Istigasah bakal digelar warga di Demak, Jawa Tengah, untuk memohon pertolongan Tuhan agar dibebaskan dari banjir dan rob. Upaya konkret pemerintah dinanti.
14 Jun 2025 21:29 WIB · Lingkungan
DEMAK, KOMPAS — Ribuan orang yang tergabung dalam organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama, mahasiswa, dan masyarakat terdampak rob bakal menggelar istigasah atau doa bersama di tengah kubangan rob di Jalan Pantura Demak, Jawa Tengah, Minggu (15/6/2025). Mereka berdoa untuk meminta pertolongan kepada Sang Pencipta sekaligus mengingatkan pemerintah untuk berupaya lebih keras dalam membebaskan masyarakat dari bencana yang puluhan tahun terakhir melanda Demak tersebut.
Pengurus cabang NU Demak sekaligus koordinator istigasah, Mustain, mengatakan, akan ada sekitar 100.000 orang yang hadir dalam acara Minggu. Massa yang terdiri dari anggota dan pengurus NU, mahasiswa, serta masyarakat terdampak rob di Kecamatan Sayung, Karangtengah, Bonang, dan Wedung bakal mengawali aksi dengan berjalan kaki dari pintu keluar Tol Sayung menuju lokasi istigasah, yakni di Jalan Pantura, tepatnya di depan PT Polytron di Sayung.
Titik itu dipilih sebagai lokasi istigasah karena merupakan lokasi paling parah terdampak rob. Sejak puluhan tahun terakhir, banjir rob melanda titik itu hampir setiap hari. Para calon peserta pun disebut Mustain merasa tidak keberatan meski nantinya harus memanjatkan doa di tengah kubangan rob. Sebab, kondisi itu telah mereka alami setiap hari, setidaknya selama 25 tahun terakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/30/70d0acf14538bebb10c6d568b6d4aa32-20250531WEN4.jpg)
Meski telah puluhan tahun menghambat dan membuat warga menderita, persoalan banjir rob di Demak disebut Mustain tak kunjung selesai. Belakangan, kondisinya malah semakin parah.
”Kalau dulu itu, rob akan surut dalam hitungan jam. Sekarang ini, air rob seperti enggak mau pulang ke laut. Kami berharap persoalan ini bisa segera diselesaikan, bisa dikejar secara maksimal, tidak menunggu bertahun-tahun lagi,” kata Mustain saat dihubungi, Sabtu (14/6/2025).
Istigasah itu disebut Mustain digelar untuk meminta pertolongan kepada Tuhan agar warga Demak bisa dibebaskan dari banjir rob. Di samping itu, mereka juga ingin mengingatkan pemerintah agar berupaya lebih keras untuk menuntaskan persoalan menahun tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/30/da971aab-bf1a-4ca3-9640-3a3275739bda.jpg)
Selama ini, Pemerintah Kabupaten Demak dan Pemerintah Provinsi Jateng disebut Mustain telah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi rob. Kendati demikian, upaya itu dinilai belum maksimal karena keterbatasan kemampuan, terutama kemampuan anggaran.
”Kami berharap Presiden Prabowo Subianto bisa datang langsung ke Demak, melihat seperti apa kondisinya, tidak hanya sekadar mendengar atau mendapat laporan dari bawahannya sehingga bisa keluar nanti solusinya apa,” ucap Mustain.
Menurut Mustain, rob tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga telah mematikan sumber perekonomian masyarakat. Ia mencontohkan, lahan-lahan pertanian masyarakat yang dulunya subur dan produktif kini telah dikubangi rob dan tak bisa lagi ditanami.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/23/eb4ed017-4619-4089-bf52-0a7ea2d1063f.jpg)
Padahal, kebutuhan masyarakat setelah adanya rob juga terus meningkat. Untuk menghindari genangan rob, warga harus berulang kali meninggikan rumah. Di samping itu, mereka juga mesti menanggung biaya yang tak sedikit untuk servis kendaraan ataupun reparasi peralatan elektronik yang korosi karena terkena air rob.
Munawir (45), warga Desa Sayung, Kecamatan Sayung, mendukung dan berencana datang dalam kegiatan, Minggu. Selama ini Munawir dan keluarganya tinggal di Dukuh Sayung Lor. Wilayah itu berada di kawasan cekungan dan dekat dengan Sungai Dombo-Sayung.
Saat hujan turun, air dari Sungai Dombo-Sayung yang bermuara di pantai utara Jateng itu sering kali limpas ke permukiman karena daya tampungnya menurun akibat sedimentasi. Hal itu bisa bertambah parah ketika hujan turun bersamaan dengan pasang air laut. Air laut masuk ke sungai itu, yang kemudian juga limpas ke permukiman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/04/10/37b257a03421daf40ca11b46e2943c34-IMG_4457.jpeg)
Oleh karena berada di wilayah cekungan, diperlukan pompa air untuk menyedot genangan di Dukuh Sayung Lor. Namun, sudah delapan bulan terakhir, dukuh itu tak juga kering karena pompa air tak difungsikan optimal oleh pemerintah setempat dengan alasan tidak ada anggaran untuk membeli solar.
”Kami sampai harus swadaya. Jadi, masyarakat ditarik iuran seikhlasnya untuk membeli solar supaya pompa airnya bisa digunakan. Sayangnya, sampai hari ini belum teratasi juga, masih ada genangan dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter di dalam rumah,” ujar Munawir, Sabtu.
Banjir yang merendam Dukuh Munawir juga disebut telah merusak infrastruktur, seperti jalan-jalan desa. Untuk melakukan perbaikan dan peninggian jalan, warga lagi-lagi harus iuran. Tidak hanya berupa uang tunai, terkadang mereka juga iuran pasir, batu, tanah, dan material lain.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/2522fec0-c402-4abd-be31-8a0a4a9d19e7_jpg.jpg)
Munawir mengaku sudah lelah hidup puluhan tahun di tengah kondisi seperti itu. Ia berharap, dari aksi yang digelar Minggu, pemerintah tergerak untuk segera melakukan upaya-upaya konkret mengatasi banjir dan rob di Sayung agar persoalan tersebut tidak terus berlarut-larut.
”Hidup layak ini merupakan hak setiap warga negara. Masyarakat di sini kepingin hidupnya layak. Akan tetapi, memang bisa saya katakan, nyuwun sewu, negara gagal dalam rangka mewujudkan cita-cita ini,” katanya.
Dalam istigasah pada Minggu, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen bakal hadir. Kegiatan itu, kata Yasin, sangat baik karena merupakan bagian dari ikhtiar mengatasi banjir dan rob yang melanda Demak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/27/d599734d873865f7c31a5632385aff0a-20250527WEN1.jpg)
”Agama memerintahkan agar melakukan ikhtiar dhohir maupun batin. Upaya dhohir sudah dilakukan dengan pembangunan tanggul laut dan lain-lain, sedangkan ikhtiar batin dilakukan dengan doa,” ucap Yasin.
Menurut Yasin, doa yang akan dipanjatkan bersama oleh ribuan orang yang hadir dalam istigasah adalah supaya banjir dan rob di Demak bisa berkurang. Selain itu, doa dalam kegiatan itu, disebut Yasin, juga memohon agar hujan tidak banyak turun selama pembangunan tanggul raksasa dilakukan supaya prosesnya berjalan lancar.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jateng Sumarno mengatakan, pihaknya telah menyalurkan 28 mesin pompa air untuk 26 desa di Demak untuk menanggulangi banjir dan rob. Sebanyak 28 pompa air itu itu disebar di sejumlah desa di Sayung, Karangtengah, dan Bonang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/30/9ad36e4bb0883c2afc4684d4ec9ea656-20250531WEN5.jpg)
”Intervensi yang dilakukan Pemprov Jateng ini merupakan skala mikro yang bisa dilakukan pemerintah daerah. Adapun penanganan utama jangka panjang melalui tanggul laut oleh pemerintah pusat,” ujar Sumarno.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Cipta Karya Jateng Hanung Triyono mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan Pemprov Jateng bersama sejumlah pihak untuk mengatasi banjir dan rob di Demak. Salah satu upaya yang sedang dilakukan adalah mengeruk sedimentasi Sungai Dombo-Sayung.
”Pengerukan ini untuk memaksimalkan aliran air di saluran sekitar Jalan Pantura menuju Sungai Dombo-Sayung. Jadi, ini bagian dari upaya pengeringan jalan pantura depan PT Polytron dari banjir rob,” katanya.
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
Siwi Yunita Cahyaningrum