Pemerintah Provinsi Jakarta berkomitmen untuk lebih fokus membenahi Sungai Ciliwung dan meminta warga untuk bersedia direlokasi ke rumah susun.
04 Mar 2025 19:36 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Luapan Sungai Ciliwung hingga Sungai Pesanggrahan membanjiri sebagian wilayah Jakarta hingga ketinggian air lebih dari 3 meter pada Selasa (4/3/2025). Terkait hal ini, Pemerintah Provinsi Jakarta berkomitmen untuk lebih fokus membenahi Sungai Ciliwung dan meminta warga yang tinggal di daerah rawan banjir untuk bersedia direlokasi ke rumah susun.
Malik (58) hanya bisa pasrah melihat rumahnya di RT 006 RW 007 Rawajati, Jakarta Selatan, Selasa (4/3/2025), yang hanya terlihat atapnya. Banjir merendam rumahnya hingga 3 meter akibat hujan deras dan luapan Sungai Ciliwung.
Pada Senin (3/3/2025) pagi, banjir sempat meredam rumah Malik, tetapi hanya sampai ketinggian air sekitar 60 sentimeter. Ia pun sudah selesai membersihkan rumahnya pada malam hari.
”Namun, tadi pagi pukul 07.00 WIB, tiba-tiba banjir datang lagi. Lebih dahsyat sampai (ketinggian) 3 meter lebih. Untungnya saya sudah siaga, barang-barang sudah saya pindahkan ke rumah tetangga,” ujarnya.
Ia mengatakan, banjir sudah menjadi tamu setiap tahun di Rawajati meski tidak selalu besar. Terakhir, Malik merasakan banjir besar pada tahun 2020. Kali ini, banjir besar datang lagi setelah lima tahun.
”Sebelum itu juga pernah terjadi banjir dahsyat pada tahun 2007 dan 2012,” tutur Malik.
Kisah serupa terjadi di Cililitan, Jakarta Timur. Ketua RT 016 RW 007 Cililitan, Cici Marlina, mengatakan, awalnya banjir di wilayahnya terjadi pada Senin (3/3/2025) pagi karena ada pintu air yang jebol. Air mulai surut sekitar pukul 21.00 WIB.
Akan tetapi, banjir kembali terjadi pada Selasa (4/3/2025) pagi dengan intensitas yang lebih tinggi. ”Pukul 05.00 WIB air masuk lagi ke rumah warga. Benar-benar kencang airnya, enggak ketampung. Luber dari Kali Ciliwung,” ujar Cici.
Pada Selasa siang, air masih menggenangi rumah-rumah warga di RW 007. Ketinggian air berbeda di setiap lokasi. Ada yang sampai 2 meter pada Selasa siang. Saat ini pihaknya membuka posko di depan kampus Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Pertiwi.
Cici mengungkapkan kekecewaannya atas penanganan masalah banjir di Jakarta yang belum memadai. Padahal, anggaran Jakarta terbilang besar.
”Bertahun-tahun anggaran Jakarta sangat besar untuk mengatasi banjir. Masak dengan satu masalah banjir saja tidak pernah teratasi. Mohon bantuannya,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/5d6952ce-b62b-4b3f-9c11-2986a64ce7d3_jpg.jpg)
Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Mohamad Yohan mengatakan, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur menjadi wilayah yang paling terdampak banjir di Jakarta pada Selasa (4/3/2025). Tinggi genangan air di kedua wilayah itu mencapai lebih dari 3 meter.
Yohan mengatakan, banjir yang terjadi saat ini mayoritas disebabkan oleh luapan Sungai Ciliwung. Selama dua hari terakhir juga terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang masif di wilayah Jawa Barat yang menyebabkan sungai-sungai di Jakarta meluap.
”Penyebab dari banjir di Jakarta adalah curah hujan tinggi serta luapan Sungai Pesanggrahan, Sungai Krukut, dan Sungai Ciliwung,” ujarnya.
Pada Selasa pukul 16.00 WIB, tinggi muka air di Sungai Ciliwung mencapai 80 sentimeter sehingga berstatus Siaga 4 banjir. Meski status Bendung Katulampa telah turun dari Siaga 1 ke Siaga 4, warga yang tinggal di daerah yang dilalui Sungai Ciliwung harus tetap waspada, mengingat masih adanya potensi hujan di wilayah Bogor, Depok, dan Jakarta.
Bendung Katulampa terletak di aliran Sungai Ciliwung di Kota Bogor, Jawa Barat. Dari Bendung Katulampa, sebagian air Sungai Ciliwung dialirkan lewat pintu air ke Kali Baru Timur. Dari Bogor Timur, air kemudian mengalir ke Jakarta, lalu ke Cimanggis, Depok, dan Cilangkap sebelum akhirnya bermuara di kawasan Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
BPBD Jakarta mencatat ada 122 RT dan dua ruas jalan di Jakarta yang terendam banjir hingga Selasa (4/3/2025) pukul 16.00 WIB. Angka ini meluas dari 105 RT pada Selasa siang. Wilayah yang terendam itu berada di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.
Sementara itu, dua jalan yang tergenang banjir adalah Jalan Basoka Raya, Kecamatan Joglo, Jakarta Barat, dengan ketinggian air mencapai 50 sentimeter. Selanjutnya, Jalan Puri Mutiara, Kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan, dengan ketinggian 1 meter.
BPBD mencatat, 1.792 jiwa mengungsi akibat bencana tersebut. Para pengungsi itu berasal dari Kelurahan Kampung Melayu, Kelurahan Bidara Cina, Kelurahan Cawang, Kelurahan Pejaten Timur, dan Kelurahan Cilandak Timur. Pengungsi terbanyak berasal dari Kelurahan Pejaten Timur, yakni mencapai 750 jiwa.
Menurut Yohan, tren banjir di Jakarta cukup fluktuatif. Ia memberikan contoh banjir di Kampung Melayu yang sempat surut, kemudian naik kembali karena luapan Sungai Ciliwung. Kondisi yang labil ini membuat BPBD kesulitan memprediksi situasi selanjutnya.
Meski demikian, kata Yohan, BPBD telah mengerahkan seluruh personel untuk menangani banjir kali ini. Selain itu, pihaknya berkoordinasi dengan pihak terkait lain, seperti Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta, serta TNI dan Polri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/04/0a2e7f18354f79b1084f002e53fa5af3-WhatsApp_Image_2025_03_04_at_18.26.09.jpeg)
Banjir juga melanda Kota Tangerang, Banten. BPBD Kota Tangerang mencatat 13 titik banjir dan genangan di Kota Tangerang. Situasi terparah terjadi di wilayah Ciledug Indah, yakni dengan ketinggian genangan hingga 1 meter lebih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Tangerang Andia S Rahman mengatakan, banjir terjadi karena hujan yang merata di wilayah Jabodetabek serta luapan Sungai Angke.
”(Di) Kota Tangerang terjadi antrean air. Di jalur Kali Angke terdapat kiriman dari Bogor. Dua kondisi inilah yang mengakibatkan wilayah Ciledug dan beberapa wilayah timur (Tangerang) meluap pagi ini. Jadi, untuk jadi perhatian dua hari ini ialah Sungai Cisadane dan Kali Angke,” kata Andia.
Sementara itu, banjir di sejumlah wilayah di Tangerang Selatan ketinggiannya bervariasi, mulai dari 20 sentimeter sampai 120 sentimeter (cm). Akibat banjir ini, 1.960 keluarga terdampak.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), banjir di Tangsel terjadi di 11 lokasi. Penyebabnya, intensitas hujan tinggi serta meluapnya Sungai Serua.
”Ada 11 titik banjir di Tangerang Selatan akibat hujan deras dan meluapnya Kali Serua,” ujar Danton Satgas BPBD Kota Tangsel Dian Wiriyawan.
Dari 11 titik, pada Selasa sore tinggal tiga titik yang belum surut, yakni di Jalan Ceger Taman Mangu, Kavling Bulak Pondok Kacang Timur, dan Kompleks Maharta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/67068508-3550-45bd-a360-de68d64fa477_jpg.jpg)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meyakini, banjir yang merendam kawasan di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi merupakan kiriman dari Puncak, Bogor. Ketinggian air mencapai 1 meter hingga 4 meter.
”Rata-rata banjir di Jakarta dan sekitarnya (merupakan) kiriman dari Puncak, Bogor, yang semuanya ini dialirkan dalam DAS (Daerah Aliran Sungai) Ciliwung,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto.
Menurut Guswanto, hujan deras yang mengguyur Kota Bogor pada Minggu (2/3/2025) malam tergolong ekstrem. Sebab, berdasarkan data hasil pemantauan tim meteorologi BMKG, ketebalan intensitas hujannya lebih dari 110 milimeter (mm) per hari.
BMKG menilai curah hujan ekstrem tersebut memungkinkan air DAS Ciliwung meluap. Luapan itu menjadi banjir bandang yang melanda sejumlah kecamatan di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor hingga terbawa ke hilir sungai di Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang.
Banjir di Kota Bekasi yang muka air tertingginya mencapai 4 meter, menurut Guswanto, terjadi karena daerah tersebut menerima air kiriman hulu DAS Ciliwung. Kemudian, ditambah adanya hujan deras dengan intensitas 165-208 mm per hari di beberapa wilayah di Bekasi.
”Hari ini di Sumur Batu, Bekasi, hujan hampir 208 mm per hari. Ini terjadi karena pertumbuhan awan konvektif yang cukup signifikan pada skala meso-sirkulasi siklonik yang mengakibatkan perlambatan angin dan seterusnya,” kata Guswanto.
Meski demikian, banjir Jakarta dan daerah sekitarnya ini masih relatif rendah jika dibandingkan dengan banjir yang terjadi pada 2020. Saat itu, BMKG mencatat curah hujan lokal di Jakarta sangat ekstrem dengan ketebalan 377 mm per hari.
Meskipun demikian, BMKG sedang berkoordinasi dengan lembaga terkait guna membahas kebutuhan operasi modifikasi cuaca sebagai upaya mengendalikan potensi hujan dan mendukung percepatan pemulihan dampak bencana.
Sebab, pada periode 4-11 Maret 2025, hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek. BMKG mendeteksi adanya peningkatan aktivitas atmosfer yang berpotensi mengakibatkan hujan deras mengguyur sebagian besar daerah di Jawa bagian barat dalam sepekan ke depan, termasuk Provinsi Jakarta.
Guswanto pun meminta masyarakat selalu memantau informasi kondisi cuaca secara berkala untuk mengantisipasi dampak dari dinamika atmosfer yang terus berkembang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/b24d9f76-306a-4cb3-a703-19ed790e9c62_jpg.jpg)
Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno mengatakan, pengerukan waduk dan sungai-sungai masuk dalam program 100 hari kerjanya bersama Pramono Anung. Dengan Program Strategis Nasional (PSN) pengendalian banjir, pihaknya akan lebih fokus untuk membenahi Ciliwung.
Menurut Rano, Pemprov Jakarta mendapat anggaran cukup besar dari pemerintah pusat terkait PSN untuk pengendalian banjir. Hal ini diharapkan dapat mempercepat penanganan banjir yang selama ini terkendala oleh keterbatasan anggaran daerah.
Akan tetapi, Rano tidak merinci berapa anggaran yang digelontorkan untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jakarta telah memulai program pengerukan di 17 sungai dan kanal untuk mencegah banjir. Pengerukan melibatkan 1.000 petugas menggunakan 122 alat berat dan 84 alat pendukung lainnya.
Rano mengatakan, pengerukan akan berlangsung hingga Agustus 2025 dan kegiatan ini akan tetap dilanjutkan meski memasuki bulan Ramadhan.
Pengerukan dilakukan secara periodik dan tidak hanya setiap enam bulan sekali. Dalam pengerukan ini, ditargetkan 1 juta meter kubik sedimen lumpur bisa diangkut.
Selain itu, Rano meminta warga Jakarta yang tinggal di daerah rawan banjir bersedia direlokasi ke rumah susun (rusun). Pindah ke rusun jadi solusi paling realistis untuk mencegah warga terdampak banjir.
Meski demikian, ia mengakui minat warga pindah ke rusun masih rendah meski mereka berkali-kali terdampak banjir.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Mukhamad Kurniawan