Barcelona Vs PSG, Keunggulan Intuisi Enrique atas Flick

Tak hanya taktik, seorang pelatih terkadang meraih kemenangan berkat ketajaman intuisi. Pergantian pemain menjadi kunci keunggulan PSG atas Barcelona.

02 Okt 2025 05:46 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

BARCELONA, KAMIS — Hansi Flick barangkali akan menyesali keputusan pergantian pemainnya di babak kedua. Keputusan itu membawa malapetaka saat tuan rumah Barcelona takluk 1-2 dari Paris Saint-Germain di Stadion Olimpiade Lluis Companys, Barcelona, Spanyol, Kamis (2/10/2025) dini hari WIB, dalam lanjutan Liga Champions Eropa. Kedua tim bermain imbang hingga separuh laga hingga intuisi para pelatih membedakan hasil laga.

Selain piawai meramu taktik, seorang pelatih juga dituntut jeli dalam membaca situasi pertandingan. Hal inilah yang diperlihatkan Pelatih PSG Luis Enrique dengan membuat pergantian jitu pada babak kedua. Enrique berjudi dengan menarik gelandang pengatur serangan, Fabian Ruiz, dan memasukkan Goncalo Ramos.

Dari sisi taktik, pergantian itu jelas memicu pertanyaan. Bagaimana mungkin seorang pengatur serangan ditarik keluar di saat tim membutuhkannya untuk mengkreasikan peluang demi mencetak gol tambahan. Jika pun harus memasukkan penyerang, Enrique bisa mengganti pemain lainnya, bukan Ruiz.

Namun, Enrique punya pemikiran tersendiri akan keputusannya tersebut. Terbukti, Ramos akhirnya keluar sebagai pahlawan kemenangan PSG berkat golnya di pengujung laga memanfaatkan umpan silang terukur dari Achraf Hakimi.

Spain Soccer Champions League

”Sangat mengecewakan kebobolan pada menit terakhir dan kalah di kandang. Mereka bermain lebih baik di fase akhir, di babak kedua. Kami memulai pertandingan dengan lebih baik, tetapi mereka bermain lebih baik di babak kedua,” ujar gelandang bertahan Barcelona, Frenkie de Jong, dalam wawancara setelah pertandingan dengan Movistar.

Keputusan Enrique memainkan Ramos di babak kedua sangat mungkin dilatari kecenderungannya menjadi pemain yang mengubah hasil akhir laga. Dalam beberapa musim belakangan, Ramos punya kebiasaan mencetak gol meski memulai laga dari bangku cadangan. Kelebihan ini membuatnya menyamai rekor Kylian Mbappe sebagai pemain pengganti dengan koleksi gol terbanyak dalam sejarah PSG, yaitu 16 gol.

Menyadari kemampuan tersembunyi Ramos sebagai pengubah hasil akhir pertandingan, Enrique memutuskan mengikuti intuisinya sebagai pelatih. Inilah yang membuat Enrique sedikit berbeda dengan kebanyakan pelatih top Eropa lainnya. Seorang pelatih genius tidak hanya dikenang atas kemampuannya mengatur strategi permainan, tetapi terkadang juga dengan keputusan-keputusan cermatnya saat mengganti pemain.

”Bermain di sini (Liga Champions) rumit, jauh dari mudah. ​​Anda harus tahu bagaimana mengelola pertandingan dan mengatasi komplikasi,” kata Enrique.

Hal sebaliknya dilakukan Pelatih Barca Hansi Flick yang memutuskan mengganti bek kiri Gerard Martin dengan Alejandro Balde di babak kedua. Balde bertanggung jawab atas gol kemenangan PSG lantaran tidak menutup pergerakan Hakimi di area yang ia jaga. Saat PSG melancarkan serangan balik, Balde justru bergerak ke tengah yang membuat Hakimi punya ruang memadai untuk menusuk ke jantung pertahanan Barca sebelum melepaskan umpan ke Ramos.

Spain Soccer Champions League

Martin tampil kurang tajam ketika naik membantu serangan. Oleh sebab itulah, Flick memutuskan memainkan Balde yang lebih eksplosif. Hanya saja, keputusan itu berisiko mengingat Balde baru saja pulih dari cedera panjang sehingga kemampuannya membaca permainan belum sepenuhnya kembali.

Memaksa menekan

Di samping pergantian pemain, intuisi Flick juga terbukti tumpul karena terus memaksakan Barca bermain dengan garis pertahanan tinggi. Pendekatan itu bertujuan menggiring para pemain PSG ke dalam perangkap offside. Pergerakan Balde yang kikuk dengan terlambat naik sejajar dengan tiga bek lainnya menggagalkan perangkap offside tersebut.

Garis pertahanan tinggi juga berfungsi sebagai sarana Barca dalam bermain menekan. Ini tampak pada gol pembuka yang dilesakkan Ferran Torres pada menit ke-19. Bola hasil umpan lemah dari Vitinha yang berhasil diambil Lamine Yamal sebelum meneruskannya ke Ferran.

Hanya saja, melawan tim yang dipenuhi pemain-pemain cepat dan teknis seperti PSG, garis pertahanan yang tinggi selalu rentan terhadap serangan balik cepat nan presisi. Gol penyeimbang PSG tercipta ketika bek kiri Nuno Mendes menerobos lini tengah Barca dari dalam dengan umpan sederhana.

Spain Soccer Champions League

Pergerakan Mendes menciptakan situasi tiga pemain PSG melawan tiga pemain Barca di sepertiga akhir pertahanan. Penyerang muda PSG, Senny Mayulu, kemudian memanfaatkan situasi itu dengan mencetak gol balasan pada menit ke-38.

Kemenangan atas Barca memantapkan langkah PSG bersaing di papan atas fase liga Liga Champions. Dengan ini, ”Les Parisiens” sudah mengoleksi enam poin, hasil dari dua kemenangan. PSG menempati peringkat ketiga klasemen, Bayern Muenchen sebagai pemuncak sementara, dan Real Madrid di peringkat kedua.

Adapun Barca tercecer di peringkat ke-16 dari 36 tim setelah mengemas satu kemenangan atas Newcastle United dan satu kekalahan dari PSG. ”Tahun lalu, kami memulai dengan kekalahan di Monako. Tahun ini, kami memulai di markas Newcastle dengan kemenangan. Hari ini kami kalah, pertandingan yang sulit. Kami menghadapi dua lawan yang sangat tangguh,” kata bek Barca, Eric Garcia. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan