BPBD Kabupaten Bekasi mencatat, hingga Senin (19/1/2026), banjir masih melanda 39 desa di 17 kecamatan dan mengakibatkan 14.855 keluarga terdampak.
19 Jan 2026 17:06 WIB · Metropolitan
KOMPAS/AGUS SUSANTO
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/51998a4700fb29772dcf920d74834ec9-20260119AGS_01.jpg)
Joni (40) menembus banjir bersama anaknya menuju Perumahan Karnaen Residence di Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (19/1/2026). ”Sudah setahun saya tinggal disini, dua kali banjir besar melanda perumahan ini. Air masuk ke rumah hingga 80 sentimeter. Ada 100 lebih rumah di kluster ini,” kata Joni membuka percakapan.
Banjir tak hanya menggenangi kompleks tempat tinggal Joni. Beberapa perumahan di kawasan sekitar juga terdampak banjir. Warga pun mengeluhkan kondisi ini dan terputusnya akses keluar.
Ibu Aidar bersama tetangganya bercengkerama di tenda pengungsian di luar Perumahan 99 Riverside yang masih terendam banjir. ”Di dalam rumah masih sebetis, air masuk sejak subuh Minggu. Airnya deres banget. Makanya, kami ngungsi sementara di tenda ini kalau siang untuk jaga-jaga rumah, kalau sudah sore kami balik masing-masing ke rumah saudara atau masjid. Nyari makan juga sulit kalau di sini. Satu-satunya jalan keluar rusak, berlubang dan berlumpur,” kata Aidar.
Manalu bersama empat anggota keluarganya berjalan beriringan menembus banjir menuju rumah mereka di Perumahan Grand Permata Residence 2. Banjir masih merendam perumahan yang sudah berdiri lima tahun ini. Dua kali rumahnya terendam banjir besar dengan ketinggian 1 meter lebih. Warga lain juga hilir mudik mengecek hunian setelah pada Minggu (18/1/2026) ditinggalkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/d8f5ec963e9fe02151eacfefd535da1c-20260119AGS_20.jpg)
Ibu Sihotang menggoreng bakwan di bagian depan rumah yang tidak terendam banjir di Perumahan Srimukti Prime House. Ada 80 rumah yang terendam di kluster ini. Warga lain beristirahat memanfaatkan rumah sekaligus toko besi yang dijadikan lokasi pengungsian. Anak-anak tak peduli dengan banjir. Mereka mandi dan bermain air. Seekor anjing menggonggong.
Mobil puskesmas keliling menghentikan laju kendaraan di ujung jalan cor semen. Jalan makadam menuju perumahan lain rusak parah dan berlumpur. Tenaga kesehatan dari Puskesmas Srimukti berjalan menuju tenda-tenda pengungsian untuk memberikan pengobatan gratis. Warga sudah mengeluhkan pusing-pusing dan gatal-gatal.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bekasi mencatat, hingga Senin (19/1/2026) pukul 08.00 WIB, banjir masih melanda 39 desa di 17 kecamatan. Akibatnya, 14.855 keluarga terdampak dan 1.336 jiwa mengungsi di 12 lokasi. Ketinggian air berkisar 10-100 sentimeter. Warga memanfaatkan masjid, sekolah, dan pondok pesantren sebagai lokasi pengungsian. Intensitas hujan yang sangat tinggi dan merata di wilayah hulu dan hilir sejak Sabtu (17/1/2026) berimbas pada meluapnya Kali Gabus, Sungai Cibeet, Sungai Citarum, Kali Cikarang Bekasi Laut, Kali Bekasi, dan Kali Ciherang.
Banjir juga membuat kegiatan belajar-mengajar di SDN Srimukti 01 diliburkan. Bisri, guru di sekolah itu, mendapat jadwal piket berjaga. ”Tidak ada kegiatan belajar-mengajar di sekolah ini. Ada empat kelas yang dipakai untuk mengungsi sejak Minggu (18/1/2026). Sekitar 100 warga mengungsi di sekolah ini. Selain letaknya lebih tinggi, sekolah ini juga mempunyai halaman yang luas sehingga pengungsi merasa nyaman”, kata Bisri.
Selain letak topografi yang rendah, kawasan utara Kabupaten Bekasi juga rawan banjir karena dilewati sungai besar yang akan meluap kala hujan deras dari hulu hingga hilir. Belum lagi alih fungsi lahan resapan berupa persawahan yang berganti menjadi perumahan, kawasan industri, hingga jalan dan betonisasi. Drainase yang buruk juga menjadi masalah klasik di kawasan ini.
Penulis:
Agus SusantoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti