Banjir Merendam Tangsel, Warga Merugi hingga Puluhan Juta Rupiah

Banjir yang meluap begitu cepat membuat warga tak sempat menyelamatkan harta bendanya. Mereka merugi hingga puluhan juta rupiah.

14 Mei 2025 18:00 WIB · Metro

Oleh Rhama Purna Jati


TANGERANG SELATAN, KOMPAS — Banjir yang merendam sejumlah wilayah di Tangerang Selatan, Banten, menimbulkan kerugian besar bagi warga yang terdampak. Banyak harta benda hingga dagangan warga rusak akibat terendam, mulai dari barang elektronik hingga kendaraan. Langkah mitigasi diperlukan agar dampak kerugian akibat bencana dapat dikikis.

Markoni (56), warga Kayu Gede I, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, mengatakan, tiga unit sepeda motornya terendam banjir karena tidak sempat diselamatkan. Tidak hanya itu, Markoni juga harus merelakan semua alat elektroniknya, seperti kulkas, televisi, dan mesin cuci, turut terendam.

Markoni bercerita, hujan deras mulai mengguyur tempat tinggalnya pada Selasa (13/3/5/2025) sore sekitar pukul 17.30 WIB. Banjir mulai merendam tempat tinggalnya 1 jam berselang dengan ketinggian mencapai 1,5 meter.

”Banjir meluap begitu cepat sampai saya tidak bisa mengevakuasi barang-barang yang ada di rumah,” katanya, Rabu (14/5/2025). Setelah dua jam direndam, banjir mulai surut. Akibat banjir tersebut, Markoni mengaku merugi hingga Rp 15 juta.

Warga di Serpong Utara, Tangerang Selatan, sedang membersihkan suku cadang yang terendam banjir, Rabu (14/5/2025). Banjir merendam kawasan ini hingga ketinggian 2 meter.

Selama 15 tahun tinggal di kawasan itu, Markoni mengatakan, banjir besar pernah terjadi pada 2020 dengan ketinggian air mencapai 2 meter. Saat itu, diduga penyebabnya adalah curah hujan yang tinggi. Namun, banjir kali ini, dia menduga, tidak hanya karena hujan deras, tetapi juga disebabkan pompa di Kali Angke yang tidak berfungsi optimal.

Hal serupa juga dialami Aris Gustiana (30),  warga Serpong Utara, yang juga harus merelakan mobilnya terendam. Dia terpaksa membongkar semua onderdil untuk memperkecil dampak kerusakan. ”Saya tidak sempat memindahkan mobil karena jalan akses keluar rumah sudah terendam lebih dulu,” katanya.

Aris terkejut banjir meluap begitu cepat. ”Walau kami tidak bisa menyelamatkan mobil, kami masih bisa mengevakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi,” ucapnya.

Meskipun sudah ada peringatan banjir dari RT setempat, Aris tidak menduga bahwa banjir akan meluap begitu cepat. Sebab, di bantaran kali Fortune tempatnya tinggal sudah dibangun tanggul. Namun, ketinggian banjir melebihi tanggul itu dan akhirnya meluber hingga pemukiman warga.  

Terkait jumlah kerugian, Aris belum bisa menaksirnya karena mobilnya belum bisa dibawa ke bengkel. ”Saya harap tidak mengalami kerusakan parah. Namun, saya kira bisa mencapai belasan juta rupiah,” katanya.

Aris berpendapat, banjir kali ini lebih parah dibanding tahun 2020 lalu, baik dari ketinggian air maupun korban yang dievakuasi.

Sebuah minimarket di pinggir Jl Akses Graha Raya, Paku Jaya, Tangerang Selatan  mengeluarkan barang-barang yang terendam banjir, Rabu (14/5/2025).  Banjir menutup akses jalan tersebut pada Selasa (13/5) malam. Ketinggian air di ruas jalan itu mencapai 50 sentimeter.

Tidak hanya rumah penduduk, beberapa tempat usaha juga terendam. Di pinggir Jalan Akses Graha Raya tampak beberapa pemilik usaha membersihkan puing-puing barang bekas kebanjiran. Dari mereka ada yang masih membersihkan toko dari lumpur dan beberapa lainnya sudah bersiap untuk membuka usahanya lagi.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangerang Selatan, banjir merendam 4 RT di Kelurahan Pakujaya, Kecamatan Serpong Utara.

Komandan Regus Satgas BPBD Kota Tangerang Selatan Dian Wiriyawan mengatakan, banjir mulai menggenangi sejumlah tempat di Serpong Utara pada pukul 19.30 WIB. ”Puncaknya, ketinggian banjir mencapai 140 cm,” ujar Dian.

Di beberapa lokasi, BPBD harus mengerahkan perahu karet guna mengevakuasi warga yang terjebak banjir. Selain merendam kawasan permukiman warga, banjir juga memutus akses jalan utama di Jalan Boulevard Graha Raya, Kelurahan Paku Jaya, Serpong Utara, dengan ketinggian air saat itu mencapai 50 cm.

Akibat tertutupnya jalan akses itu, Suripto (64) harus mencari jalan menuju rumah. Di beberapa ruas jalan, banjir juga menyebabkan arus lalu lintas lumpuh dan menyebabkan kemacetan. ”Bayangkan, saya pulang kantor pukul 7 malam baru tiba di rumah pukul 11 malam,” kata Suripto.

Pada Rabu (14/5/2025) dini hari, banjir sudah mulai surut. Warga yang sempat mengungsi sementara mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Namun, Dian mengimbau agar warga yang tinggal di kawasan rawan banjir untuk tetap waspada.

Sebab, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang masih terjadi di wilayah Indonesia terkhusus Provinsi Banten.

Dalam catatan prospek cuaca mingguan periode 13 Mei-19 Mei 2025, BMKG memprediksi adanya potensi hujan berintensitas tinggi di sejumlah daerah. Kondisi ini terjadi karena sirkulasi siklonik yang masih terlihat pada periode peralihan musim.

Petugas melakukan evakuasi warga yang terjebak banjir di kawasan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Selasa (13/5/2025) malam. Akibat banjir setinggi hampir 2 meter ini 166 kepala keluarga terdampak.

Prediksi BMKG

Berdasarkan analisis klimatologis BMKG, hingga periode April–Juni 2025, sebanyak 57,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah yang telah mengalami awal musim kemarau meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Namun, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi.

Prakirawan BMKG Rira Angela Damanik menuliskan, sebagian besar wilayah Indonesia memang sudah memasuki musim kemarau. Namun, beberapa wilayah lainnya masih berada dalam masa peralihan musim (pancaroba). Kondisi ini ditandai dengan cuaca cerah atau terik pada pagi hingga siang hari dan potensi hujan lokal pada sore hingga malam hari.

Pemantauan dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya  keberadaan bibit Siklon Tropis 93P yang terdeteksi di wilayah Laut Arafura, sebelah barat Papua Selatan. Selain itu, teridentifikasi juga adanya sirkulasi siklonik di beberapa lokasi, yakni di Samudra Hindia barat daya Bengkulu, Laut Halmahera, dan Samudra Pasifik utara Papua.

Kondisi labilitas atmosfer yang cukup signifikan di beberapa wilayah turut mendukung pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat/petir dan angin kencang.

Rira menambahkan, berdasarkan hasil pengamatan curah hujan dalam tiga hari terakhir, hujan berintensitas sedang hingga lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Beberapa wilayah yang mencatat curah hujan lebat, antara lain, Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 115,3 milimeter (mm) per hari, Banten sebesar 103,0 mm per hari, dan Bali sebesar 121,4 mm per hari.

Banjir di Tangerang Selatan tidak hanya terjadi kali ini. Pada pertengahan November 2024, banjir merendam rumah warga di Perumahan Taman Mangu Indah, Jurangmangu Barat, Pondok Aren, Tangerang. Limpahan air itu disebabkan tanggul kali yang masih dalam pengerjaan jebol. Akibat banjir ini, setidaknya 400 keluarga terdampak.

Oleh karena banjir yang terus berulang di Tangsel, warga berharap pemerintah bisa melakukan langkah mitigasi dengan cepat. Baik Aris maupun Markoni berharap ada langkah lanjutan yang ditunaikan pemerintah baik melaksanakan pembangunan infrastruktur maupun pemberian informasi secara cepat dan akuran. ”Agar barang-barang kami tidak lagi rusak akibat terendam banjir,” kata Markoni berharap.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rhama Purna Jati
 | 

Editor:

Harry Susilo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto