Jumlah bantuan yang masuk pascagencatan senjata lebih banyak. Namun, pendistribusiannya menjadi tantangan tersendiri..
03 Feb 2025 21:00 WIB · Internasional
Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, Israel mengizinkan 600 truk berisi bantuan setiap hari masuk ke Jalur Gaza. Dalam beberapa pekan terakhir, Program Pangan Dunia (World Food Program/WFP) mencatat sekitar 32.000 metrik ton bantuan telah masuk ke Gaza. WFP menyatakan, distribusi bantuan selama empat hari gencatan senjata jauh lebih banyak dibanding jumlah rata-rata bantuan yang dikirim setiap bulan ketika perang masih berlangsung.
Ribuan truk bantuan ini masuk melalui dua penyeberangan, satu di utara dan satu di selatan. Sejumlah badan bantuan mengatakan, untuk memudahkan para pengungsi mengakses makanan, mereka membuka toko roti dan membagikan biskuit berenergi. Aparat keamanan dari kelompok Hamas juga membantu menjaga ketertiban saat pembagian bantuan makanan.
Seorang warga Gaza di Jabaliya, Samir Abu Holi (68), mengatakan, kembalinya truk-truk bantuan kemanusiaan ke Gaza membuatnya lega. ”Saya memiliki lebih dari 10 anak. Mereka semua membutuhkan susu dan makanan. Sebelum gencatan senjata, kami kesulitan menyediakan makanan. Hari ini ada sedikit kelegaan,” kata Samir, Sabtu (1/2/2025) lalu.
Organisasi kemanusiaan mengatakan, meski dari segi jumlah bantuan sudah jauh lebih banyak, pendistribusiannya adalah tantangan tersendiri. Sebelum gencatan senjata terjadi, pengiriman dan distribusi rumit karena berbagai larangan dari militer Israel. Selain itu, keterbatasan pasokan juga membuat warga bersaing dengan anggota Hamas demi mendapatkan bantuan makanan untuk bertahan hidup. Belum lagi ”jatah preman” yang tidak jarang juga dilakukan militer Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/03/cca73ef0ac65e8fe04da58f07c2951e7-000_36WM93U.jpg)
Selain itu, berbagai larangan yang diberlakukan militer Israel untuk mendistribusikan bantuan, termasuk dari kantor COGAT—badan militer Israel yang bertugas memfasilitasi bantuan—juga membuat bantuan tak bisa dinikmati pengungsi Gaza. Tak sekadar mempersulit, Israel juga menyalahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan kemanusiaan karena gagal mendistribusikan bantuan yang sudah tiba di Gaza.
”Sekarang ada keinginan politik untuk menjadikan semua hal berjalan lancar,” kata Tania Harry, Direktur Eksekutif Gisha, organisasi Israel yang mendedikasikan diri untuk melindungi hak warga Palestina bergerak bebas di Gaza.
Saat ini, perubahan situasi di lapangan membuat organisasi bantuan bergerak bebas dan aman. Meski demikian, tetap tidak mudah bagi pengungsi Gaza untuk memperoleh bantuan.
Nadine Jomaa, perempuan muda asal Bureij, Gaza tengah, mengatakan, tidak semua bantuan bisa didapat dengan mudah. Bahkan, ada barang bantuan yang seharusnya diperoleh dengan gratis ternyata dijual dengan harga mahal. Tepung dan gas, misalnya, meski harganya mulai turun, Nadine tetap harus merogoh koceknya lebih dalam. Harga tepung dan gas di Gaza kini tiga kali lipat dari harga sebelum perang.
Keluarganya hanya makan makanan kaleng murah. ”Kami membutuhkan lebih banyak makanan, air, perlengkapan rumah tangga untuk dapur dan kamar mandi, serta perlengkapan wanita,” katanya.
Usulan untuk membanjiri Gaza dengan bantuan yang berhubungan langsung dengan hajat hidup, seperti makanan, bahan untuk memasak, dan tenda, jauh panggang dari api. Warga mengeluhkan minimnya jumlah tenda yang masuk ke Gaza. Sementara barang-barang yang tidak penting, seperti cokelat, kacang-kacangan, dan soda, tiba-tiba ada di mana-mana.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/03/b4947e37de69cd2877080aec1c0aa54f-000_36W42VW.jpg)
Ahmed Qamar (34), yang kembali ke tempat asalnya di Jabaliya, mengatakan, pasar dibanjiri dengan cokelat dan rokok. ”Ratusan keluarga di sini tidur di tempat terbuka dan dalam cuaca dingin,” katanya. ”Kami membutuhkan listrik dan tempat berteduh.”
Masih ada kekhawatiran dari pemerintah dan militer Israel bahwa barang-barang bantuan bisa memiliki fungsi lain. Mereka menduga barang-barang itu akan menguntungkan kelompok Hamas ataupun Jihad Islam. Barang-barang yang dimaksud, antara lain, bahan bakar untuk rumah sakit dan fasilitas penyulingan air asin ke air tawar (desalinasi). Pembatasan-pembatasan atas bantuan itu membuat Hamas menuduh pejabat Israel menghalangi pengiriman pasokan medis dan mesin rekonstruksi.
Dari daftar yang diedarkan COGAT ke organisasi kemanusiaan, perangkat desalinasi dan pengumpulan air, unit penyimpanan, peralatan, perlengkapan tenda, oven, pakaian tahan air, dan peralatan untuk tim konstruksi tempat penampungan semuanya memerlukan ”persetujuan awal” COGAT sebelum memasuki Gaza. Tenda besar, kantong tidur, toilet portabel, bantalan pemanas, dan vaksin adalah beberapa barang yang diizinkan masuk tanpa persetujuan Israel.
Kepala Komunikasi IRC di Palestina Sophie Driscoll mengakui, masih ada pembatasan atas barang-barang bantuan tertentu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/09/c922513a-c4fe-46cc-ac99-e15296f4ee18_png.png)
COGAT mengakui, mereka memasukkan barang-barang itu dalam daftar dan akan mengizinkan setelah pemeriksaan dan memverifikasi penggunaannya. Tenda adalah barang yang sudah dikeluarkan dari daftar tersebut. COGAT menyebut, penyaluran bantuan kemanusiaan di Gaza bukan menjadi tanggung jawabnya.
”Terkait penyaluran bantuan di Gaza, Israel tidak mengendalikan situasi di sana,” kata COGAT.
Ketersediaan air bersih dan sanitasi yang baik juga jauh dari memadai. Ketika mendapati rumah tempat tinggalnya telah rata dengan tanah, banyak warga dan keluarnya memilih bertahan meski tak ada sarana MCK dan air bersih yang memadai. Dehidrasi dan potensi penyebaran penyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk serta perawatan medis yang terbatas menjadi ancaman.
Kepala Komunikasi UNICEF Jonathan Crickx memberikan kesaksian bahwa jalanan kini menjadi tempat tinggal dan tempat berlindung ribuan anak-anak Gaza dan keluarga mereka. ”Saya melihat mereka tanpa apa-apa,” katanya, ”Mereka hanya memiliki pakaian yang mereka pakai.”
Tak hanya masalah terbatasnya jenis bantuan, jalanan yang rusak parah akibat perang serta peledak aktif yang berserakan di berbagai lokasi di seantero Gaza juga menjadi tantangan lain. PBB memperkirakan 5-10 persen amunisi yang dijatuhkan di Gaza gagal meledak. Situasi ini menjadikan wilayah Gaza berbahaya bagi warga sipil, pekerja kemanusiaan, atau bahkan orang-orang yang bekerja untuk melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi.
United Nations Mine Action Service, badan PBB yang menangani persenjataan yang belum meledak, menyebut, sejak gencatan senjata diberlakukan, konvoi kemanusiaan dan warga sipil telah melaporkan menemukan bom berukuran besar, mortir, dan granat. (AP)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Bonifasius Josie Susilo H