Bekal dan Tantangan Janice Tjen

Janice Tjen kalah pada babak kedua Grand Slam Amerika Serikat Terbuka. Kini, petenis putri Indonesia itu memiliki bekal untuk tantangan lebih besar.

28 Agt 2025 14:21 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Langkah Janice Tjen di arena Grand Slam Amerika Serikat Terbuka berakhir pada babak kedua. Bermain melawan petenis top dunia di stadion besar menjadi pengalaman bagi petenis tunggal putri Indonesia itu untuk menjalani tur berikutnya di arena tenis profesional.

Setelah memenangi tiga pertandingan kualifikasi lalu mengalahkan petenis ranking ke-26 dunia Veronika Kudermetova pada babak pertama, Janice mendapat kesempatan terbesar dalam kariernya sebagai tenis profesional sejak 2018. Janice bermain melawan Emma Raducanu pada babak kedua, Rabu (27/8/2025), dan kalah dengan skor 2-6, 1-6.

AS Terbuka adalah salah satu dari empat turnamen Grand Slam yang digelar setelah tiga turnamen laen, yaitu Australia Terbuka, Perancis Terbuka, dan Wimbledon. Grand Slam di lapangan keras ini berlangsung di Flushing Meadows, New York, yang memiliki stadion tenis terbesar di dunia, Arthur Ashe, dengan kapasitas 24.000 penonton.

Raducanu adalah petenis Inggris dengan peringkat ke-36 dunia. Posisinya di AS Terbuka 2025 bukan unggulan, tetapi Raducanu adalah juara turnamen ini pada 2021. Sama seperti Tjen, Raducanu menjalani AS Terbuka 2021 sebagai petenis kualifikasi. Atlet keturunan Romania dan China itu pun menjadi ”darling” di AS Terbuka.

Dengan perjalanan itu, Raducanu mendapat Stadion Louis Armstrong sebagai tempatnya bertanding pada babak kedua dan Janice turut mendapat kesempatan tersebut. Stadion yang namanya diambil dari musisi jazz terkenal yang tinggal di Queens, New York, itu adalah stadion terbesar kedua di Flushing Meadows dengan kapasitas 14.000 penonton.

Janice Tjen, of Indonesia, returns a shot to Emma Raducanu, of Great Britain, during the second round of the U.S. Open tennis championships, Wednesday, Aug. 27, 2025, in New York. (AP Photo/Andres Kudacki)

Saat Janice dan Raducanu bermain, kursi di stadion memang tak terisi penuh, tetapi itu tetap menjadi kesempatan langka bagi petenis usia 23 tahun tersebut. Petenis yang bisa tampil di dua stadion besar itu adalah petenis tertentu, seperti petenis unggulan, atlet tuan rumah, atau petenis yang dinilai bisa mendatangkan banyak penonton, tentu saja, bersama lawan mereka.

Janice kesulitan untuk bermain agresif seperti saat melawan Kudermetova. Dia kalah pada hampir semua indikator statistik pertandingan, kecuali pada pukulan di depan net. Janice mendapat poin dari semua (enam) pukulan net (100 persen), sedangkan persentase keberhasilan Raducanu dalam pukulan ini adalah 33 persen (satu poin dari pukulan).

Meski demikian, taktik tersebut tak cukup untuk mengalahkan Raducanu yang membuat 16 winner (delapan di antaranya dari as). Dia juga empat kali mematahkan servis lawan. Janice kalah dalam pertandingan yang berlangsung tepat satu jam.

”Dia bermain sangat bagus, mengalahkan petenis-petenis kuat dalam kualifikasi dan unggulan pada babak pertama. Saya yakin, dia bisa membangun rasa percaya diri dari penampilan pekan ini. Saya menantikan terjadinya pertemuan kami berikutnya,” komentar Raducanu tentang Janice.

Dalam perjalanan berikutnya, Raducanu akan berhadapan dengan unggulan kesembilan Elena Rybakina. Untuk melawan juara Wimbledon 2022 itu, Raducanu membawa kepercayaan diri dari penampilan saat melawan petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka di Wimbledon dan WTA 1000 Cincinnati pada tahun ini.

Raducanu kalah dalam dua pertandingan tersebut, tetapi bisa memberi perlawanan ketat, salah satunya saat kalah 6-7 (3), 6-4, 6-7 (5) pada babak kedua WTA Cincinnati, dua pekan sebelum AS Terbuka.

NEW YORK, NEW YORK - AUGUST 27: Emma Raducanu of Great Britain serves against Janice Tjen of Indonesia during their Women's Singles Second Round match on Day Four of the 2025 US Open at USTA Billie Jean King National Tennis Center on August 27, 2025 in the Flushing neighborhood of the Queens borough of New York City.   Clive Brunskill/Getty Images/AFP (Photo by CLIVE BRUNSKILL / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Sementara perjalanan Janice akan berlanjut untuk bisa naik kelas dalam persaingan profesional tenis putri. Dengan ranking ke-149 saat AS Terbuka dimulai, Janice mengikuti turnamen profesional level rendah dalam kalender kejuaraan ITF. Enam level World Tennis Tour (WTT) dalam turnamen putri ITF berada di bawah WTA Tour yang terdiri dari WTA 250, 500, dan 1000. 

Ditempa di NCAA

Janice, kelahiran Jakarta, 6 Mei 2002, mendapat gelar pertama turnamen ITF sirkuit yunior pada 2016 dari nomor ganda putri, lalu dari tunggal putri pada tahun berikutnya. Dia mulai bersaing dalam turnamen profesional pada 2018.

Biaya sangat besar yang dibutuhkan untuk menjalani tur profesional membuat orangtua Janice, sebagai pendukung utama dalam kariernya, memilihkan jalur tenis universitas. Dia kuliah di University of Oregon lalu ditransfer ke Pepperdine University pada 2021 dan lulus pada 2024 dari jurusan sosiologi.

Menjadi petenis universitas, kemampuan Janice ditempa di NCAA, kompetisi olahraga antaruniversitas di Amerika. Kompetitifnya persaingan menjadikan NCAA sebagai wadah pemandu bakat dan sponsor dalam membidik atlet-atlet bertalenta. 

Dalam wawancara seusai memenangi babak pertama AS Terbuka, Janice mengatakan bahwa tenis universitas menempanya untuk menjadi manusia dan atlet lebih baik. 

Janice Tjen berusaha mengembalikan bola ke arah Emma Raducanu pada pertandingan babak kedua AS Terbuka di New York, Rabu (27/8/2025).

Setelah lulus kuliah, Janice kembali ke tenis profesional seperti saran pelatihnya di universitas. Aldila Sutjiadi, petenis Indonesia yang aktif bertanding di WTA Tour dalam nomor ganda, termasuk yang mendukung Janice meneruskan karier di turnamen profesional. Bagai kakak, Aldila menjaga dan berbagi pengalaman dengan Janice.

Janice kembali ke turnamen tanpa ranking dan bertanding pada level terendah ITF W15 Minatsir, Tunisia, Juni 2024. Sejak saat itu, dia meraih 13 gelar juara dari 22 final.

Saat mengikuti tiga turnamen di Selandia Baru pada Desember 2024, Janice bertemu Chris Bint, orang Inggris yang menjadi pelatih tenis nasional Selandia Baru. Dia juga melatih Vivian Yang, alumnus Pepperdine yang juga teman Janice.

Diceritakan dalam The Athletic, Bint mengikuti Janice saat menjalani empat turnamen di Korea Selatan, April dan Mei 2025. Janice meraih dua gelar dari tiga final.

Diyakinkan oleh penampilan Janice, Bint berhenti dari pekerjaannya di Selandia Baru dan melatih atlet asal Jakarta itu. Fokusnya adalah mengembangkan akurasi servis dan menaikkan level kemampuan dalam permainan net. Mereka menganalisis permainan para nama besar, yaitu Ash Barty, Roger Federer, Rafael Nadal, dan Carlos Alcaraz.

APTOPIX US Open Tennis

Faktor lain yang mendapat perhatian adalah nutrisi dan pola istirahat Janice. Mereka menambahkan pelatih fisik dari Pepperdine dalam tim, juga fisioterapis dari Indonesia. Di sela latihan, Janice dan pelatihnya bermain video game Mario Kart dan Monopoly Deal. 

Perjalanan bersama tim pelatih membawa Janice merasakan pengalaman pertama tampil di panggung Grand Slam. Dia menjadi petenis pertama Indonesia di nomor tunggal yang bermain di Grand Slam sejak Angelique Widjaja bermain di AS Terbuka 2004. Kemenangan atas Kudermetova membuat Janice sebagai petenis tunggal Indonesia yang memenangi pertandingan Grand Slam setelah Angelique menang pada babak pertama Wimbledon 2003. 

”Saya bangga bisa mengukir sejarah untuk Indonesia. Semoga pencapaian ini bisa menjadi inspirasi petenis yunior Indonesia untuk yakin bahwa mereka pun bisa bermain di Grand Slam,” ujar Janice untuk Kompas dalam wawancara melalui perwakilan WTA.

Bertambahnya poin ranking dan hadiah uang sekitar Rp 2,5 miliar menjadi modal bagi Janice untuk menjalani perjalanan berikutnya dengan target dan tantangan lebih besar. Jika bisa menembus WTA Tour, Indonesia akan punya nama Janice selain Aldila yang tampil di WTA Tour.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul