heri Santoso, mengatakan, penutupan tanggul-tanggul yang jebol masih terus diupayakan hingga Selasa.
Selama tiga hari ke depan, Heri mengatakan, fokus mereka untuk menutup tanggul. Setelahnya, mereka bakal menguatkan tanggul.
”Kalau penutupan tanggul itu nanti pakai pancang bambu dan gelugu, terus sama jumbo bag atau karung dari geotekstil yang diisi tanah. Kalau sudah tertutup, nanti baru kami melakukan penguatan dengan memasang bronjong di luar tanggul,” kata Heri saat dihubungi, Selasa (17/2/2026).
Selain mengatasi tanggul jebol, mereka juga bakal meninggikan tanggul-tanggul yang kritis di dua sungai itu. Pada Senin, air di kedua sungai itu limpas di beberapa titik. Peyebabnya, tanggul lebih rendah dari ketinggian air.
Dalam bencana ini, 42 desa di 10 kecamatan yang dihuni puluhan ribu jiwa dari 9.000 keluarga terdampak. Satu rumah juga dilaporkan rusak berat. Namun, tak ada warga yang dilaporkan mengungsi dalam kejadian itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/5762f047e8fbda72391c8821643924c8-1000778426.jpg)
Di samping itu, aspal di jalan utama Semarang-Grobogan di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, terkelupas akibat derasnya air dari Sungai Tuntang yang limpas. Kondisi itu membuat jalan tersebut putus, sama sekali tak bisa dilalui kendaraan.
Sementara itu, banjir juga terjadi di tujuh desa di empat kecamatan, seperti Mranggen, Sayung, Guntur, dan Kebonagung. Hingga Selasa, banjir di tiga desa sudah surut. Namun, empat desa lainnya masih terendam banjir 10-65 cm.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, Suprapto mengatakan, 6.151 unit rumah terendam banjir. Sebanyak 23.214 jiwa dari 6.806 keluarga terdampak.
Sejauh ini, ada 10 warga yang mengungsi akibat bencana itu. Namun, mereka sudah kembali ke rumah masing-masing pada Selasa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/b1a18746e3549bb465b8bc2456d77d63-1000778421.jpg)
”Di Demak, ada empat titik tanggul yang jebol, yaitu di satu titik di Sungai Cabean di Kecamatan Karangawen, satu titik di Sungai Cabean di Kecamatan Guntur, dan dua titik di Sungai Tuntang di Kecamatan Kebonagung,” ucap Suprapto.
Menurut Suprapto, penambalan tanggul belum bisa dilakukan pada Selasa. Sebab, arus sungai masih deras.
Menurut rencana, penambalan bakal mulai dilakukan pada Rabu (18/2/2026). Untuk mengurangi genangan di permukiman, BPBD Demak memobilisasi pompa air portabel ke sejumlah titik.
Dalam kunjungannya ke Grobogan, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meminta agar perbaikan tanggul yang jebol segera dilakukan. Selain itu, Luthfi juga menginstruksikan pemasangan jembatan armco agar jalur utama Semarang-Grobogan kembali tersambung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/10bf9ceffb20317b9b887e983816b1e7-1000778416.jpg)
”Yang penting jalan ini bisa dipakai dulu. Jalan ini sangat krusial bagi masyarakat karena sebagai jalur utama penghubung logistik dan jalur mudik lebaran,” ucap Luthfi.
Jembatan armco direncanakan tiba di Grobogan pada Selasa malam. Pemasangan dan pembangunannya diharapkan selesai dalam sepekan.
Sembari menunggu pemasangan jembatan armco, Luthfi meminta pihak kepolisian menyiapkan jalur-jalur alternatif. Informasi mengenai jalur alternatif itu juga diharapkan bisa disebarluaskan secara massif.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/a04a94190a107326fff7e31c81a9c19a-1000778428.jpg)
Dalam kesempatan itu, Luthfi juga meminta kepada Kementerian Pekerjaan Umum untuk menormalisasi Sungai Tuntang. Menurut dia, hal itu mendesak karena sedimentasi di sungai itu sangat tinggi.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jateng, lahan pertanian seluas 1.842 hektar di Grobogan terendam banjir.
Kepala Distanak Jateng Defransisco Dasilva Tavares menyebut akan mengidentifikasi tingkat kerusakan tanaman untuk memastikan berapa banyak yang mengalami puso.
”Petugas pengendali organisme pengganggu tanaman nanti cek di lapangan bahwa ini puso apa tidak. Sebab, kalau dalam kondisi terendam, kan, agak sulit untuk mendeteksi,” ujar Defransisco.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/3be238eceea9a3ccd6675d7a1a9eca12-1000778418.jpg)
Menurut Defransisco, apabila hasil pengecekan menyatakan terjadi gagal panen, laporan akan diteruskan kepada PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sebagai penanggung jawab program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Batas waktu pelaporan untuk pengajuan klaim adalah satu pekan.
"Petani yang terdampak diharapkan segera melaporkan kondisi lahannya. Paling tidak seketika kejadian sudah difoto, lapor dulu lewat SMS, Whatsapp, dan sebagainya. Kemudian baru petugas turun untuk mengecek lapangan kebenarannya," kata dia.
Defransisco mengatakan, belum seluruh petani terdaftar dalam program AUTP, sehingga belum semuanya memiliki perlindungan asuransi. Oleh sebab itu, pihaknya terus mendorong petani, terutama di wilayah yang berpotensi terdampak bencana agar segera mendaftarkan lahannya melalui penyuluh pertanian.
Di Jateng, menurut Defransisco, pernah terjadi gagal panen dengan luas lahan mencapai 35 ribu hektare pada tahun lalu. Meski demikian, kondisi tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap produksi padi secara keseluruhan.
Defransisco mengklaim, secara nasional, Jateng berada di peringkat ketiga sebagai penyumbang produksi padi terbesar pada 2025 dengan total produksi sekitar 9,3 juta ton gabah kering giling. Pihaknya pun optimistis capaian tersebut dapat ditingkatkan pada 2026.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim