Kompas.id Brief

Banjir Jabodetabek, Bagaimana Situasi Terkini dan Apa Penyebabnya?

Banjir di Jabodetabek diperkirakan masih berlanjut. Bekasi bahkan sempat lumpuh. Apa penyebab bencana ini dan bagaimana situasinya saat ini?

05 Mar 2025 08:00 WIB · Metro

Oleh TIM KOMPAS

Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini:

  1. Banjir merata di Jabodetabek, mengapa bisa terjadi?
  2. Bagaimana kondisi Bekasi terkini?
  3. Apa yang terjadi di Kota Bogor?
  4. Bagaimana dengan kawasan hulu di Puncak, Kabupaten Bogor?
  5. Seberapa luas wilayah Jakarta yang terendam banjir?
  6. Seperti apa kerusakan kawasan hulu-hilir pemicu bencana Jabodetabek?
  7. Bagaimana kepala daerah baru bertindak agar bencana Jabodetabek tak terus berulang?

Banjir merata di Jabodetabek, mengapa bisa terjadi?

copy title

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan telah memberikan peringatan potensi hujan amat lebat hingga ekstrem untuk sejumlah wilayah di Indonesia dalam dua hari terakhir. Namun, pemerintah daerah dinilai lambat merespons.

Intensitas hujan diprediksi masih akan tinggi, khususnya di bagian barat Indonesia dan Papua, seiring terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Selasa (4/3/2025), mengatakan telah secara aktif memberikan informasi cuaca terkini di daerah yang dilanda hujan lebat hingga ekstrem itu.

Namun, kesiapan daerah dalam merespons peringatan dini masih perlu ditingkatkan guna mengurangi dampak bencana yang dapat mengancam keselamatan masyarakat.

Peran serta pemerintah daerah dalam mitigasi bencana amat krusial, terutama dalam memastikan tiap peringatan dini ditindaklanjuti dengan langkah antisipatif di lapangan.

Bagaimana kondisi Bekasi terkini?

copy title

Luapan air dari Kali Bekasi membanjiri nyaris seluruh wilayah Kota Bekasi di Jawa Barat. Aktivitas warga tersendat, bahkan lumpuh di sebagian wilayah, karena permukiman hingga pusat perbelanjaan terendam banjir hingga lebih dari 3 meter. Warga menanti solusi konkret dari pemerintah.

Kali Bekasi meluap karena hujan deras di kawasan hulu (Bogor) dan hujan lokal di Kota Bekasi. Setidaknya 20 titik pada tujuh kecamatan kebanjiran hingga Selasa (4/3/2025) sore. Banjir menerjang Mal Mega Bekasi, perumahan, jalan raya, sampai Stasiun Bekasi.

Pondok Gede Permai dan Villa Jatirasa paling terdampak dengan ketinggian banjir hingga lebih dari 3 meter. Dua perumahan ini persis di bantaran kali dengan pemisah tanggul tembok setinggi lebih dari 2 meter.

Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe menuturkan, hampir seluruh kecamatan terdampak banjir sehingga kantor kecamatan menjadi posko-posko pengungsian dan kesehatan serta dapur umum.

”Total pengungsi 5.000 keluarga, sedangkan jumlah jiwa yang terdampak sampai 16.000 keluarga,” ujar Abdul.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, banjir kali ini menyebabkan Kota Bekasi lumpuh. Ketinggian air bahkan melampaui biasanya, yaitu lebih dari 5 meter.

”Saat ini fokus evakuasi dan menangani pengungsi. Sudah ada bantuan dari BNPB dan kami optimalkan yang ada,” ucap Tri.

Apa yang terjadi di Kota Bogor?

copy title

Ruas jalan menuju Stasiun Batutulis, Kota Bogor, Jawa Barat, rusak akibat longsor yang dipicu hujan sejak Senin (2/3/2025). Operasionalisasi stasiun dihentikan sementara. Longsor juga terjadi di sejumlah daerah di Bogor yang membahayakan sejumlah warga yang tinggal dekat aliran Sungai Ciliwung-Cisadane. Di lokasi lainnya, seorang bayi usia 11 bulan jadi korban longsor.

Manajer Hubungan Masyarakat Kereta Api Indonesia Daerah Operasi I Ixfan Hendriwintoko menyebutkan, jalan utama yang menjadi akses utama warga menuju Stasiun Batutulis ambles sebanyak dua kali, yakni pada pukul 00.10 WIB, dan pukul 03.00 WIB, Selasa (4/3/2025). Jalan ini biasa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat.

Dari pantauan di lokasi, batas tebing tanah yang menahan jalan ambles ke arah stasiun. Akibat hal tersebut, timbul retakan di jalan sepanjang sekitar 50 meter. Dengan kondisi tersebut, operasionalisasi Stasiun Batutulis dihentikan sementara. Garis polisi pun sudah dipasang di ruas jalan rusak menuju stasiun. Ixfan menyebutkan, jarak antara titik retakan dari stasiun diperkirakan sekitar 300 meter.

Bagaimana dengan kawasan hulu di Puncak, Kabupaten Bogor?

copy title

Kawasan hulu sungai-sungai di Jabodetabek, yaitu Puncak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terus-menerus diterjang bencana dalam satu dekade terakhir. Sungai meluap, banjir bandang, dan longsor selalu menimpa kawasan ini, terkadang sampai memakan korban jiwa, luka, maupun kerugian materiil.

Terakhir, sebanyak 346 warga masih mengungsi dan 204 rumah terdampak banjir yang dipicu hujan lebat di kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (4/3/2025). Bencana ditengarai terjadi akibat sungai yang menyempit karena pembangunan hunian warga yang kian masif. Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat hingga Senin (17/3/2025).

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan, per Selasa, 346 warga masih mengungsi di Cisarua.

Banjir di kawasan ini terjadi pada Minggu (2/3/2025) malam. Hujan deras di kawasan Puncak menjadi salah satu pemicunya. Akibatnya, Kali Ciliwung yang tidak mampu menampung debit air pun meluap sehingga merendam rumah warga di bantaran kali.

Akibat peristiwa ini, 204 rumah warga terdampak. BNPB mencatat, 16 rumah rusak berat, 24 rumah rusak ringan, dan 1 rumah rusak sedang.

”Seiring dengan perkembangan bencana di sejumlah daerah, BNPB mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa.

Agar tidak terus berulang, warga yang tinggal di bantaran sungai akan diupayakan agar dapat direlokasi ke tempat yang lebih aman.

Seberapa luas wilayah Jakarta yang terendam banjir?

copy title

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta Mohamad Yohan mengatakan, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur menjadi wilayah yang paling terdampak banjir di Jakarta pada Selasa (4/3/2025). Tinggi genangan air di kedua wilayah itu mencapai lebih dari 3 meter.

Yohan mengatakan, banjir yang terjadi saat ini mayoritas disebabkan oleh luapan Sungai Ciliwung. Selama dua hari terakhir juga terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang masif di wilayah Jawa Barat yang menyebabkan sungai-sungai di Jakarta meluap.

”Penyebab dari banjir di Jakarta adalah curah hujan tinggi serta luapan Sungai Pesanggrahan, Sungai Krukut, dan Sungai Ciliwung,” ujarnya.

Pada Selasa pukul 16.00 WIB, tinggi muka air di Sungai Ciliwung mencapai 80 sentimeter sehingga berstatus Siaga 4 banjir. Meski status Bendung Katulampa telah turun dari Siaga 1 ke Siaga 4, warga yang tinggal di daerah yang dilalui Sungai Ciliwung harus tetap waspada, mengingat masih adanya potensi hujan di wilayah Bogor, Depok, dan Jakarta.

Bendung Katulampa terletak di aliran Sungai Ciliwung di Kota Bogor, Jawa Barat. Dari Bendung Katulampa, sebagian air Sungai Ciliwung dialirkan lewat pintu air ke Kali Baru Timur. Dari Bogor Timur, air kemudian mengalir ke Jakarta, lalu ke Cimanggis, Depok, dan Cilangkap, sebelum akhirnya bermuara di kawasan Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

BPBD Jakarta mencatat ada 122 RT dan dua ruas jalan di Jakarta yang terendam banjir hingga Selasa (4/3/2025) pukul 16.00 WIB. BPBD mencatat, 1.792 jiwa mengungsi akibat bencana tersebut. 

Seperti apa kerusakan kawasan hulu-hilir pemicu bencana Jabodetabek?

copy title

Hampir seluruh area tangkapan Daerah Aliran Sungai Ciliwung mengalami kerusakan dari hulu hingga hilir. Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagai hulu DAS Ciliwung, yang selama ini dianggap penyuplai banjir kiriman bagi Jakarta, ternyata berkontribusi 8 persen terhadap banjir Jakarta. Selebihnya, banjir Jakarta bersumber dari permasalahan di zona tengah hingga hilir DAS.

Selama kurun waktu 2013-2018, berdasarkan pemetaan lahan kritis yang dilakukan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai-Hutan Lindung (BPDAS-HL) Citarum Ciliwung, lahan kritis di area tangkapan air Sungai Ciliwung kian meluas dan memburuk.

Pada 2013, lahan kritis di hulu DAS tercatat seluas 63 hektar dan lahan agak kritis sekitar 7.400 hektar. Lima tahun kemudian, 2018, bagian tengah zona hulu yang berada di kawasan Puncak, meliputi Kecamatan Megamendung dan Cisarua, kondisi lahannya menjadi sangat kritis dengan luas areal tak kurang dari 4.600 hektar, hampir separuh luas kedua kecamatan itu.

Begitu pula di zona tengah DAS, mulai dari Bendung Katulampa hingga Cijantung, Jakarta Timur, kondisinya juga memburuk. Ditemukan sejumlah titik lokasi di zona itu lahannya mulai berubah menjadi agak kritis pada 2018.

Menurut ahli hidrologi IPB University, Hidayat Pawitan, kurang tepat menyebut banjir Jakarta disebabkan oleh persoalan hulunya di Puncak.

Untuk itu, jika ingin menangani banjir Jakarta juga Bodetabek dengan tepat, pemulihan keseimbangan lingkungan dan pembangunan yang terintegrasi se-Jabodetabek mendesak dilakukan.

Bagaimana kepala daerah baru bertindak agar bencana tak terus berulang?

copy title

Sejumlah bencana alam terjadi di berbagai daerah di Jawa Barat, setidaknya dalam sepekan terakhir. Ada banjir dan banjir bandang memakan korban jiwa hingga longsor dan tanah ambles yang memicu pengungsian. Kepala daerah, meski baru menjabat, diminta lebih sigap menghadapi kejadian bencana ini.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan, penanganan pascabencana telah dilakukan. Koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BPBD Jabar dengan BPBD kota/kabupaten telah dilakukan. Bentuknya seperti penanganan di lokasi bencana hingga bantuan logistik. Ke depan, dia berharap mitigasi tetap diutamakan. 

Dedi menduga salah satu penyebab bencana banjir bandang di Puncak akibat alih fungsi lahan. Padahal, kawasan Puncak semestinya dimanfaatkan untuk perkebunan teh maupun perhutanan sehingga punya daya resapan air yang baik dan tidak memicu terjadinya bencana.

Oleh karena itu, dia akan segera melakukan inspeksi ke Puncak bersama Menteri Lingkungan Hidup. Hasil kunjungan, ujar Dedi, bakal menjadi bekal untuk mengambil keputusan penting selanjutnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati menegaskan, peran pemerintah daerah dalam mitigasi bencana sangat krusial. Itu terutama dalam memastikan setiap peringatan dini ditindaklanjuti dengan langkah antisipatif di lapangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

TIM KOMPAS
 | 

Editor:

Neli Triana