Banjir Lagi, Pening Lagi

Jakarta dilanda banjir lagi hingga ketinggian air mencapai 3 meter lebih. Banjir mengakibatkan 3.419 warga mengungsi.

05 Mar 2025 14:08 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

Banjir datang lagi. Terjangannya tanpa ampun, merendam rumah-rumah, menghanyutkan harta benda yang susah payah dikumpulkan bertahun-tahun, sehingga orang-orang mengungsi demi keselamatan jiwa.

Cerita tentang banjir tak berhenti di situ. Setelah air mulai surut, warga terdampak, seperti di Bidara Cina, Jakarta Timur, masih harus menata kembali kehidupan untuk bangkit dari sisa banjir.

GOR Jakarta Timur atau GOR Otista penuh dengan pengungsi banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat ada 737 pengungsi hingga Rabu (5/3/2025) siang.

Yati (58) dan Nuryanti (50), di antaranya. Mereka warga RT 009 RW 007 yang mengungsi sejak Selasa karena hujan deras dan luapan Kali Ciliwung merendam permukiman di bantaran.

”Kemarin air naik, terus makin tinggi, sampai rumah saya tenggelam,” kata Yati.

Rumahnya semipermanen, terdiri atas dua lantai. Terjangan air merusak papan-papan rumah dan menghanyutkan barang-barang di dalamnya.

Rabu pagi air mulai surut, tetapi menyisakan lumpur tebal. Yati butuh peralatan ekstra untuk membersihkan rumah yang dihuni bersama empat anak dan menantu, serta cucunya.

”Saya enggak punya semprot air listrik, jadi bersihin pakai alat seadanya,” ujar Yati. Untuk membersihkan rumah, ia memperkirakan butuh waktu hingga dua minggu.

Bisa jadi bersih-bersih bakal lebih lama. Sebab, menantunya harus masuk RS Polri Kramat Jati karena gangguan paru-parunya kumat akibat kedinginan saat menerjang banjir.

Suasana pengungsian korban banjir di GOR Jakarta Timur, Bidara Cina, Rabu (5/3/2025). Sebanyak 205 keluarga atau 737 warga mengungsi di GOR ini karena banjir setinggi hingga 3 meter.

Yati sangat mengharapkan bantuan pemerintah. Apalagi ia merupakan orangtua tunggal yang bekerja sebagai buruh cuci keliling dengan pemasukan Rp 900.000 per bulan.

”Buat ganti barang-barang yang rusak enggak ada duit. Mau beli papan buat perbaiki rumah juga enggak ada,” kata Yati.

Ia lantas merogoh kantong dan menunjukkan uang Rp 50.000. Sambil tertawa, ia mengatakan hanya pecahan itu yang tersisa sehingga jika memungkinkan pemerintah bisa memberikan bantuan tunai.

Pengerukan

Nuryanti, tetangganya pun mengalami nasib serupa. Bahkan, sebagian rumahnya hanyut terbawa arus.

”Belakang rumah saya langsung nempel dengan kali. Makanya pada copot papannya. Untung enggak ada buaya,” kata Nur, begitu sapaannya yang mencoba mencairkan suasana di tengah kesulitan.

Banjir kali ini lebih parah dibandingkan tahun 2020. Dulu ketinggian air hanya merendam lantai satu. Kini rumah-rumah sampai tenggelam.

Ia berharap Kali Ciliwung segera dikeruk untuk mengurangi dampak banjir. Sebab, pengerukan sudah dijanjikan sejak lama, tetapi urung terwujud.

Petugas Prasarana dan Sarana Umum membersihkan sisa-sisa sampah di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (5/3/2025). Warga membersihkan lumpur dan tempat tinggalnya seusai banjir surut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sejumlah daerah mulai surut dan tersisa 37 RT yang masih terendam banjir per pukul 11.00 WIB. Warga yang mengungsi mulai kembali ke tempat tinggalnya dan membersihkan sisa-sisa lumpur. Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) turut membantu warga membersihkan sisa-sisa banjir. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 05-03-2025

Diketahui normalisasi Kali Ciliwung masih terhambat pembebasan lahan. Warga terbelah antara ganti rugi untuk relokasi dan tetap di bantaran kali.

Nur ataupun Yati masih berpikir dengan tawaran ganti rugi untuk relokasi. Mereka bersedia pindah ke rumah susun asalkan tak jauh dari Bidara Cina.

”Kalau di rusun, paling enggak harus dapat tiga unit karena anak-anak sudah besar,” kata Yati.

BPBD DKI Jakarta melaporkan, hingga Rabu siang ini 30 RT masih dilanda banjir akibat hujan deras serta luapan Kali Ciliwung, Kali Pesanggrahan, dan Kali Angke.

Wilayah terdampak di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. Ketinggian air bervariasi antara 30 cm dan 2 meter.

Secara keseluruhan banjir mengakibatkan 3.419 warga mengungsi ke beberapa lokasi penampungan. Kelurahan Bidara Cina menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak.

Selain itu, ada 500 warga mengungsi ke GOR Pengadegan. Sejauh ini BPBD DKI Jakarta terus menyalurkan bantuan darurat, seperti makanan siap saji, air mineral, selimut, serta paket kebutuhan keluarga dan anak-anak.

Pramono Anung Calon Gubernur DKI Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung seusai meninjau Pintu Air Manggarai pada Selasa (4/3/2025) sore memastikan jajarannya bekerja optimal untuk kelancaran aliran di pintu-pintu air dan pompa banjir, serta kembali melakukan operasi modifikasi cuaca.

”Tentunya Pemprov DKI Jakarta bertanggung jawab. Pengerukan, dilakukan sodetan, dilanjutkan kembali, sumur resapan tidak lagi dibuat di jalan, tetapi di saluran-saluran air. Jadi hal-hal yang baik dilanjutkan,” kata Pramono.

Pramono juga akan kembali berkoordinasi dengan wilayah tetangga, yaitu Jawa Barat dan Banten, untuk pengendalian banjir. Sebab, penyelesaian masalah di aglomerasi Jabodetabekjur tidak bisa parsial atau hanya Jakarta.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari