Banjir Jakarta Bukan Hanya karena Puncak yang Rusak

Lahan kritis di area tangkapan air Sungai Ciliwung kian meluas dan memburuk. Kondisi ini memicu potensi banjir di Jakarta dan sekitarnya.

04 Mar 2025 16:51 WIB · Investigasi

Oleh Madina Nusrat, Benediktus Krisna Yogatama, Dhanang David Aritonang

Tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas pada Jumat, 5 Februari 2021. Lantaran bencana banjir kembali melanda Jakarta dan sekitarnya, liputan investigasi ini diterbitkan lagi. Tujuannya agar semua pihak menyadari bahwa bencana ini perlu penanganan serius.

JAKARTA, KOMPAS — Hampir seluruh area tangkapan Daerah Aliran Sungai Ciliwung mengalami kerusakan dari hulu hingga hilir. Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagai hulu DAS Ciliwung, yang selama ini dianggap penyuplai banjir kiriman bagi Jakarta, ternyata berkontribusi 8 persen terhadap banjir Jakarta. Selebihnya, banjir Jakarta bersumber dari permasalahan di zona tengah hingga hilir DAS.

Selama kurun waktu 2013-2018, berdasarkan pemetaan lahan kritis yang dilakukan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai-Hutan Lindung (BPDAS-HL) Citarum Ciliwung, lahan kritis di area tangkapan air Sungai Ciliwung kian meluas dan memburuk.

Pada 2013, lahan kritis di hulu DAS tercatat seluas 63 hektar dan lahan agak kritis sekitar 7.400 hektar. Lima tahun kemudian, 2018, bagian tengah zona hulu yang berada di kawasan Puncak, meliputi Kecamatan Megamendung dan Cisarua, kondisi lahannya menjadi sangat kritis dengan luas areal tak kurang dari 4.600 hektar, hampir separuh luas kedua kecamatan itu.

Begitu pula di zona tengah DAS, mulai dari Bendung Katulampa hingga Cijantung, Jakarta Timur, kondisinya juga memburuk. Ditemukan sejumlah titik lokasi di zona itu lahannya mulai berubah menjadi agak kritis pada 2018.

Menurut ahli hidrologi IPB University, Hidayat Pawitan, kurang tepat menyebut banjir Jakarta disebabkan oleh persoalan hulunya di Puncak.

infografik Skema Pengendalian Banjir Jakarta

Sebab, zona hulu DAS Ciliwung seluas 146 kilometer persegi atau sekitar 15.000 hektar. Sementara zona tengah dan hilir seluas 200 kilometer persegi atau sekitar 22.000 hektar. Hampir semua zona DAS mengalami alih fungsi lahan, yang kini didominasi oleh bangunan fisik.

Kawasan yang telah berubah menjadi urban, menurut Hidayat, umumnya koefisien limpasan air permukaannya di atas 90 persen atau daya serap tanah terhadap air tinggal 10 persen.

”Dari hulu sampai Katulampa, luasnya 146 kilometer persegi. Setelah Katulampa, masih ada 200 kilometer persegi (zona tengah dan hilir) dan itu lebih dari separuh (zona hulu). Jadi, sebetulnya yang menyebabkan banjir (Jakarta) ya dari Katulampa ke hilir, land use-nya itu sudah develop semua, sudah urban semua,” katanya di Jakarta, awal Desember tahun lalu.

<p>infografik investigasi lahan kritis puncak lipsus</p>

Pertumbuhan permukiman

Peta penutupan lahan di sepanjang area tangkapan air DAS Ciliwung dari hulu hingga hilir, selama 1996-2016, menunjukkan pertumbuhan permukiman yang pesat di zona tengah dan hilir DAS. Permukiman juga tumbuh pesat di zona hulu, tetapi masih menyisakan areal pertanian lahan kering, sawah, perkebunan, dan hutan.

Hasil kajian yang dilakukan Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPTKPDAS) Surakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menunjukkan kontribusi limpasan air dari zona hulu terhadap banjir Jakarta sebesar 8 persen dan zona tengah DAS menyumbang 9 persen.

Total kontribusi banjir Jakarta dari DAS Ciliwung dan daerah sekitarnya 24 persen. Sumbangan banjir Jakarta selebihnya berasal dari DAS Kali Angke (19 persen), DAS Kali Krukut (13 persen), dan sisanya di antaranya dari drainase yang kurang memadai.

Kepala BPDAS-HL Citarum Ciliwung Pina Ekalipta mengatakan, kerusakan lingkungan di DAS Ciliwung sudah parah. Selama kepentingan ekonomi mengalahkan ekologi, maka pembenahan DAS Ciliwung selalu menghadapi kendala.

Bantaran Sungai Ciliwung yang sudah sebagian di normalisasi di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan (atas) dan yang belum di Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (27/2/2023). Ciliwung sebagai sebuah sungai purba menjadi saksi kehidupan manusia yang tinggal di sepanjang tepiannya dan menjadikannya sumber kehidupan sejak ratusan, bahkan ribuan tahun silam. Sungai Ciliwung yang panjangnya mencapai 130 kilometer adalah salah satu dari 13 sungai yang melintasi Ibu Kota. Kepedulian masyarakat dan pemerintah diharapkan dapat menjaga kelestariannya dari kerusakan dan pencemaran yang semakin parah. Bencana banjir dan longsor di sejumlah daerah aliran sungai atau DAS terus meningkat selama 10 tahun terakhir. Ada 80,9 juta jiwa penduduk Indonesia tinggal di DAS berisiko bencana sangat tinggi. Upaya pemerintah memulihkan 15 daerah aliran sungai atau DAS prioritas sejak 2015 belum membuahkan hasil maksimal. Pasca-penetapan status menjadi DAS prioritas, jumlah bencana hidrometeorologi di aliran sungai tersebut justru terus meningkat. Terdapat 15 DAS yang dinilai kritis kondisi ekologisnya dan ditetapkan menjadi prioritas pemulihan, salah satunya yakni Ciliwung (Jawa Barat dan DKI Jakarta). KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 27-2-2023

Untuk mengendalikan banjir di Jakarta, kini sedang dibangun Waduk Sukamahi di Gadog, Kabupaten Bogor. Bendungan itu memiliki daya tampung 1,68 juta meter kubik sehingga dapat mengurangi kiriman air menuju Jakarta hingga 29 meter kubik per detik.

Direktur Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN Budi Situmorang, yang menjadi bagian dalam Project Management Officer (PMO) Bopunjur, mengatakan, Bendungan Sukamahi tidak memiliki fungsi konservasi karena lebih soal pengendalian debit air dari Puncak ke Jakarta.

Ketua Umum Yayasan Peduli Hutan Indonesia Transtoto Handadhari mengingatkan, Jakarta dan Puncak harus dijadikan satu pengelolaan DAS. Sebab, DAS itu merupakan satu kesatuan topografi dan ekosistem. Pembenahan dan perbaikan lingkungan harus simultan dari hulu ke hilir.


Kerabat Kerja

Penulis:

Madina Nusrat, Benediktus Krisna Yogatama, Dhanang David Aritonang
 | 

Editor:

Andy Riza Hidayat