China tinggalkan produk Barat setelah membatasi ekspor logam tanah jarang. Kementerian Perdagangan China tak lagi gunakan Microsoft Word di dokumen resmi.
15 Okt 2025 09:00 WIB · Internasional
BEIJING, SELASA — Untuk pertama kalinya, Kementerian Perdagangan China menerbitkan dokumen resmi yang tidak bisa dibuka dengan peranti lunak buatan perusahaan Amerika Serikat, Microsoft Word dan PDF. Dokumen resmi itu hanya dapat diakses melalui WPS Office, perangkat lunak buatan perusahaan teknologi Kingsoft yang berbasis di Beijing.
Langkah tersebut muncul bersamaan dengan kebijakan China untuk memperketat ekspor logam tanah jarang (rare earth). Hingga Rabu (15/10/2025), kebijakan yang diumumkan pekan lalu itu terus memicu gejolak antara China dan Uni Eropa-Amerika Serikat.
UE tengah berkoordinasi dengan negara-negara G7 untuk merespons pembatasan ekspor logam tanah jarang. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam menaikkan tarif impor hingga 100 persen terhadap produk asal Beijing.
Seiring pengetatan ekspor, Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) resmi menghentikan penggunaan format dokumen Microsoft Word (.doc) dan PDF (.pdf) dalam pengumuman serta berkas administratifnya. Kebijakan mulai berlaku Kamis (9/10/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/11/20/d7e08848-82fd-4c22-b7b8-40f705a275d2_jpg.jpg)
Langkah ini baru pertama kali diterapkan oleh Beijing. Sebelumnya, kementerian sepenuhnya memakai Microsoft Word. Sebaliknya, Pemerintah AS sudah menerapkan pembatasan terhadap WPS Office sejak 2021 karena dianggap berisiko terhadap keamanan nasional.
Dikutip media Global Times yang berafiliasi dengan Partai Komunis China, Minggu (12/10/2025), juru bicara MOFCOM mengatakan, kebijakan tersebut bertujuan menjaga keamanan nasional dan memenuhi kewajiban nonproliferasi.
Pengumuman itu tercantum dalam MOFCOM Notice Nomor 62/2025 yang diunggah di situs resmi kementerian. Disebutkan pula, berkas yang dikirim ke kementerian harus sesuai sistem dan format yang ditetapkan.
MOFCOM mewajibkan seluruh pengajuan diserahkan dalam bahasa China. Tujuannya memastikan keseragaman sistem administrasi digital pemerintah.
Microsoft dan Adobe adalah perusahaan Amerika. Jadi, langkah ini mencegah sistem operasi asing menjadi titik sandera.
Perubahan format dokumen ini memicu diskusi warganet China. Banyak pengguna media sosial Weibo menyambut langkah tersebut sebagai sinyal dukungan terhadap peranti lunak dalam negeri.
”Microsoft dan Adobe adalah perusahaan Amerika. Jadi, langkah ini mencegah sistem operasi asing menjadi titik sandera,” tulis seorang pengguna di Weibo.
Warganet China menilai langkah ini menandai meningkatnya kepercayaan China terhadap industri peranti lunak lokal. ”Sinyalnya jelas, industri harus bersiap menuju lokalisasi penuh,” tulis pengguna lain.
”Begitu lembaga pemerintah dan BUMN beralih ke WPS, perusahaan swasta akan mengikuti,” tambah pengguna lainnya.
Hingga berita disusun, belum ada tanggapan resmi dari pelaku usaha di luar China atau lembaga internasional mengenai dampak teknis dari perubahan format tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/12/7e45a137-f182-42b4-a4e2-e5d88d982da4_jpeg.jpg)
Sebelum China meninggalkan Microsoft Word, AS telah lebih dulu menerapkan pembatasan pada WPS Office. Pembatasan itu tercatat di dokumen Federal Register AS bertanggal 8 Januari 2021. Trump menandatangani Perintah Eksekutif 13971 yang berisi perintah membatasi transaksi dengan sejumlah aplikasi asal China, termasuk WPS Office.
Namun, pada 9 Juni 2021, mantan Presiden Joe Biden yang menggantikan Trump mencabut sebagian aturan tersebut melalui Perintah Eksekutif 14034. Perintah Biden itu mengganti larangan otomatis dengan penilaian risiko berbasis bukti.
Kebijakan berikutnya, Perintah Eksekutif untuk Penguatan dan Promosi Inovasi dalam Keamanan Siber Nasional, ditandatangani pada 16 Januari 2025. Aturan ini memperluas kewenangan lembaga federal menilai keamanan peranti lunak asing tanpa menyebut WPS secara khusus. Dengan demikian, saat ini WPS Office tidak lagi dilarang di AS, tetapi penggunaannya di lembaga pemerintah tetap diawasi ketat.
Di China, media berbasis di Hong Kong, South China Morning Post, menyebutkan, penggunaan peranti lunak dalam negeri sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada produk asing. WPS Office yang sekarang digunakan luas di instansi Pemerintah China dinilai akan mendukung strategi jangka panjang menuju kemandirian teknologi serta digitalisasi nasional.
WPS bukan satu-satunya tantangan China pada dominasi perangkat lunak buatan AS. Sebelumnya, lewat HarmonyOS, China menantang iOS dari Apple, Android dari Google, hingga Windows dari Microsoft.
Dikembangkan Huawei, HarmonyOS kini dipakai di berbagai ponsel, tablet, hingga komputer buatan China. Selain buatan Huawei, gawai buatan pabrikan lain China juga memakai HarmonyOS.
Berbagai gawai itu membangun ekosistem berbasis HarmonyOS. Ponsel-ponsel buatan China mayoritas dioperasikan dengan HarmonyOS. Google Play hanya menjadi salah satu pilihan untuk mengunduh aplikasi di ponsel buatan China. Berbeda dari ponsel berbasis Android yang hanya menyediakan Google Play sebagai satu-satunya tempat mengunduh aneka hal.
Bahkan, HarmonyOS disebut menjadi salah satu dasar pengembangan SpaceOS. SpaceOS merupakan perangkat lunak untuk mengoperasikan stasiun antariksa China, Tiangong.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/06/20/20210620-AFP-GKT-Tiangong-Stasiun-Luar-Angkasa-China-mumed_1624183027.png)
Di Kopenhagen, Denmark, Komisioner Perdagangan UE Maros Sefcovic menyebut langkah Beijing memperketat ekspor tanah jarang merupakan tindakan tidak berdasar. Pengetatan itu memaksa sejumlah perusahaan Eropa menghentikan produksi dan menyebabkan kerugian ekonomi.
”Ini bukan soal keamanan atau nonproliferasi. Kebijakan ini menargetkan industri sipil secara langsung,” ujarnya, Selasa (14/10/2025), seusai menghadiri pertemuan dengan para menteri Uni Eropa terkait kebijakan Beijing itu.
Ia mengatakan terus berkomunikasi dengan China untuk mencari solusi. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen memperingatkan, meningkatnya konflik dagang AS-China kembali mengancam perdagangan dunia dan dapat berdampak pada Eropa.
Salah satu anggota UE, Belanda, dalam posisi sulit terkait relasi ekonomi dengan China. Raksasa teknologi Belanda, ASML, memperingatkan potensi tekanan bisnis pada 2026. ”Penjualan bersih kami di China pada 2026 akan menurun signifikan dibandingkan bisnis kuat di sana pada 2024 dan 2025,” kata CEO ASML, Christophe Fouquet, dalam pernyataan pada Rabu (15/10).
ASML merajai produksi mesin untuk pembuatan semikonduktor. China salah satu konsumen penting ASML dan aneka perusahaan terkait produksi perangkat teknologi.
Pada Juli 2025, manajemen ASML memperingatkan risiko geopolitik dan perang dagang pada bisnis mereka dan berbagai perusahaan lain. Sejak era pertama pemerintahan Donald Trump, AS terus membatasi ekspor teknologi ke China. ASML salah satu sasaran tekannan AS.
Dalam laporan pada awal Oktober 2025, Kongres AS menyoroti peran ASML sebagai salah satu pemasok teknologi penting ke China. Mesin-mesin ASML memungkinkan China memproduksi berbagai semikonduktor yang mengotaki berbagai perangkat teknologi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/05/aecbc55f-ec0e-4177-a6bc-525d1413154d_jpg.jpg)
Perusahaan lain dari Belanda, Nexperia, malah terkena tekanan nyata. Pemerintah Belanda secara sepihak mengambil alih kendali manajemen Nexperia.
Sebelumnya, melalui pembelian saham, perusahaan China bernama Wingtech menjadi pengendali Nexperia yang merupakan salah satu produsen semikonduktor. Denhaag memutuskan kendali Wingtech pada Nexperia mengancam keamanan dan kepentingan nasional Belanda dan UE. Oleh karena itu, kendali Nexperia diambil alih secara sepihak dan tanpa mekanisme pasar oleh pemerintah Belanda.
Meski memegang saham mayoritas, Wingtech tak bisa lagi membuat keputusan di Nexperia. Perwakilan Wingtech dilarang menjabat di Nexperia. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan