Eti Sumiati bersama perempuan petani dari Kamojang menanam kopi kelas dunia untuk masa depan ekonomi mereka dan lahan tempat tinggalnya.
18 Des 2024 19:03 WIB · Tokoh
Eti Sumiati (70) atau akrab disapa Nenek Eti bersama perempuan Lembah Kamojang dalam Kelompok Tani Wanoja adalah bukti dari perjuangan yang berbuah manis. Lewat kopi arabika, mereka menebar cinta dan kemandirian dari desa untuk dunia.
Suasana libur akhir tahun tidak terasa di rumah Eti di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 5 Desember 2024. Justru, aroma arabika menguar ke berbagai sudut rumah yang juga menjadi tempat produksi green bean (biji kopi yang belum disangrai) arabika dari Kelompok Tani Wanoja lebih dari 10 tahun terakhir.
Wanoja atau perempuan dalam bahasa Indonesia adalah kelompok tani kopi yang didirikan tahun 2012, anggotanya kini tercatat lebih dari 100 orang. Sebagian besar adalah perempuan di Ibun. Panen kopi kelompok ini dikirim ke dalam dan luar negeri.
Siang itu, mata Eti tidak lepas dari proses pengiriman. Di hadapannya, tiga karyawan sibuk memasukan green bean ke bak sebuah truk.
Total, kata Eti, ada 600 kilogram. Semuanya akan dikirim ke berbagai kedai kopi di Kota Bandung, sekitar 40 kilometer dari Ibun.
”Ayo kita lihat kebun kopinya,” kata Eti bersemangat setelah truk pergi meninggalkannya pergi ke Kota Bandung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/613ac0b7c9f2ff5bf3de107c675c7f82-Videoshot_20241218_152949.jpg)
Meski usianya tidak lagi muda, semangat Eti seperti hendak menaklukkan semuanya. Setelah naik mobil selama 15 menit, perjalanan dilanjutkan berjalan kaki. Kebun kopinya berada di Lembah Kamojang, letaknya di perbatasan Bandung-Garut.
Di sana, berdiri Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Kamojang. Fasilitas milik PLN itu mampu menghasilkan daya listrik sebesar 140 megawatt.
Turun dari mobil, nenek tiga cucu ini berjalan kaki sekitar 300 meter. Jalan berlumpur setelah hujan bukan halangan buat dia.
Bahkan, dia tidak mengenakan jaket meski udara terbilang dingin di ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut itu.
Setelah berjalan selama 15 menit, kebun itu terhampar di depan mata. Lahan itu milik Perum Perhutani. Luas lahan yang dikelola sekitar 128 hektar. Kelompok Tani Wanoja mengelola kawasan ini melalui Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat.
Bulan ini, mayoritas pohon di kebun sudah mulai menghasilkan buah. Namun, sebagian besar masih berwarna hijau.
Biasanya masa panen di kebun Kelompok Tani Wanoja pada bulan April-Juli. Karena faktor perubahan cuaca, masa panen tahun ini bergeser pada Juni-Agustus.
”Dari kebun ini, kopi arabika Lembah Kamojang dikenal konsumen dalam dan luar negeri, seperti Jepang, Arab Saudi, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat,” papar Eti.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/06/b428ea4b-3b9a-4442-a883-91715976b26f_jpg.jpg)
Pasar luar negeri setidaknya direngkuh sejak tahun 2022. Saat itu, Kelompok Tani Wanoja memproduksi 25 ton green bean. Sebanyak 90 persen untuk pasar lokal dan sisanya dikirim ke luar negeri.
Pada 2023, produksi green bean meningkat hingga 35 ton. Kali ini, penjualan produk mereka di tingkat nasional masih mendominasi hingga 87 persen.
Barulah pada tahun 2024, produksi green bean Wanoja meningkat drastis hingga 80 ton. Konsumen tertinggi produk mereka pun beralih ke mancanegara dengan capaian hingga 63 persen.
Anggota kami yang mayoritas perempuan menjadi lebih mandiri dan berperan di keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Pada 6 September 2024, Eti bersama Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat Muhammad Nur melepas ekspor 18 ton biji kopi green bean ke Belanda. Nilai ekspornya mencapai Rp 2,5 miliar.
Eti meneteskan air mata saat memberikan sambutan. Ia terharu karena perjuangannya bersama anggota kelompok serta karyawan dan bantuan yang tulus dari sejumlah pihak telah mengantar Kelompok Wanoja ke level tertinggi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/06/037cad2a-5f5e-4df0-9565-2eff488cb299_jpg.jpg)
”Alhamdulillah tahun ini kami meraih hasil produksi dan penjualan yang sangat positif. Green bean Wanoja tahun ini sudah diekspor ke banyak negara,” ucapnya.
Atas kerja keras itu, sejumlah prestasi berhasil dipanen. Rangkaian prestasi itu, antara lain, ialah tiga kali juara Kontes Kopi Specialty Indonesia di tahun 2015, 2018, dan 2022.
Wanoja juga menjadi Kelompok Tani Terbaik Tingkat Jawa Barat tahun 2017, meraih Anugerah Pratama Indonesia Kategori Pekebun Terbaik 2020 dari Kementerian Pertanian hingga terakhir Juara Nasional UMKM Ekspor Mandiri Tahun 2024.
Bukan perkara mudah bagi Eti dan Kelompok Tani Wanoja meraih ragam nikmat dari kopi. Eti, misalnya, awalnya bukan petani. Dia pensiunan aparatur sipil negara di Kabupaten Bandung tahun 2010.
Suatu hari, pada awal tahun 2012 di sekitar rumahnya, Eti bertemu sejumlah ibu yang berprofesi sebagai petani kopi. Mereka baru kembali dari kebunnya. Kepada Eti, mereka berkeluh kesah betapa susahnya menjual hasil panen buah ceri. Padahal, semua dijalani sembari mengasuh anak dan keluarga.
Keluhan itu membayangi pikiran Eti. Dia tahu betapa beratnya menjadi seorang ibu yang harus mengurus anak. Bebannya kian berlipat saat perempuan menjadi tulang punggung keluarga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/0081aab3eaaaa1af916c09927e3fbead-IMG_20241205_154052.jpg)
Eti, misalnya, telah kehilangan suaminya, Abas Rustaman, yang berpulang karena sakit pada 2001. Kepergian suami yang mendadak tidak meruntuhkan semangat Eti.
Selain menjadi ASN, dia menekuni berbagai usaha untuk mendapatkan uang tambahan demi menghidupi ketiga anaknya secara mandiri.
Pengalaman hidup dan nasib yang dialami para ibu memotivasi Eti membentuk Kelompok Tani Wanoja pada tahun 2012. Fokus utama kelompok ini memproduksi hingga memasarkan biji kopi arabika. Jumlah anggota perdana kelompok ini hanya enam orang.
Setelah mengumpulkan tekad dan modal usaha dari tabungan pensiunnya, Eti pun terjun sebagai petani kopi arabika. Sepanjang tahun itu ia pun mengikuti bimbingan teknis dari Dinas Pertanian Kabupaten Bandung mengenai teori penanaman, pembibitan, proses panen, hingga pengolahan biji kopi.
Untuk praktiknya, Eti secara langsung belajar kepada pendiri Kopi Malabar Indonesia, Supriatna Dinuri. Sosok guru, bagi Eti, itu memiliki perkebunan kopi di daerah Pangalengan dan sukses melahirkan produk kopi luwak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/54c65ab5f655a6b71fc0c47058d27dc1-IMG_20241205_133414.jpg)
Pada tahun 2014, Eti memulai penanaman beberapa varietas benih arabika. Ia menggunakan benih dari varietas Lini S, Sigarutang, Kartika hingga Andungsari. Kebunnya baru panen raya pada tahun 2016 karena upaya perawatan yang belum optimal.
Eti tak patah arang meskipun banyak anggotanya yang putus asa dan hendak membabat pohon kopi miliknya. Mereka kecewa karena proses panen kopi arabika yang lama dan harga jualnya yang rendah.
“Para anggota saya sempat ingin beralih menjadi petani sayur. Saya terus meyakinkan mereka agar tetap percaya pada proses. Kini mereka sendiri telah menikmati hasil panen arabika setiap tahun,” ungkap Eti.
Selain menjadi pimpinan Kelompok Tani Wanoja, Eti juga merintis UMKM Wanoja Coffee. Ia memiliki 67 karyawan tetap dan lebih dari 30 pekerja lepas. Semuanya warga setempat di Ibun.
Ia mendapatkan bahan baku dari kebun yang dikelolanya dan para petani di Kelompok Tani Wanoja. Total luas kebun yang dikelola Eti bersama 108 petani di Kelompok Wanoja mencapai 128 hektar.
Harga jual buah ceri kopi arabika yang diberikan Eti menguntungkan para petani, yakni Rp 13.500 per kg. Nilai ini lebih tinggi dari harga rata-rata yang diberikan pengusaha lainnya sekitar Rp 10.000-Rp 12.000 per kg.
Raihan banyak prestasi tidak membuat Eti cepat berpuas diri. Bersama Satrea Amambi, anaknya yang membantu Eti sejak tahun 2018, ia terus melahirkan berbagai inovasi demi memacu kuantitas dan kualitas produk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/18/1a99da5b0c621bc79e8167c729d2f3e1-IMG_20241205_132411.jpg)
Tahun ini mereka mengembangkan varietas kopi arabika yang tahan segala kondisi cuaca. Inovasi ini menggunakan benih indukan dari biji varietas Andungsari.
Hasilnya produksi petani bisa lebih tangguh menghadapi dampak perubahan iklim. Buktinya panen buah ceri dari kebun milik Kelompok Wanoja telah mencapai 560 ton tahun ini. Jumlah ini lebih banyak ketimbang panen sebelumnya, 200 ton per tahun.
“Semua pencapaian ini menunjukkan pemberdayaan masyarakat dapat terwujud dengan kesabaran, selalu ingin belajar dan bersinergi dengan pemerintah. Anggota kami yang mayoritas perempuan menjadi lebih mandiri dan berperan di keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tuturnya.
Lahir : Bandung, 18 Agustus 1954
Pendidikan Terakhir : SMA Ciparay
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Cornelius Helmy Herlambang, Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .