Satu pekan terakhir, enam bayi meninggal karena kedinginan di Gaza. Keluarga yang mengungsi karena serangan Israel hanya punya tenda dan terpal sebagai pelindung.
02 Jan 2025 10:15 WIB · Internasional
GAZA, KAMIS — Dalam satu pekan terakhir, setidaknya enam bayi meninggal karena kedinginan di Gaza. Sementara Israel terus saja menyerang lokasi mana saja yang dianggap menjadi tempat persembunyian pejuang kemerdekaan Palestina, termasuk sejumlah rumah sakit.
Serangan udara Israel pada Kamis (2/1/2025) dini hari menyasar kawasan Al-Mawasi di Gaza selatan. Kawasan itu salah satu area yang oleh Israel pernah disebut sebagai zona aman.
Serangan itu menewaskan sedikitnya 10 warga, termasuk anak dan perempuan. Serangan juga melukai 15 orang lain. Sejak menyerbu Gaza pada 8 Oktober 2024, Israel telah membunuh sedikitnya 45.500 warga Gaza.
Bukan cuma pada Kamis, dampak serangan Israel di Gaza terus menewaskan bayi. Kantor berita Palestina, Wafa, Rabu (1/1/2025) melaporkan enam bayi meninggal kedinginan dalam sepekan.
Saya terbangun dan mendapati anak saya sudah kaku seperti balok kayu.
Ali al-Batran yang berusia sebulan menjadi bayi keenam yang meninggal karena kedinginan. Ia meninggal di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa yang berfungsi amat terbatas.
Sehari sebelumnya, saudara kembarnya, Jumaa al-Batran, juga meninggal karena kedinginan di tenda keluarganya yang sedang mengungsi di Deir el-Balah. Yahya al-Batran, ayah dari kedua bayi kembar itu, menceritakan kepala kedua anaknya dingin seperti es.
”Saya terbangun dan mendapati anak saya sudah kaku seperti balok kayu. Saya coba membangunkannya tapi tidak ada respons. Dia sudah kaku dan warnanya biru tua karena kedinginan,” kata Nora al-Batran, ibu dari Ali dan Jumaa, dalam video yang dipublikasikan kantor berita Turki, Anadolu.
Kepala Unit Neonatal di RS Syuhada Al-Aqsa Wisam Shaltout menjelaskan, Ali dan Jumaa lahir prematur dan berada dalam kondisi kritis serta menggunakan ventilator di unit perawatan intensif rumah sakit karena efek hipotermia. Kondisi di dalam tenda dalam cuaca dingin membuat bayi seperti Ali dan Jumaa hampir mustahil untuk bertahan hidup.
Tiga dari enam bayi Palestina yang meninggal karena hipotermia dalam seminggu terakhir tinggal di Al-Mawasi. ”Semua orang kedinginan dan gemetar karena sangat dingin. Mereka yang ada di Al-Mawasi juga lebih kedinginan karena sangat dekat dengan pantai,” kata wartawan Al Jazeera, Hind Khoudari.
Para pengungsi sudah ada di sana lebih dari 14 bulan. Tenda yang dipakai itu-itu saja. ”Tidak ada terpal tenda. Mahal sekali kalau mau beli nilon atau apa saja yang bisa menutupi tenda. Apalagi kalau beli pakaian musim dingin dan selimut,” kata Khoudari.
Bayi berisiko lebih tinggi meninggal karena kedinginan yang parah. Itu karena mereka menghasilkan lebih sedikit panas daripada orang dewasa. Kelaparan memperparah risikonya.
Mereka mudah mengalami hipotermia di lingkungan yang dingin. Bayi yang lahir prematur juga sangat rentan. Padahal, jumlah bayi yang lahir prematur semakin banyak selama perang.
Kondisinya menjadi lebih rentan karena para ibunya juga kekurangan gizi sehingga mereka tidak dapat menyusui bayi mereka dengan cukup. Susu formula bayi juga langka karena pengiriman bantuan kemanusiaan dibatasi.
Hipotermia yang secara harfiah berarti panas di bawah normal adalah suatu kondisi yang terjadi ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat daripada yang dapat diproduksinya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/02/994ed60f74750a5529a33a82727b828b-000_36RV2BW.jpg)
Tubuh biasanya mempertahankan suhu inti yang tetap dan hangat sekitar 37 derajat celsius menggunakan berbagai mekanisme, seperti produksi panas metabolik yang meliputi pencernaan makanan atau menggerakkan otot. Suhu inti harus dipertahankan pada tingkat ini antara kisaran sempit 36,1 derajat celsius dan 37,2 derajat celsius, tergantung pada individu, waktu, dan tingkat aktivitas.
Hal ini memungkinkan organ vital, seperti otak dan jantung, untuk terus berfungsi dengan baik. Namun, ketika tubuh tidak dapat lagi mengimbangi hilangnya panas dan suhu internal turun hingga sangat rendah, tubuh akan memasuki kondisi hipotermia.
Hipotermia bergantung pada suhu inti tubuh, bukan suhu luar, karena seseorang dapat mengalaminya bahkan dalam suhu dingin yang lebih ringan, bukan hanya suhu beku. Seseorang dapat mengalami hipotermia, bahkan pada suhu di atas 4 derajat celsius jika mereka kedinginan karena hujan, angin, atau terendam dalam air dingin.
Secara medis, hipotermia dimulai ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat celsius, kira-kira dua derajat lebih rendah dari suhu rata-rata. Tingkat keparahan kondisi ini bergantung pada seberapa rendah suhu internal turun. Hipotermia ringan akan terjadi pada suhu 32-35 derajat celsius, hipotermia sedang 28-32 derajat celsius, dan hipotermia berat di bawah 28 derajat celsius.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/02/f21c98b7-3a2c-41e6-a3d2-b1b37cd95715_jpg.jpg)
Apa yang terjadi pada tubuh bergantung pada tingkat keparahan dan tahap hipotermia. Selama paparan dingin awal, tubuh mulai kehilangan panas melalui kulit. Angin atau air mempercepat proses ini dengan menghilangkan lapisan tipis kehangatan di sekitar tubuh.
Untuk mempertahankan panas, pembuluh darah di kulit menyempit, mengurangi aliran darah ke permukaan. Hal ini membuat lebih banyak panas berada di dekat organ vital. Akan tetapi, proses ini menyebabkan jari tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya terasa dingin dan mati rasa.
Untuk menghasilkan lebih banyak panas, tubuh mulai menggigil, pernapasan dan detak jantung meningkat untuk memompa darah hangat ke organ vital serta mendukung metabolisme. Namun, kebingungan ringan, kecanggungan, dan kelelahan mungkin terjadi saat dingin mulai memengaruhi otak dan otot.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/02/849052445b01696bf0f8952d5935ca75-000_36RM74V.jpg)
Saat paparan dingin berlanjut, kehilangan panas melampaui upaya internal tubuh untuk menghasilkan panas dan hipotermia sedang pun terjadi. Menggigil berhenti saat otot kehabisan energi, dan lingkaran umpan balik memperburuk situasi: saat metabolisme melambat, tubuh menghasilkan lebih sedikit panas.
Denyut jantung, pernapasan, dan proses metabolisme melambat saat tubuh mencoba menghemat energi. Saat lingkaran setan ini berlanjut, kesenjangan antara panas yang hilang dan panas yang dihasilkan semakin besar. Akhirnya, penurunan suhu internal menjadi parah.
Kemampuan otak untuk berfungsi menurun, yang menyebabkan ketidaksadaran. Dingin mengganggu sistem kelistrikan jantung, menyebabkan ritme tidak teratur yang dapat menyebabkan serangan jantung. Jika tidak segera mendapat perawatan, fungsi vital dapat gagal total dan mengakibatkan kematian.
Apakah hipotermia bisa dihentikan? Hipotermia dapat dihentikan jika langkah-langkah tepat waktu diambil.
Pemulihan dari hipotermia sedang hingga ringan meliputi memindahkan orang tersebut ke lingkungan yang hangat dan kering, melepaskan pakaian basah, dan menutupinya dengan selimut untuk menghangatkan tubuh. Minuman hangat non-alkohol dapat membantu jika orang tersebut sadar.
Namun, hipotermia parah sering kali memerlukan intervensi medis. Ini termasuk pemanasan pasif dengan selimut yang dipanaskan atau teknik pemanasan aktif seperti pemberian cairan infus hangat atau pemanasan darah.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/02/6a42ad93-f5c1-4a1b-ada8-8c12c887de91_jpg.jpg)
Penghangatan darah melibatkan pengambilan darah dari tubuh, biasanya melalui kateter besar, menghangatkannya dengan mesin khusus, dan memasukkannya kembali ke dalam tubuh. Intervensi medis menjadi lebih sulit juga jika suhu semakin dingin.
Pada minggu terakhir bulan Desember 2024 di Gaza, suhu siang berkisar antara 19-20 derajat celsius. Sementara suhu terendah di malam hari antara 11-12 derajat celsius.
Bagi mereka yang tinggal di tenda, pakaian dan selimut basah akibat hujan lebat dan angin kencang. Selama bulan-bulan musim dingin, khususnya di bulan Januari, suhu terendah rata-rata dapat turun dan sekitar 9 derajat celsius dan suhu tertinggi di siang hari mendekati 18 derajat celsius.
Hujan lebat dan lokasi di pesisir pantai membuat kamp-kamp pengungsian terasa lebih dingin. Desember dan Januari juga merupakan bulan-bulan terbasah di Gaza. Salju biasanya tidak turun di Gaza tetapi kejadian langka seperti itu pernah dilaporkan di masa lalu, seperti pada Desember 2013.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/02/93afbf7c-4515-4374-8bd3-e8e32f70e50b_jpg.jpg)
Kondisi kemanusiaan memburuk di Gaza. Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, sedikitnya 45.300 warga Palestina tewas dan 1.200 warga Israel tewas. Setidaknya 17.492 dari mereka yang tewas adalah anak-anak.
Terlahir dalam perang, anak-anak berusia paling muda di Gaza kini berjuang melawan dingin. Puluhan ribu warga Gaza yang mengungsi tinggal di perkemahan reyot di sepanjang pantai. Mereka hanya memakai tenda dan terpal yang tidak layak huni untuk melindungi mereka dari dingin dan hujan.
Tenda-tenda yang dulunya sangat susah diperoleh sehingga dianggap sebagai barang mewah, sebagian besar sudah hancur setelah setahun terpapar cuaca. Banyak yang sudah bocor dan tak bisa melindungi dari angin dingin yang menggigit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/02/031bd846bf9e4b69e3e4c588f5546935-000_36RU273.jpg)
Listrik juga hampir tidak ada dan tidak cukup bahan bakar untuk menyalakan generator. Para pengungsi kekurangan selimut dan pakaian hangat serta tak punya cukup kayu untuk membuat api unggun.
”Anak-anak di Gaza kedinginan, sakit, dan trauma. Banyak anak yang hanya memakai pakaian tipis untuk musim panas. Karena gas untuk masak habis, banyak yang mencari plastik di antara puing-puing untuk dibakar,” kata juru bicara Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk anak-anak (Unicef) Rosalia Bollen yang mengunjungi kamp-kamp pengungsi di Gaza.
Layanan darurat pertahanan sipil Palestina memperingatkan suhu yang akan turun dan mendesak para pengungsi untuk bersiap. Mereka merekomendasikan untuk minum-minuman hangat, memakai pakaian berlapis, dan berolahraga untuk menghasilkan panas tubuh.
Orangtua juga diminta terus memantau suhu tubuh anak-anak dan menjaga bayi tetap hangat. Namun, dengan hujan lebat yang diperkirakan akan turun dalam beberapa hari mendatang dan suhu terendah di angka sekitar 4 derajat celsius, upaya itu mungkin tidak cukup untuk mencegah anak-anak kedinginan.
Nora al-Batran mengaku sudah melakukan yang terbaik untuk kedua anaknya tetapi butuh lebih banyak bantuan. ”Saya membungkus mereka dengan pakaian berlapis tetapi sia-sia. Tidak ada tempat yang terlindung. Tidak ada pemanas. Kami tak punya cukup pakaian dan selimut,” ujarnya.
Yahya menceritakan tidak ada listrik juga. Airnya pun dingin. Karena tidak ada gas, tidak ada pemanas atau makanan yang panas. ”Anak-anak saya meninggal di depan mata saya dan tidak ada yang peduli,” ujarnya.
Pasukan Israel telah mengungsikan hampir seluruh dari 2,3 juta penduduk Gaza dan memaksa puluhan ribu dari mereka tinggal di tenda-tenda darurat di kamp-kamp terbuka di sepanjang pantai yang berangin dan hujan. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari