BERLIN, RABU — China tidak hanya membanjiri pasar otomotif global dengan mobil listrik. China mengekspor besar-besaran mobil berbahan minyak yang tidak laku di pasar domestiknya. Trik itu membuat China merajai pasar otomotif di beberapa negara.
Dalam laporan pada Rabu (3/12/2025), Yedioth Ahronothmenyebut, produsen China menguasai pangsa pasar otomotif Israel. Chery dan JAC menjadi pabrikan China yang mencatatkan lonjakan penjualan di Israel. Dari 93.000 mobil China yang diimpor Israel, 42.000 mobil buatan Chery-JAC.
Sementara mobil Jepang hanya terjual 68.000 unit dan Eropa cuma 58.000 unit sepanjang 2025. Adapun mobil Korea Selatan hanya laku 57.000 unit dan mobil Amerika Serikat malah cuma 7.000 unit. Padahal, AS-Eropa membantu habis-habisan Israel di berbagai hal.
Bukan hanya di Israel, pabrikan China juga merajai pasar di beberapa negara. Sementara di dalam negeri, pasar dikuasai mobil listrik.
Di pasar China, porsi untuk mobil berbahan bakar minyak (BBM) tinggal tersisa separuh. Banyak mobil tidak laku di pasar China.
Laporan khusus Reuters edisi Selasa (2/12/2025) menyebutkan, kendaraan bahan bakar fosil menyumbang 76 persen dari ekspor mobil China sejak 2020. Ekspor kendaraan bahan bakar fosil China diperkirakan melampaui 4,3 juta unit. Jumlah itu hampir dua pertiga dari total ekspor pada 2025.
Pada 2024, ekspor mobil BBM membuat China menjadi negara pengekspor otomotif terbesar di dunia berdasarkan volume. Jumlah ini belum termasuk ekspor mobil listrik atau hibrida plug in.
”Pertumbuhan pesat kendaraan listrik China membuat industri yang mampu memproduksi 20 juta mobil berbahan bakar bensin per tahun terhenti. Ini menekan produsen mobil untuk mengalihkan kelebihan kapasitas produksi untuk ekspor ke seluruh dunia,” kata CEO Automobility Bill Russo, konsultan yang berkantor di China.
Eksportir mobil terbesar China adalah Chery. Penjualan globalnya meroket dari 730.000 unit menjadi 2,6 juta unit pada 2020-2024. Peningkatan ekspor sebagian besar mengandalkan kendaraan tenaga fosil yang mencakup empat perlima dari penjualannya.
Sementara penjualan tahunan SAIC-GM di China turun dari lebih dari 1,4 juta unit menjadi 435.000 unit selama 2020-2024. Ekspor SAIC tanpa GM melonjak hampir 400.000 unit pada 2020 lalu menjadi lebih dari 1 juta unit pada 2024.
Karena persaingan pasar mobil China sangat sengit, ekspor menjadi penting bagi pertumbuhan dan keuntungan perusahaan. Wakil Presiden Global untuk Desain FAW Giles Taylor meyakini, beberapa pesaing domestik hanya tinggal selangkah lagi untuk gulung tikar. ”China sangat padat dengan perusahaan mobil. Siapa yang kuat, dia yang bertahan,” tutur Taylor.
Ancaman serius
Sepuluh eksportir teratas China tercatat menjual lebih banyak kendaraan BBM daripada EV. Mobil BBM lebih laris di pasar negara berkembang atau pasar lapis kedua, seperti Eropa Timur, Amerika Latin, dan Afrika. Infrastruktur mobil listrik di kawasan-kawasan itu masih terbatas.
Saat ini, tujuan ekspor terbesar China adalah Meksiko. Untuk 2025, Beijing dapat menutup penjualan melebihi 200.000 unit dan pangsa pasar 14 persen, menurut GlobalData.
Mobil lama, seperti Fiat, Ford, dan Chevrolet, sedang turun. ”Kami dapat menyempurnakan penawaran kami untuk setiap pasar,” kata Nic Thomas, Direktur Pemasaran Changan di Eropa.
Banjir mobil China menimbulkan ancaman serius bagi para produsen mobil global lainnya. VW, GM, dan Stellantis biasanya memasarkan mobil murah dengan teknologi lama. Daya tariknya jadi tergerus karena gempuran mobil China dengan fitur keselamatan dan perangkat lunak yang lebih baik.
”Produsen mobil lawas tertidur. Sekarang mereka yang menanggung akibatnya. Persaingan sesungguhnya antara produsen mobil China dan produsen mobil lawas tidak terjadi di Eropa atau Amerika Serikat, tetapi di pasar negara berkembang,” kata Felipe Munoz, analis otomotif di JATO Dynamics.
Perwakilan Toyota, Ford, Nissan, dan Hyundai tak berkomentar mengenai lonjakan ekspor China. Namun, sejumlah perusahaan menyusun strategi.
Volkswagen berencana mengekspor lebih banyak mobil yang dibuat di China. Stellantis, GM, dan Hyundai akan mengembangkan industri mobil di pasar negara berkembang agar sesuai selera lokal, seperti Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Afrika.
Kepala Volkswagen Amerika Selatan Alexander Seitz mengatakan tidak takut dengan para produsen China. ”Saya menghormati mereka sebagai pesaing. Mereka dipersilakan untuk bergabung,” ujar Seitz.
Konsultan AlixPartners memprediksi, penjualan tahunan produsen mobil China di luar negeri akan tumbuh sebesar 4 juta unit pada tahun 2030. Beijing akan menguasai pangsa pasar yang besar di Amerika Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara.
Sebagai pasar mobil terbesar dunia, produsen mobil China kemungkinan bakal menguasai 30 persen industri otomotif global dalam lima tahun. ”Pertumbuhan itu akan mengorbankan semua pihak,” kata Stephen Dyer, Pemimpin Bersama AlixPartners di China.
Jerman adalah salah satu negara yang bisa terdampak. Industri otomotif di negara ini kurang inovasi sehingga belakangan gencar berita PHK, termasuk di VW dan Bosch. Padahal, industri otomotif termasuk krusial bagi perekonomian Jerman.
Bangun baru
Kelebihan produksi mobil di China berawal dari kebijakan pemerintah. Beijing mendorong produsen mobil untuk membangun pabrik kendaraan listrik baru ketimbang mengonversi pabrik kendaraan berbahan bakar bensin yang sudah ada.
Pemerintah daerah juga getol memberikan subsidi untuk EV. Alhasil, pabrik EV tumbuh subur. ”Pemerintah daerah bahkan menyiapkan lahan dan membangun pabrik sehingga perusahaan bisa masuk hanya dengan ’membawa koper’,” kata Liang Linhe, Ketua Sany Heavy Truck, salah satu produsen truk terbesar di China.
Salah satu primadona dari produsen mobil listrik lokal China adalah BYD milik swasta. BYD masuk dalam daftar 10 eksportir otomotif terbesar China. Dalam jangka panjang, China memiliki target untuk mendominasi mobil listrik dan mobil hibrida plug in secara global.
Pada konferensi EV, Maret 2025, mantan Wakil Menteri Industri China Su Bo mendesak regulator untuk mendorong konversi pabrik mobil berbahan bakar bensin menjadi model bertenaga baterai. Dia memperkirakan China telah membangun kapasitas untuk 20 juta unit mobil listrik dan mobil hibrida plug-in setiap tahun.
Namun, China masih terbebani dengan pabrik bisa menghasilkan 30 juta unit mobil berbahan bakar bensin. Kebutuhan pasar domestik tidak sampai sebanyak itu.
”Penurunan penjualan mobil berbahan bakar bensin membuat kapasitas produksi yang substansial kurang dimanfaatkan dan menjerumuskan sektor ini ke dalam krisis,” tutur Su Bo. (AFP/REUTERS)
BERLIN, RABU — China tidak hanya membanjiri pasar otomotif global dengan mobil listrik. China mengekspor besar-besaran mobil berbahan minyak yang tidak laku di pasar domestiknya. Trik itu membuat China merajai pasar otomotif di beberapa negara.
Dalam laporan pada Rabu (3/12/2025), Yedioth Ahronothmenyebut, produsen China menguasai pangsa pasar otomotif Israel. Chery dan JAC menjadi pabrikan China yang mencatatkan lonjakan penjualan di Israel. Dari 93.000 mobil China yang diimpor Israel, 42.000 mobil buatan Chery-JAC.
Sementara mobil Jepang hanya terjual 68.000 unit dan Eropa cuma 58.000 unit sepanjang 2025. Adapun mobil Korea Selatan hanya laku 57.000 unit dan mobil Amerika Serikat malah cuma 7.000 unit. Padahal, AS-Eropa membantu habis-habisan Israel di berbagai hal.
Serial Artikel
Mobil-mobil China yang Merajalela
Jenama asal China berdatangan di Indonesia karena tergiur pasar besar. Ekspansi ini juga terjadi di banyak negara.
Bukan hanya di Israel, pabrikan China juga merajai pasar di beberapa negara. Sementara di dalam negeri, pasar dikuasai mobil listrik.
Di pasar China, porsi untuk mobil berbahan bakar minyak (BBM) tinggal tersisa separuh. Banyak mobil tidak laku di pasar China.
Laporan khusus Reuters edisi Selasa (2/12/2025) menyebutkan, kendaraan bahan bakar fosil menyumbang 76 persen dari ekspor mobil China sejak 2020. Ekspor kendaraan bahan bakar fosil China diperkirakan melampaui 4,3 juta unit. Jumlah itu hampir dua pertiga dari total ekspor pada 2025.
Pada 2024, ekspor mobil BBM membuat China menjadi negara pengekspor otomotif terbesar di dunia berdasarkan volume. Jumlah ini belum termasuk ekspor mobil listrik atau hibrida plug in.
”Pertumbuhan pesat kendaraan listrik China membuat industri yang mampu memproduksi 20 juta mobil berbahan bakar bensin per tahun terhenti. Ini menekan produsen mobil untuk mengalihkan kelebihan kapasitas produksi untuk ekspor ke seluruh dunia,” kata CEO Automobility Bill Russo, konsultan yang berkantor di China.
Eksportir mobil terbesar China adalah Chery. Penjualan globalnya meroket dari 730.000 unit menjadi 2,6 juta unit pada 2020-2024. Peningkatan ekspor sebagian besar mengandalkan kendaraan tenaga fosil yang mencakup empat perlima dari penjualannya.
Sementara penjualan tahunan SAIC-GM di China turun dari lebih dari 1,4 juta unit menjadi 435.000 unit selama 2020-2024. Ekspor SAIC tanpa GM melonjak hampir 400.000 unit pada 2020 lalu menjadi lebih dari 1 juta unit pada 2024.
Karena persaingan pasar mobil China sangat sengit, ekspor menjadi penting bagi pertumbuhan dan keuntungan perusahaan. Wakil Presiden Global untuk Desain FAW Giles Taylor meyakini, beberapa pesaing domestik hanya tinggal selangkah lagi untuk gulung tikar. ”China sangat padat dengan perusahaan mobil. Siapa yang kuat, dia yang bertahan,” tutur Taylor.
Serial Artikel
Otomotif China Bikin Nissan-Honda Bergabung
Honda-Nissan-Mitsubishi bergabung sebagai siasat coba mengatasi ketertinggalan dari produsen kendaraan listrik asal China. Langkah yang tidak mudah.
Sepuluh eksportir teratas China tercatat menjual lebih banyak kendaraan BBM daripada EV. Mobil BBM lebih laris di pasar negara berkembang atau pasar lapis kedua, seperti Eropa Timur, Amerika Latin, dan Afrika. Infrastruktur mobil listrik di kawasan-kawasan itu masih terbatas.
Saat ini, tujuan ekspor terbesar China adalah Meksiko. Untuk 2025, Beijing dapat menutup penjualan melebihi 200.000 unit dan pangsa pasar 14 persen, menurut GlobalData.
Mobil lama, seperti Fiat, Ford, dan Chevrolet, sedang turun. ”Kami dapat menyempurnakan penawaran kami untuk setiap pasar,” kata Nic Thomas, Direktur Pemasaran Changan di Eropa.
Banjir mobil China menimbulkan ancaman serius bagi para produsen mobil global lainnya. VW, GM, dan Stellantis biasanya memasarkan mobil murah dengan teknologi lama. Daya tariknya jadi tergerus karena gempuran mobil China dengan fitur keselamatan dan perangkat lunak yang lebih baik.
”Produsen mobil lawas tertidur. Sekarang mereka yang menanggung akibatnya. Persaingan sesungguhnya antara produsen mobil China dan produsen mobil lawas tidak terjadi di Eropa atau Amerika Serikat, tetapi di pasar negara berkembang,” kata Felipe Munoz, analis otomotif di JATO Dynamics.
Perwakilan Toyota, Ford, Nissan, dan Hyundai tak berkomentar mengenai lonjakan ekspor China. Namun, sejumlah perusahaan menyusun strategi.
Volkswagen berencana mengekspor lebih banyak mobil yang dibuat di China. Stellantis, GM, dan Hyundai akan mengembangkan industri mobil di pasar negara berkembang agar sesuai selera lokal, seperti Amerika Selatan, Timur Tengah, dan Afrika.
Kepala Volkswagen Amerika Selatan Alexander Seitz mengatakan tidak takut dengan para produsen China. ”Saya menghormati mereka sebagai pesaing. Mereka dipersilakan untuk bergabung,” ujar Seitz.
Konsultan AlixPartners memprediksi, penjualan tahunan produsen mobil China di luar negeri akan tumbuh sebesar 4 juta unit pada tahun 2030. Beijing akan menguasai pangsa pasar yang besar di Amerika Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara.
Sebagai pasar mobil terbesar dunia, produsen mobil China kemungkinan bakal menguasai 30 persen industri otomotif global dalam lima tahun. ”Pertumbuhan itu akan mengorbankan semua pihak,” kata Stephen Dyer, Pemimpin Bersama AlixPartners di China.
Jerman adalah salah satu negara yang bisa terdampak. Industri otomotif di negara ini kurang inovasi sehingga belakangan gencar berita PHK, termasuk di VW dan Bosch. Padahal, industri otomotif termasuk krusial bagi perekonomian Jerman.
Serial Artikel
Jepang-Jerman, Negeri Raksasa Otomotif Kekurangan Mekanik
Robot belum bisa sepenuhnya menggantikan mekanik. Kendaraan yang semakin otomatis sekalipun membutuhkan mekanik.
Kelebihan produksi mobil di China berawal dari kebijakan pemerintah. Beijing mendorong produsen mobil untuk membangun pabrik kendaraan listrik baru ketimbang mengonversi pabrik kendaraan berbahan bakar bensin yang sudah ada.
Pemerintah daerah juga getol memberikan subsidi untuk EV. Alhasil, pabrik EV tumbuh subur. ”Pemerintah daerah bahkan menyiapkan lahan dan membangun pabrik sehingga perusahaan bisa masuk hanya dengan ’membawa koper’,” kata Liang Linhe, Ketua Sany Heavy Truck, salah satu produsen truk terbesar di China.
Salah satu primadona dari produsen mobil listrik lokal China adalah BYD milik swasta. BYD masuk dalam daftar 10 eksportir otomotif terbesar China. Dalam jangka panjang, China memiliki target untuk mendominasi mobil listrik dan mobil hibrida plug in secara global.
Pada konferensi EV, Maret 2025, mantan Wakil Menteri Industri China Su Bo mendesak regulator untuk mendorong konversi pabrik mobil berbahan bakar bensin menjadi model bertenaga baterai. Dia memperkirakan China telah membangun kapasitas untuk 20 juta unit mobil listrik dan mobil hibrida plug-in setiap tahun.
Namun, China masih terbebani dengan pabrik bisa menghasilkan 30 juta unit mobil berbahan bakar bensin. Kebutuhan pasar domestik tidak sampai sebanyak itu.
”Penurunan penjualan mobil berbahan bakar bensin membuat kapasitas produksi yang substansial kurang dimanfaatkan dan menjerumuskan sektor ini ke dalam krisis,” tutur Su Bo. (AFP/REUTERS)