Banjir telah surut dan menyisakan banjir berupa lumpur pekat menggenangi lantai rumah serta jalanan di Jakarta.
05 Mar 2025 18:28 WIB · Metro
Banjir di sejumlah wilayah Jakarta mulai berangsur surut pada Rabu (5/3/2025) siang. Bagi warga, ini bukan bencana terparah yang pernah mereka alami. Meski demikian, ribuan warga terdampak harus berjibaku untuk membersihkan rumah dan halaman dari sisa-sisa lumpur.
Rumah salah satu warga RT 005 RW 005 Pejaten Timur, Abdul (43), yang bersebelahan dengan SDN 22 Pejaten Timur, sempat terendam banjir hingga setinggi 3 meter pada Selasa (4/3/2025). Pada Rabu (5/3/2025) siang, genangan air di sekitar rumahnya sudah surut.
Namun, sisa banjir berupa lumpur pekat masih menggenangi lantai dasar rumah serta jalan di Pejaten Timur, serta aliran listrik masih padam. Abdul dan warga Pejaten Timur lainnya pun bergotong royong mengeluarkan lumpur dan sampah yang mengendap.
Sembari membersihkan lumpur, Abdul memilah perabotan rumah tangga serta barang yang masih bisa digunakan atau diperbaiki.
Banjir kali ini bukan banjir terparah yang pernah dialami Abdul selama tinggal di Pejaten Timur. Pada tahun 2007, ia pernah merasakan banjir terparah hingga atap rumahnya tidak terlihat.
”Namun, Selasa kemarin kami sempat kecele karena banjir sudah surut pada pagi harinya, tetapi tiba-tiba air kembali naik pada siang hari,” ujar Abdul.
Untuk itu, warga memutuskan bergantian berjaga. Sebab, air dari Kali Ciliwung bisa naik dalam waktu sangat cepat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/50b17045-dfdd-4d32-b189-2ef5f2487b3d_jpg.jpg)
”Tidak berani bersih-bersih rumah dulu kalau masih ada hujan, takut banjir lagi. Yang terpenting dokumen disatukan dalam satu tas, jadi pas air naik, kita lari langsung bawa tas itu,” ujar Abdul.
Hingga Rabu sore, Abdul dan ratusan warga masih mengungsi di halaman SDN 22 Pejaten Timur. Selain halaman, beberapa kelas sekolah dialihfungsikan sebagai tempat beristirahat sementara. Beruntung aktivitas belajar mengajar masih libur karena awal puasa.
Ketua RT 005 RW 005 Pejaten Timur Suwardi mengatakan, terdapat 350 warganya yang masih mengungsi. Mereka ditempatkan di tiga posko berbeda karena kapasitas yang terbatas. Saat ini, korban membutuhkan listrik untuk beraktivitas dan mendapatkan air.
Sebagian warga Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, juga mulai membersihkan rumah meski sebagian area ini masih digenangi banjir dangkal.
”Sudah mulai surut sejak subuh tadi, sekarang kami sedang bersih-bersih, tapi listrik memang belum nyala,” kata Rifaldi (29), warga Rawajati.
Rifaldi mengatakan bahwa Rawajati memang rawan banjir, tetapi banjir kali ini dinilai luar biasa tinggi, bahkan mencapai atap rumahnya. Rifaldi berharap ada solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah banjir di wilayahnya.
Ia juga berharap ada bantuan obat-obatan. Sebab, ia khawatir penyakit kulit menyebar akibat kondisi lingkungan yang kotor.
Pada Rabu (5/4/2025) pukul 16.00 WIB, BPBD Jakarta mencatat masih ada genangan di 24 RT. Rinciannya, di Jakarta Barat terdapat 3 RT yang masih tergenang, yakni Kelurahan Rawa Buaya (2 RT) dengan ketinggian 100 cm akibat curah hujan tinggi dan luapan Kali Angke. Kemudian, Kelurahan Kembangan Utara (1 RT) dengan ketinggian 80 cm akibat luapan Kali Angke.
Selanjutnya, masih ada 10 RT yang tergenang di Jakarta Selatan, yakni Kelurahan Pengadegan (4 RT), dengan ketinggian 150 cm akibat luapan Kali Ciliwung. Lalu, Kelurahan Bintaro (6 RT) dengan ketinggian 30-50 cm akibat luapan Kali Pesanggrahan.
Kemudian, di Jakarta Timur terdapat 11 RT yang masih kebanjiran, yakni Kelurahan Bidara Cina (1 RT) dengan ketinggian 30 cm akibat luapan Kali Ciliwung. Lalu, Kelurahan Kampung Melayu (4 RT) dengan ketinggian 90 cm akibat luapan Kali Ciliwung.
Selanjutnya, di Kelurahan Cawang (5 RT) dengan ketinggian 100 cm akibat luapan Kali Ciliwung. Lalu, Kelurahan Cililitan (1 RT) dengan ketinggian 50 cm akibat luapan Kali Ciliwung.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/05/42839ee3-1e11-4e6c-a610-b10dd5f3a56e_png.png)
Gubernur Jakarta Pramono Anung telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi banjir. Ia menekankan perlunya pendekatan komprehensif dalam menangani banjir. Bukan sekadar solusi jangka pendek, melainkan juga strategi jangka menengah dan panjang.
Pramono akan membangun sumur resapan, tetapi dengan pendekatan yang berbeda dari era Anies Baswedan. Sebab, sumur resapan pernah menjadi kontroversi saat diterapkan di era Anies karena dibangun di jalan raya, yang justru membahayakan pengguna jalan.
Pramono menegaskan bahwa sumur resapan kali ini akan dibuat di saluran-saluran air, bukan di jalan.
”Untuk jangka panjang pengerukan kali juga dilakukan, sodetan dilanjutkan kembali, sumur resapan tidak lagi dibuat di jalan, tetapi di saluran-saluran air,” kata Pramono.
Pramono telah menginstruksikan Dinas Sumber Daya Air (SDA) agar membuka pintu-pintu air untuk mengurangi beban air, terutama di wilayah Ciliwung. Melalui pembukaan sejumlah Pintu Air Manggarai, debit air yang merendam di sejumlah daerah akan mulai berkurang.
Pramono juga memerintahkan untuk mengaktifkan seluruh pompa air di 200 titik guna mempercepat pembuangan air ke laut. Selain itu, modifikasi cuaca juga akan segera dilakukan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengalihkan curah hujan ke laut.
Pramono menjelaskan bahwa 90 persen banjir di Jakarta berasal dari daerah hulu, bukan dari curah hujan di Jakarta. Namun, ia menegaskan bahwa Pemprov Jakarta tidak akan menyalahkan daerah lain dan tetap mengambil tanggung jawab penuh dalam penanganan banjir.
Sebagai langkah antisipasi, Pramono juga mengaktifkan Kampung Siaga Bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi risiko banjir.
Terlebih, banjir pada Selasa (4/3/2025) telah memakan korban, yakni A (bocah berusia 3 tahun). Kisah pilu ini bermula saat korban dan keluarganya akan dievakuasi menggunakan perahu karet pada Selasa (4/3/2025) pukul 14.51 WIB. Saat dalam perjalanan menuju tempat evakuasi, perahu terbalik akibat arus deras.
Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Selatan Syamsul Huda mengatakan, anak laki-laki tersebut ditemukan dan dievakuasi pada Rabu (5/3/2025) pukul 01.00 WIB tidak jauh dari titik awal korban terbawa arus. Selanjutnya, warga mengevakuasi korban ke rumah neneknya di Gang Perintis RT010 RW010, Tebet, Jakarta Selatan.
Pencarian A sulit dilakukan karena cuaca, arus kali yang meluap, hingga akses mobilitas perahu yang sempit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/05/1d3f083b779174d7be1e4a55f9fa6bcb-WhatsApp_Image_2025_03_05_at_17.20.22.jpeg)
Sementara itu, anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, August Hamonangan, menerima pengaduan dari warga Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan, yang berada di bantaran Kali Ciliwung bahwa alat peringatan dini banjir di daerah itu rusak atau tidak berfungsi.
”Kami mendapatkan laporan bahwa alat pengeras suara di Pengadegan tidak berbunyi. Padahal, ketinggian air di Bendung Katulampa saat itu sudah mencapai titik kritis,” kata August.
August menyayangkan ketidakmampuan Pemprov DKI Jakarta untuk memastikan alat peringatan dini banjir berfungsi secara optimal. Ia pun meminta Pemprov DKI Jakarta memastikan kesiapan alat-alat peringatan dini banjir yang ada menyusul kejadian tersebut.
Ia juga menyayangkan alat yang begitu mahal harganya ternyata tidak bisa berfungsi dengan baik. Padahal, alat tersebut untuk memberikan peringatan dini kepada warga sehingga mereka punya jeda waktu untuk bersiap-siap menghadapi banjir.
Selain itu, ia juga mendorong Pemprov DKI Jakarta untuk menggencarkan pembangunan infrastruktur pengendali banjir di sekitar DKI Jakarta.
Pemprov DKI Jakarta juga harus melakukan evaluasi, jika pengadaan alat peringatan dini kurang efektif, anggarannya bisa difokuskan untuk membangun waduk, polder, dan embung yang bisa berfungsi sebagai tempat parkir air.
”Ini bisa mengurangi kemungkinan air meluap dan mengakibatkan banjir. Selain itu, normalisasi kali-kali juga harus dilakukan terus,” ujarnya.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Neli Triana