Dilema pertambangan coltan di Republik Demokratik Kongo. Coltan adalah mineral utama yang penting untuk memproduksi elektronik modern dan teknologi pertahanan.
20 Mei 2025 19:17 WIB · Foto
Di deretan pegunungan yang didominasi rumput berwarna hijau di wilayah Masisi, Republik Demokratik Kongo, ada satu punggungan yang seakan terkoyak dengan punggungan berwarna putih. Setiap hari, ribuan pekerja menggunakan alat-alat sederhana: sekop, pacul, dan dibantu selang air, berusaha mendapatkan lumpur berwarna putih di kedalaman tertentu.
Pada sudut lain, belasan orang dewasa berjalan membawa karung berisi lumpur putih di bahunya. Mereka berjalan meniti jalan setapak berkelok, berjalan pelan, sesekali berpegangan pada dinding tanah untuk keseimbangan badannya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/20/01353dc6-3e84-43d8-a20c-9716a9cbc056_jpg.jpg)
Karung itu dikumpulkan pada sebuah dataran yang banyak berisi kotak-kotak kayu berjajar. Tangan-tangan berwarna gelap itu berkali-kali menggoyang-goyangkan kotak kayu sederhana. Telapak tangannya meratakan lumpur putih kecoklatan yang ada di dalam kotak, sambil mengais lumpur, berusaha memisahkan lumpur putih dengan butiran batu kecil berwarna hitam legam. Butiran batu kecil hitam itu lantas dipisahkan dan disimpan untuk dijual.
Nama daerah itu Rubaya. Sebuah penambangan tradisional di Republik Demokratik Kongo, di mana ribuan pria dan wanita bekerja keras untuk mendapatkan columbite tantalite atau coltan, mineral utama yang penting untuk memproduksi elektronik modern dan teknologi pertahanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/20/3c76406e-b674-4d09-9083-e0132534b399_jpg.jpg)
Rubaya terletak di jantung Republik Demokratik Kongo, satu bagian negara Afrika bagian tengah yang kaya mineral, dan selama beberapa dekade telah dicabik-cabik oleh kekerasan dari pasukan pemerintah dan berbagai kelompok bersenjata.
Republik Demokratik Kongo merupakan salah satu negara di Afrika yang kaya akan tambang. Selain emas, Republik Demokratik Kongo juga kaya akan cadangan coltan. Coltan merupakan mineral berbentuk bijih logam hitam kusam. Selanjutnya, ekstraksi dari coltan tersebut menjadi unsur niobium dan tantalum.
Meskipun jarang terdengar, tantalum yang merupakan ekstraksi coltan adalah bahan baku telepon genggam, komputer, elektronik, otomotif, kamera, dan tehnologi pertahanan. Kongo merupakan penghasil terbesar tantalum sebesar 670 metrik ton pada 2020. Disusul oleh Brasil, Rwanda, Nigeria, dan China.
Meski coltan menghasilkan miliaran dollar AS dalam industri global, para petambang yang berada di garis depan rantai pasokan ini hidup dalam kemiskinan. Banyak dari mereka tidak menerima upah layak, bahkan harus menanggung beban biaya kerja sendiri. Ini masih ditambah dengan pekerja anak yang menimbulkan polemik di dunia internasional.
Situasi ini juga mencerminkan kesenjangan mencolok antara kemajuan industri teknologi dan nasib buruh tambang di negara berkembang. Coltan Republik Demokratik Kongo menjadi andalan banyak perusahaan teknologi besar, tetapi keuntungan jarang mengalir kembali kepada pekerja yang menambangnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/20/df787d33-88b1-4856-8282-bab385ad2c55_jpg.jpg)
Pemerintah Republik Demokratik Kongo telah menyuarakan keprihatinan atas kondisi ini. Presiden Republik Demokratik Kongo Felix Tshisekedi berupaya mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Donald Trump, menawarkan akses mineral sebagai imbalan atas dukungan Amerika Serikat dalam meredakan pemberontakan dan meningkatkan keamanan antara Republik Demokratik Kongo dan Rwanda.
Bahati Moïse, seorang pedagang yang menjual kembali coltan dari tambang Rubaya, berharap bahwa terlepas siapa pun nantinya yang mengendalikan tambang tersebut, para pekerja yang bekerja keras untuk mengekstrak mineral tersebut akhirnya akan dihargai sama tingginya dengan sumber daya itu sendiri.
”Seluruh negara, seluruh dunia tahu bahwa ponsel dibuat dari coltan yang ditambang di sini. Namun, lihatlah kehidupan yang kita jalani,” katanya seperti diceritakan Associated Press. ”Kita tidak bisa terus seperti ini.”
Permasalahan coltan Republik Demokratik Kongo kini bukan hanya nilai jual yang layak, tetapi juga nilai kemanusiaan dalam proses penambangannya.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan