Makin banyak saja orang lalu lalang pakai kaus band belakangan ini. Di antara lagu yang relatif gratis, membeli kaus band adalah penghargaan bagi pemusik.
15 Jun 2025 06:34 WIB · Gaya Hidup
Kaus bertuliskan nama band tak berhenti sebagai media promosi. Ia mewakili identitas pemakainya. Ia menghidupi orang-orang yang terlibat. Ia bahkan bisa menggelorakan solidaritas. Mau pakai kaus band apa hari ini?
Yudha (38) terperangah ketika suatu pagi sedang menggulir media sosialnya. Ada satu unggahan yang memampangkan kaus lengan panjang band Impaled Nazarene. Dia suka dengan musik-musik black metal era dekade 1990-an seperti band itu. Sesaat dia semringah.
Dalam keterangan di unggahan itu tertera ukurannya XL—sesuai posturnya—keluaran tahun 2006. Gambar bendera Finlandia yang koyak, negara asal band itu, disablon di atas kaus bermerek Rock Print. Kondisinya baru, stok lama, atau istilahnya NOS (new, old stock). Untuk tahu harganya harus bertanya lewat kotak pesan.
Di tanggal tua seperti ini, iseng Yudha bertanya harga. ”Siapa tahu masuk bujet,” kata karyawan swasta ini, Kamis (12/6/2025) penuh harap. Tapi jawabannya bikin melongo. ”Tiga juta, Kak,” balas sang penjual lengkap dengan emoji tangan terkatup. Yudha mundur teratur.
”Ya nyerahlah. Ditawar juga paling turun sedikit. Itu sepertiga gaji gue,” katanya kecut. Andai dia pengusaha sukses, atau musisi papan atas seperti Ari Lasso atau Rian Ekky Pradipta vokalis D’Massiv mungkin harga itu terbilang biasa saja. Dua artis itu pengumpul kaus band kelas berat.
Kaus band, terlebih yang antik, sedang naik pamor. Rasanya faktor bintang pop, seperti Justin Bieber pakai kaus Metallica, Lady Gaga pakai kaus Anthrax, dan Kanye West pakai Cradle of Filth, turut mendongkrak penjualannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/10/99ba082adf99ce1fb408a5c01eae5958-20250610ags006.jpg)
Toko ritel populer H&M membeli lisensi kaus band, seperti Nirvana, The Rolling Stones, dan Pink Floyd. Ritel Matahari, dilansir dari web resminya, juga kerja sama dengan pemegang lisensi Bravado dan Universal Music Indonesia sehingga berhak menjual kaus The Rolling Stones dan Sex Pistols mulai Mei lalu.
Kaus band metal ternama, seperti Metallica atau Lamb of God, keluaran baru harganya cenderung lebih cocok untuk dompet pegawai biasa seperti Yudha ini. ”Tapi kalau keluaran 15-20 tahun lalu dengan kondisi bagus, ya bisa jutaan juga. Enggak sanggup ikutan tren kaus band vintage itu,” katanya.
Dengan kantong medioker, koleksi kaus Yudha kebanyakan band lama keluaran baru. Dia senang ketika Mayhem, band kesukaannya, mencetak ulang kaus bergambar sampul album-album lama mereka. Memakai kaus band kesukaan adalah cara menunjukkan identitasnya: om-om metal.
”Enggak mungkin gue pasang lagu black metal di mobil ketika jalan sama teman-teman kantor. Mana ada yang tahan,” kata dia yang sering pakai kaus band di balik kemeja kantorannya.
Dimas Prassetyo (33), karyawan swasta penyuka musik metal, punk, dan hardcore juga begitu. ”Gue biasanya pakai kaus band kesukaan di gigs (acara musik), atau kalau lagi kerja di luar kantor seperti ini,” kata dia pada Jumat (13/6/2025) di Jakarta Selatan. Saat itu, Dimas pakai kaus band death metal Visceral asal Bekasi.
Dimas lebih banyak mengoleksi kaus band dalam negeri, meski pernah juga punya kaus Cannibal Corpse (AS) atau Carcass (Inggris). Ada ikatan emosional yang mungkin bagi sebagian orang remeh belaka.
”Gue ingat banget waktu kuliah, pertama kali beli kaus band Straight Answer. Gue langsung SMS-an sama Acha, vokalisnya. Janjian di toko dia dekat Taman Puring. Harganya masih Rp 75.000 itu,” kata dia yang akhirnya berteman dengan dengan Acha itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/10/23954195c17a62d920dd5c56720eb9d7-20250610ags021.jpg)
Saking akrabnya, sering Dimas mengutang kaus dagangan Acha, dibayar setelah dapat uang bulanan dari orangtuanya. Di luar itu, berteman dengan vokalis band kesukaan adalah harta tak ternilai.
Setelah bekerja, Dimas makin sering ”jajan rock”—baik itu produk rekaman, maupun produk lainnya (merchandise). Apalagi, selera musiknya melebar, meski masih di seputaran metal atau rock. Lemari baju di rumahnya di daerah Johar Baru, Jakpus, tak menyisakan ruang lagi. Beberapa kaus dia jual, atau bertukaran dengan teman. Ada kaus masuk, ada juga yang keluar.
Belum lama ini, Dimas memesan kaus band death metal Exhumation. Band yang terbentuk di Yogyakarta itu mengeluarkan dua desain baru untuk mengongkosi biaya rekaman dan produksi lagu-lagu baru. Sebelumnya, Exhumation juga merilis kaus untuk tur promosi album keempat, Master’s Personae (2024), ke beberapa negara Eropa.
”Kalau ada kaus desain baru yang tujuannya jelas (seperti tur dan rekaman), gue usahain beli. Apalagi sekarang banyak distro online yang mau diutangin; bayarnya kalau kaus udah jadi, atau kita udah gajian. Itu bentuk support buat band bisa berkarya,” kata dia yang merasa ”lebih charming” ketika pakai kaus band kesukaannya ini.
Dimas Anantyo (36), karyawan swasta lainnya, agaknya lebih beruntung. Di dinding apartemennya di daerah Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, terpasang poster sablon berukuran sedang karya Sirin Farid Stevy. Poster bermedia kertas itu dia beli dua tahun lalu dengan harga Rp 1,9 juta. Perupanya adalah vokalis band sohor dari Yogyakarta, FSTVLST.
Ada satu poster karya Farid lainnya dengan tulisan ”Jika Kau Bicara Tanpa Mendengar, Kau Akan Menyakiti” dengan latar bercak tinta merah. Dua poster itu adalah sebagian kecil dari ratusan merchandise band aneka rupa yang dia koleksi. Ada juga buku, poster, dan tentunya kaus.
”Semua dari musisi/band lintas genre yang belum tentu saya suka juga sebetulnya,” ujar Dom, panggilan Dimas.
Kesukannya pada produk turunan band bermula karena dia dulunya main band di kancah underground di wilayah Jateng. Dia membeli itu dengan alasan mendukung pergerakan sesama band lokal.
Seiring waktu, Dom menyadari bahwa merchandise adalah karya lain dari musisi. Ada beberapa barang karya musisi yang sudah tidak dia dengar lagi karena pergeseran selera. ”Tapi ada juga yang dibeli karena suka musiknya. Motivasinya ternyata multidimensi, ya,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/20/2a57546b-4f6e-42b5-bc9a-e4c49c36a9c6_jpg.jpg)
Kalau suka, dia bisa gelap mata, jajan habis-habisan. Dia sudah berencana menonton band favoritnya, Foo Fighters, pada Oktober mendatang di Jakarta. Biasanya, band buka tenda menjual dagangan spesial tur. Harganya juga ”spesial”. ”Semua yang mereka jual di booth akan saya ambil. Saya tidak peduli harganya,” ujarnya mantap. Oke!
Ini juga terjadi di perhelatan Hammersonic 2023 silam. Band Watain dari Swedia membawa kaus spesial tur. Dalam hitungan menit, yang tersisa sedikit adalah ukuran kecil saja. Yang paling laris adalah kaus desain ilustrator Oik Wasfuk dari Yogyakarta, yang juga merancang salah satu logo Watain.
Band cadas Seringai juga beberapa kali membawa kaus yang hanya dijual di tempat mereka pentas, dan dibatasi satu orang hanya boleh membeli satu. Jumlahnya juga terbatas; paling banyak 100 helai. Seringai adalah salah satu band dalam negeri yang serius menggarap dagangan mereka di luar karya musik, dan berhasil.
Produk kausnya bejibun. Vokalisnya, Arian 13, adalah ilustrator atau desainer grafis. Sejak membentuk band tahun 2002, dia punya visi visual yang kuat. Arian tak ingat betul berapa banyak desain kaus yang sudah mereka bikin. Yang jelas, dia sekarang punya ”pasukan” ilustrator yang sepemahaman dengan dia.
Sejak Ricky Siahaan, gitarisnya, meninggal pada 19 April silam, band ini hiatus. Namun, jualan kaus jalan terus. Ada beberapa desain yang sudah direncanakan sebelumnya. ”Di luar negeri juga biasa terjadi, kan. Mötörhead setelah semua personel mati, misalnya, jualan kausnya masih jalan. Royaltinya dinikmati keluarga,” katanya.
Dividennya lumayan, Rp 100 juta sampai Rp 150 juta per orang selama enam bulan. Seringai band kaya? Iyalah.
Arian tidak bercanda. Omzet jualan kaus Seringai spektakuler. Ketika ada desain baru, sekali cetak bisa sampai 1.000 helai. Tak sampai sebulan sudah habis. Itu baru dari satu desain.
”Kami menghitung omzet per enam bulan. Hasilnya dibagi untuk uang kas, manajemen, dan personel. Dividennya lumayan, Rp 100 juta sampai Rp 150 juta per orang selama enam bulan. Seringai band kaya? Iyalah. Kami udah 30 tahun di industri ini. Kalau gitu-gitu aja, berarti ada yang salah,” katanya menyeringai.
Uang kas itu dipakai Seringai untuk rekaman, beli alat, atau bikin tur. Pola yang sama sepertinya bakal diterapkan juga pada band baru Arian bernama Negatifa, yang lebih cepat dan berisik. Albumnya baru keluar sebulan lalu. Format CD-nya sudah dicetak ulang yang berarti hampir terjual 2.000 keping—angka yang rasanya muskil untuk band underground baru di era streaming. Kausnya terjual lebih dari 2.500 lembar.
”Kaget juga jualannya bisa sekencang itu. Dari jualan CD dan kaus, Negatifa ini sudah punya tabungan buat tur ke Jepang tahun depan,” katanya.
Keping CD dan sebagian kaus Negatifa diproduksi Grimloc Records, label rekaman yang diinisiasi Herry Sutresna, atau Ucok. Dia adalah pentolan grup hiphop Homicide yang bubar pada 2007. Tapi, kaus Homicide masih dicetak dan laris sampai sekarang.
”Sejak bubar, saya sebetulnya enggak mau lagi bikin kaus Homicide. Pusing mikirin bagi-bagi royaltinya karena anggotanya datang dan pergi,” kata Ucok. Namun, pasar berkehendak lain, sementara barang terbatas. Jadilah harganya meliar di luar kuasa Ucok dan kawan-kawan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/07/17/Herry-Sutresna-alias-Ucok_1626526819_jpg.jpg)
Suatu ketika pada 2013, LBH Bandung butuh dana untuk memperpanjang kontrakan kantor di daerah Dago. Ucok mengingat, dananya kurang sekitar Rp 25 juta. Ucok yang bersinggungan dekat dengan ranah aktivisme di Bandung memutar otak. Diputuskanlah mencetak lagi kaus Homicide karena pasarnya ada demi mendapat dana besar dalam waktu singkat.
"Urang mendagangkan Homicide,” katanya terkekeh dalam wawancara sebelumnya. Ucok memastikan semua mantan anggota Homicide setuju tak kebagian royalti dari kaus. Harga kaus Homicide cukup mahal untuk ukuran produksi lokal, yakni kisaran Rp 200.000 sampai Rp 250.000.
Semua keuntungan, di luar ongkos produksi, disumbangkan ke lembaga advokasi itu. Sejak itu, Ucok beberapa kali mendesain dan menjual kaus Homicide. Terakhir, pada September dan Desember 2024, ada lima desain yang dijual dengan sistem prapesan.
”Ada banyak agenda di rentang waktu itu yang butuh dana. Jumlahnya sesuai kebutuhan di lapangan karena kami memang terlibat di situ,” katanya. Agenda itu adalah pendampingan warga terdampak penambangan di Halmahera, Maluku Utara; dapur umum di Bandung untuk berbagi makanan kepada warga yang membutuhkan; serta pendampingan warga dan petani lokal di Cinangga dan Citorek, Lebak, Banten.
Hasilnya, terjual sekitar 5.000 lembar kaus Homicide—yang paling laku adalah yang bergambar Munir hasil lukisan Bahrul Marta. Dana yang terkumpul Rp 100 jutaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/13/99f063a2d519fdcfb9fe7926c3d920a7-20250613AGS_17.jpg)
Selain Homicide, Ucok masih ngerap dengan nama Morgue Vanguard. Pada pertengahan 2024, dia berkolaborasi dengan produser Mardial melepas lagu ”Tentakel” yang mengecam genosida Palestina. Lagu itu dia buat kausnya, bergambar depan pistol Uzi, dan tulisan ”Zionis yang Baik adalah Zionis yang Mati” di bagian belakang. Harganya Rp 175.000. Kaus itu laris. Saat ini habis, tapi mungkin dicetak ulang.
”Keuntungannya sekitar Rp 60 juta-Rp 70 juta. Langsung disumbang ke pejuang Palestina dalam bentuk kripto, enggak lewat lembaga atau yayasan apa pun,” ujarnya.
Kaus Seringai dan Homicide, dengan motivasi masing-masing, menggambarkan betapa produk turunan musik mampu menghidupi. Perputaran uang pada bazar kaus band Merch-Making Market selama tiga hari pada Maret lalu di Jakarta hampir Rp 2 miliar. Di balik angka besar itu ada kegembiraan penggemar, juga sokongan berkarya bagi para pemusik.
Penulis:
Herlambang Jaluardi, Prayogi Dwi SulistyoEditor:
Sarie FebrianePenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari