Bekal Analisis Shin Tae-yong untuk Timnas Indonesia Jelang Lawan Bahrain

Timnas Indonesia akan menjalani laga krusial yang harus dimenangi melawan Bahrain. Bekal analisis Shin Tae-yong bisa jadi pengingat tim ”Garuda”.

22 Mar 2025 07:59 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

JAKARTA, KOMPAS — Meski sudah tidak lagi melatih timnas Indonesia, Shin Tae-yong bersedia memberikan analisis terkait kekalahan telak 1-5 dari Australia. Pelatih asal Korea Selatan itu menilai ada tiga penyebab kekalahan timnas yang harus segera dievaluasi untuk meraih hasil maksimal kontra Bahrain di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (25/3/2025).

Analisis tersebut disampaikan Shin seusai menghadiri acara nonton bareng laga Indonesia menghadapi Australia di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Sebagaimana kebiasaannya saat masih mendampingi tim, Shin juga tidak bisa menyembunyikan ekspresi kegundahannya saat menyaksikan Indonesia dibantai Australia.

Ia terlihat memegangi kepala serta menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat gawang Indonesia kebobolan atau gagal memanfaatkan peluang emas. Selama menangani Indonesia, Shin memang dikenal sebagai pelatih yang ekspresif. Shin tidak ragu berdebat dari tepi lapangan jika sejumlah keputusan wasit ia nilai merugikan Indonesia.

Setelah tidak lagi menjadi bagian dari timnas Indonesia akibat kontraknya diputus oleh PSSI, Shin masih bersedia memberikan sepenggal analisis terkait performa mantan anak asuhnya saat kalah dari Australia. Menurut Shin ada tiga hal yang menjadi momen titik balik kekalahan Indonesia meski aktif menyerang, yaitu kegagalan eksekusi penalti Kevin Diks, luput mengawal pemain lawan, dan kelemahan antisipasi bola mati.

”Tentunya (lawan) banyak lepas waktu momen man to man marking. Jadi mungkin penyebab kekalahan itu. Ya juga ada di set-piece. Sangat disayangkan sebenarnya tidak perlu sama sekali kebobolan gol dari set-piece,” kata Shin.

Indonesian players stand for their national anthem before their their soccer World Cup qualifying match against Australia at the Sydney Football Stadium, Sydney, Australia, Thursday, March 20, 2025. (AP Photo/Mark Baker)
Quote

Para pemain bekerja keras, memang ’pressing; para pemain depan sudah baik.

Bersama pelatih baru, Patrick Kluivert, timnas Indonesia tampil dominan atas Australia sejak awal laga. Tim ”Garuda” bahkan mendapatkan dua peluang emas untuk unggul lebih dulu. Pertama melalui sundulan Jay Idzes yang masih bisa digagalkan Mathew Ryan. Kedua melalui penalti Kevin Diks yang membentur tiang gawang.

Momen penalti Diks adalah klimaks dari skema menyerang yang diinstruksikan Kluivert. Menghadapi Australia di markasnya, para pemain Indonesia bermain menekan dengan mencoba mengganggu para pemain Australia saat membangun serangan dari belakang. Teknik menekan dari depan itu merupakan salah satu konsekuensi dari ide bermain ”total football” yang dibawa Kluivert.

Meski hanya sempat berlatih sebanyak dua kali, lini depan timnas Indonesia yang dihuni Rafael Struick, Ole Romeny, dan Marselino Ferdinan relatif mampu menerjemahkan isi kepala Kluivert ke atas lapangan. Hal ini diakui pula oleh Shin yang memuji kerja keras para pemain depan Indonesia dalam melakukan pressing.

”Para pemain bekerja keras, memang pressing para pemain depan sudah baik,” ucap Shin.

Namun, sepak bola mengandung hukum aksi-reaksi. Saat satu tim menciptakan formula, tim lawan akan mengembangkan antiformula untuk meredamnya. Dalam kasus Indonesia, menghadapi Australia yang fasih dalam bertahan menggunakan pendekatan menekan adalah kekeliruan besar.

Indonesia's coach Patrick Kluivert watches his players train ahead of the World Cup qualifying match against Australia at the Sydney Football Stadium, Sydney, Australia, Wednesday, March 19, 2025. (AP Photo/Mark Baker)

Itu diperparah dengan struktur pertahanan Indonesia yang berantakan. Kluivert sangat bagus dalam melatih pressing para pemain Indonesia, tetapi ia agaknya luput menyiapkan bantalan rest defence yang layak saat Australia mengancam lewat serangan balik.

Kelengahan dalam rest defence ini yang pada akhirnya membuat para pemain Australia tampak sangat leluasa mengalirkan bola saat menyerang balik. Akibat pressing tinggi, tiga Idzes dan Calvin Verdonk yang seharusnya tetap di posisinya tertarik hingga bergerak jauh ke depan. Pergerakan Idzes dan Verdonk menciptakan lubang di pertahanan yang mampu dimanfaatkan Australia dalam mencetak gol kedua.

Dominasi penguasaan bola Indonesia bukan disebabkan pendekatan menyerang Kluivert. Sebaliknya, itulah senjata Australia. ”Socceroos” sengaja membiarkan Indonesia menyerang agar meninggalkan lubang.

Shin mengetahui muslihat Australia yang sengaja membiarkan lawan menguasai bola lalu memukul balik lewat transisi kilat. Hal ini pernah dialami Shin saat Indonesia kalah 0-4 dari Australia pada Piala Asia 2024. Belajar dari pengalaman itu, Shin memilih pendekatan bertahan agar tidak dieksploitasi Australia pada pertemuan pertama kualifikasi Piala Dunia 2026 di Jakarta. Hasilnya, Indonesia mampu menahan Australia 1-1.

Berbeda dengan Shin, Kluivert terkesan sedikit naif dengan tetap memaksakan strategi menyerang total melawan Australia yang terorganisasi sangat baik dalam transisi. Pada laga selanjutnya, Kluivert bersama dua asistenya, Alex Pastoor dan Danny Landzaat, mesti menerapkan pendekatan atau strategi yang lebih cocok untuk menghadapi Bahrain. Filosofi total football memang terlampau agung untuk dinegasikan, tetapi taktik yang merupakan antiformula dari lawan jauh lebih mendesak diterapkan.

Hasil akhir mungkin akan sangat berbeda andai Diks mampu mengonversi penalti menjadi gol. Bisa unggul lebih dulu di awal laga kemungkinan besar memaksa Australia merevisi strateginya. Tim besutan Tony Popovic itu akan terpancing bermain lebih maju dan terbuka demi mengejar defisit gol. Inilah petuah tersirat kedua Shin tentang memanfaatkan peluang sekecil apa pun, apalagi penalti, untuk menjadi gol.

Menghadapi Bahrain, kelengahan tim ”Garuda” dalam mengantisipasi set piece (bola mati) tidak boleh terulang. Tiga dari lima gol Australia berasal dari skema set piece. Pemain Bahrain yang kuat dalam duel satu lawan satu serta bola udara akan sangat diuntungkan apabila Indonesia tidak segera membenahi kelemahan tersebut.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari