Baterai EV Kian Beragam, Apa Dampaknya bagi Nikel Indonesia?

Baterai berbasis nikel masih banyak digunakan, khususnya untuk mobil jarak jauh. Namun, baterai litium fosfat terus berkembang dan canggih.

23 Apr 2025 10:00 WIB · Ekonomi

Oleh Aditya Putra Perdana

Baterai kendaraan listrik atau electric vehicle/EV semakin beragam di tengah masifnya pertumbuhan EV di berbagai belahan negara di dunia. Tak lagi bertumpu pada jenis baterai berbasis nikel, tetapi juga kimia lain seperti litium besi fosfat. Sebagai salah satu negara produsen nikel dunia, akankah situasi itu berdampak pada Indonesia?

Laporan Badan Energi Internasional (IEA) pada 5 Maret 2025 menyebutkan, China kini memproduksi tiga perempat baterai EV yang dijual di global. Pada 2024, harga rata-rata baterai EV di China turun lebih cepat dari negara-negara lain. Harga baterai EV di China lebih murah sekitar 30 persen dibandingkan Eropa dan 20 persen dibandingkan Amerika Utara.

Sejumlah faktor yang mendukung kondisi tersebut, salah satunya ialah kenyataan bahwa lebih dari 70 persen dari semua baterai EV diproduksi di China. Hal itu menciptakan pengetahuan yang luas akan manufaktur baterai. Selain itu, juga mendukung kemunculan produsen raksasa, seperti CATL dan BYD, yang mendorong inovasi dan memusatkan keahlian dalam baterai EV.

Faktor lainnya adalah rantai pasok yang terintegrasi, oleh satu perusahaan, sehingga biaya manufaktur baterai bisa ditekan. Selain itu, produsen baterai EV China telah memprioritaskan baterai lithium-iron phosphate (LFP) yang lebih murah. Kendati awalnya baterai LFP diragukan karena rendahnya densitas energi, kini teknologi makin berkembang.

Saat ini, berdasarkan laporan tersebut, harga baterai LFP lebih murah sekitar 30 persen dibandingkan harga baterai nikel, kobalt, mangan (NCM). Akan tetapi, bagaimanapun, NCM tetap lebih unggul dari LFP sehingga tahan lama dan bisa dipakai untuk jarak tempuh lebih jauh.

Warga dalam pengisian daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di kantor PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (20/6/2024). KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 20-6-2024

Data IEA menunjukkan, pangsa pasar penjualan baterai LFP di China meningkat dari 62,4 persen pada 2022 menjadi 74,6 persen pada 2024. Sementara high-nickel menurun dari 34,5 persen (2022) menjadi 24,9 persen (2024). Jenis baterai low-nickel juga menurun dari 3,1 persen (2022) menjadi 0,5 persen (2024).

Namun, di Uni Eropa, penjualan baterai high-nickel masih dominan serta meningkat dari 73 persen (2022) menjadi 76,7 persen (2024). Sementara itu, baterai LFP naik dari 2,9 persen menjadi 10,5 persen pada rentang waktu yang sama. Di negara-negara selain Uni Eropa dan China, baterai high-nickel juga masih dominan, yakni 79,5 persen pada 2024.

Adapun sejumlah produsen EV menggunakan dua baterai untuk tipe mobil yang berbeda. Salah satunya adalah produsen EV asal China, XPeng. Untuk jarak tempuh jauh, digunakan baterai NCM. Sementara untuk jarak lebih pendek, digunakan baterai LFP, dengan harga yang lebih murah.

Chairman of XPeng Technology Committee Gu Jie, dalam workshop EV yang digelar XPeng di Hong Kong, Selasa (15/4/2025), menuturkan, baterai LFP lebih tebal dengan densitas energi lebih rendah dari NCM. Oleh karena itu, perlu upaya lebih dalam hal engineering untuk menyeimbangkan biaya dan performa.

”Pada akhirnya ada tiga faktor utama (dalam baterai), yakni densitas energi, efisiensi saat mengisi ulang daya, dan biaya. Menjadi tantangan kami untuk menyeimbangkan ketiganya. Kami juga punya pilihan lain, yakni LMFP (lithium manganese iron phosphate) dengan densitas energi yang sedikit lebih baik dari LFP,” kata Gu Jie.

Multifaktor

Pada baterai NCM, imbuh Gu Jie, ada sejumlah kombinasi kimia, terutama terkait penggunaan material. Pada akhirnya, dalam pengembangan baterai, ada trade-off. Artinya, ada pengorbanan pada satu aspek untuk mendapatkan keunggulan pada aspek lain. NCM memiliki densitas energi tinggi, tetapi harganya pun akan lebih mahal.

”Ada banyak faktor, sebenarnya. Termasuk juga kemampuan pengisian ulang daya pada suhu rendah. Ketika kami memutuskan penggunaan jenis kimia atau sel (baterai tertentu), semua harus dipertimbangkan,” lanjutnya.

Profesor Chen Qing Quan dari Hong Kong University menuturkan, tren saat ini, kobalt atau C dikeluarkan dari baterai NCM, sehingga hanya menjadi NM. Sebab, kobalt cenderung mahal serta lebih berbahaya.

”Jika hanya N dan M, sebagian orang menyebut (komposisinya) 50-50, tetapi semua tergantung trade off. Pada dasarnya, baterai ada dua ketagori. Pertama untuk EV yang mengincar densitas energi tinggi. Kedua untuk panel surya yang tidak mengincar densitas energi, tetapi usia baterai yang panjang dan biaya murah. Jadi, kuncinya adalah trade off,” ucap Qing Quan.

Quote

Ada tiga faktor utama (dalam baterai), yakni densitas energi, efisiensi saat mengisi ulang daya, dan biaya.

Suasana workshop tentang kelistrikan dan sistem baterai oleh produsen mobil listrik asal China, XPeng, yang diikuti oleh berbagai media massa global, di Hong Kong, Selasa (15/4/2025). Pada Selasa malam, XPeng, yang telah memproduksi sejumlah tipe mobil listrik, menggelar Brand Night Launch di Kai Tak Cruise Terminal, Hong Kong.

Di samping NCM dan LFP, sebagai dua baterai EV yang paling banyak digunakan saat ini, ada juga baterai nikel kobalt aluminium (NCA). Merujuk data IEA pada 2022, NCM menjadi baterai yang paling dominan dengan pangsa pasar 60 persen, disusul LFP yang di bawah 30 persen. Terakhir adalah nikel kobalt aluminium (NCA) yang sebesar 8 persen.

Sementara itu, mengutip laporan McKinsey yang diterbitkan Desember 2024, hasil survei mereka menunjukkan konsumen umumnya menginginkan EV yang mampu menjangkau sekitar 465 kilometer (km) sebelum baterai diisi ulang. Bertahun-tahun, NCM menjadi jenis baterai yang dominan untuk memenuhi kebutuhan itu. Namun, kini LFP mulai mengejar.

Masih strategis

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, dihubungi Selasa (22/4/2025), mengatakan, sejumlah perusahaan mobil listrik memang melakukan diversifikasi. Tak hanya baterai NMC, tetapi juga menggunakan LFP. Namun, hal itu tak serta-merta membuat NMC ditinggalkan karena karakteristik kebutuhannya berbeda.

Menurut Fahmi, nikel sebagai bahan baku baterai EV akan tetap dibutuhkan seiring pesatnya perkembangan EV di sejumlah negara, terutama produsen-produsen asal China. ”Saat ini, (pasar EV) terus meluas sehingga nikel masih tetap strategis. Di sisi lain, ketersediaan litium juga relatif terbatas,” ujar Fahmy.

Sebagai salah satu negara produsen nikel terbesar, investasi pabrik baterai di Indonesia sejatinya menjadi hal menarik bagi para calon investor. Namun, peluang tersebut bisa saja lepas jika sejumlah hambatan investasi tidak segera diatasi.

Iklim investasi mesti diperkuat sehingga para calon investor tidak mundur. ”Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan pentingnya debirokratisasi. Ini perlu diwujudkan dengan memangkas proses perizinan yang panjang dan berjenjang. Namun, bukan berarti kebijakan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) sepenuhnya dihilangkan,” paparnya.

Mixed hidroxyde precipitate (MHP), salah satu produk dari peleburan nikel (smelter) dengan teknologi high pressure acid leaching (HPAL), di kawasan penambangan dan industri pengolahan nikel grup Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Selasa (2/7/2024). Selain MHP, pengolahan nikel dengan HPAL juga menghasilkan cobalt sulfate dan nickel sulfat. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 2-7-2024

Menurut Global Critical Mineral Outlook 2024 oleh IEA, pangsa pasar Indonesia dalam suplai produk tambang nikel (mined output) global meningkat dari 34 persen pada 2020 menjadi 52 persen pada 2023. Sementara pada produk olahahan dan pemurnian (refined output) meningkat dari 23 persen pada 2020 ke 37 persen pada 2023.

Melihat perkembangan EV, permintaan baterai berbasis nikel, yang menawarkan densitas energi tinggi, diprediksi masih akan meningkat. Terlebih jika teknologi makin berkembang dan biaya dapat semakin ditekan. Nikel asal Indonesia punya peluang untuk tetap dilirik pasar dunia. Namun, percepatan hilirisasi nikel di dalam negeri, hingga menjadi baterai, perlu diperkuat.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul