Maroko bukan lagi ”kuda hitam” dalam persaingan sepak bola dunia. Tim muda dan senior ”Singa Atlas” meraih prestasi apik di ajang dunia.
21 Okt 2025 13:18 WIB · Olahraga
Tiga tahun terakhir, sepak bola Maroko berada di level yang belum pernah mereka sentuh sebelumnya. Gelar juara Piala Dunia U-20 Chile 2025, seusai mengalahkan Argentina, 2-0, di final, Senin (20/10/2025) WIB, menegaskan peningkatan signifikan sepak bola negara Afrika Utara itu. Namun, prestasi itu tak dicapai lewat jalur instan.
Maroko pernah berada di titik nadir setelah mereka gagal lolos ke Piala Dunia pada periode 2002 hingga 2014. Namun, era kegalapan itu telah dilupakan setelah skuad ”Singa Atlas” mampu menembus semifinal Piala Dunia Qatar 2022. Capaian itu tercatat sebagai perjalanan terbaik tim Afrika, juga duta wilayah Arab, di turnamen sepak bola terakbar tersebut.
Setelah penampilan gemilang di Qatar, seluruh tim sepak bola Maroko, tim yunior dan tim putri, ibarat memiliki magnet untuk menarik banyak prestasi. Mereka membuktikan itu dengan dikalungkan medali perunggu di Olimpiade Paris 2024. Prestasi itu didahului juga dengan gelar juara Piala Afrika U-23 2024.
Raihan kampiun Piala Dunia U-20 2025 kian menegaskan regenerasi skuad timnas Maroko belum akan berakhir. Gelar juara di Chile ditempuh dengan melawan kemustahilan.
Mereka tampil untuk pertama kali di Piala Dunia U-20 setelah absen selama dua dekade sejak edisi Belanda 2005. Mereka unggul dari tiga tim yang punya tradisi bagus di turnamen yunior, seperti Brasil, Meksiko, dan Spanyol, pada fase grup. Kemudian, Perancis dan Argentina ditakklukan pada dua pertandingan terakhir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/21/4fd73ed5-5d4d-4e70-853d-f66ff133dd46_jpg.jpg)
Pelatih Tim U-20 Maroko Mohamed Ouahbi menegaskan langkah ambisius sepak bola Maroko. Setelah membawa timnya juara dunia, Ouahbi tidak segan menyebut beberapa anak asuhannya bisa memperkuat kedalaman skuad tim senior untuk Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
”Kami (Maroko) tidak menunggu Piala Dunia 2030 (ketika menjadi salah satu tuan rumah) untuk berusaha menjadi juara dunia. Maroko akan berusaha lagi pada 2026,” ujar Ouahbi dilansir laman FIFA.
Ucapan Ouabhi bukan isapan jempol belaka. Maroko akan menuju Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan generasi emas. Bukan hanya di tim senior, tetapi juga kedalaman skuad mereka amat tebal karena ditopang juga tim U-23 peraih perunggu Olimpiade 2024 dan tim U-20 yang menaklukkan dunia.
”Saya pikir tidak ada kesempatan lebih baik bagi kami untuk mengejar (gelar Piala Dunia) itu,” ujar Ouahbi kemudian.
Keberhasilan Singa Atlas meraih dua prestasi apik dalam dua tahun terakhir hingga berani bermimpi meraih Piala Dunia adalah buah dari proses panjang. Kebangkitan sepak bola Maroko berawal dari proyek akbar yang diinisiasi Presiden Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) Fouzi Lekjaa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/21/2dbe3bd8-aece-44f9-abfb-385d159e98dd_jpg.jpg)
Sejak memimpin sepak bola Maroko pada 2014, Lekjaa, seorang teknokrat, mengatur ulang program pembinaan. Hal itu dilakukan tidak hanya untuk timnas, tetapi juga untuk klub-klub di seluruh Maroko.
Ia membantu timnas dan klub-klub memugar ulang infrastruktur olahraga demi menunjang program pembinaan dan latihan para pemain. Lekjaa mempertajam visi besar Raja Mohammed VI yang membangun akademi sepak bola pada 2009.
Nilai investasi yang dikeluarga kerajaan monarki ialah 13 juta euro atau sekitar Rp 250 miliar untuk akademi yang bertujuan membentuk pemain masa depan timnas. Akademi Mohammed VI sekarang adalah tambang emas bagi Maroko sekaligus salah satu akademi sepak bola terbaik di dunia.
Kami memulai dengan membangun pusat latihan untuk pemain muda dan klub. Kami sudah menambah sejumlah akademi baru di Casablanca dan Berkane.
Pilar utama Maroko di Piala Dunia 2022 adalah hasil tempaan akademi bergengsi itu, di antaranya, Nayef Aguerd, Youssef En-Nesyri, dan Azzedine Ounahi. Lulusan Akademi Mohammed VI itu juga menyumbang nyaris sebagian anggota skuad untuk tim di Piala Dunia U-17 2023, Piala Dunia Putri 2024, dan Piala Dunia U-20 2025.
Demi mendukung program negara, Lekjaa juga menitikberatkan pembinaan sepak bola putri secara serius. Ia menggunakan dana bantuan FIFA untuk Covid-19 sebesar 500.000 dollar AS (Rp 8,28 miliar) untuk pembinaan sepak bola putri di seantero Maroko.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/21/ac901cef-60a6-451b-8930-e65f46eefcdf_jpg.jpg)
Selain itu, federasi juga menyempurnakan stadion-stadion megah buatan negara sejak 2006 agar memenuhi standar FIFA. Tak heran, FIFA memberikan lampu hijau kepada empat stadion lama yang diajukan Maroko untuk menggelar Piala Dunia 2030 mendatang.
Omar Khyari, penasihat Presiden FRMF, mengungkapkan, pembangunan infrastruktur baru menjadi penting dalam perkembangan sepak bola Maroko. Kata dia, penting bagi timnas dan klub memiliki sejumlah stadion berstandar internasional.
”Kami memulai dengan membangun pusat latihan untuk pemain muda dan klub. Kami sudah menambah sejumlah akademi baru di Casablanca dan Berkane,” kata Khyari dilansir Africa News.
”Setelah infrastruktur rampung, kami bekerja untuk membenahi tata kelola klub. Pembenahan manajemen dan finansial klub adalah kunci untuk membentuk klub solid. Jadi, membentuk timnas yang kuat dan salah satu terbaik di dunia jelas butuh klub yang kuat,” ucapnya kemudian.
Pelatih Tim U-20 Argentina Diego Placente menyebut pemain-pemain Maroko sudah berkembang pesat. Maroko tidak sekadar memiliki pemain-pemain berbakat alami.
”Sekarang mereka memiliki pemain yang berbekal kondisi fisik lebih baik, memiliki pemahaman taktik, dan punya mentalitas pemenang,” kata Placente.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/21/830cff5c-0801-4e5c-a38a-8ff9c395f392_jpg.jpg)
Setelah pembinaan dirombak ulang baik untuk akademi khusus negara dan milik klub, lalu membangun stadion dan pusat latihan milik timnas dan klub, FRMF melanjutkan program dengan memburu pemain-pemain diaspora.
Skuad U-20 serupa dengan tim senior yang memadukan pemain lokal dengan pemain diaspora yang lahir dan tumbuh di Eropa. Sebanyak 23 pemain yang dibawa Ouahbi ke Chile terdiri dari pemain yang besar di Maroko serta empat negara Eropa, misalnya Spanyol, Belanda, Perancis, dan Belgia.
Othmane Maama, peraih Bola Emas Piala Dunia U-20 2025, lahir di Perancis dan telah membela klub Inggris, Watford. Adapun Yassir Zabiri, pencetak dua gol di partai puncak, adalah kelahiran Marrakesh (Maroko) yang merupakan generasi terkini lulusan Akademi Mohammed VI. Zabiri berkarier untuk klub Portugal, Famalicao.
Ouahbi mengakui, proyek yang telah dijalankan FRMF berjalan dengan baik dan menjadi fondasi untuk performa berprestasi timnas. ”Proyek kami sudah berjalan dalam beberapa tahun. Ini sangat berarti bagi kami karena kami bisa sangat dekat untuk memenangi Piala Dunia. Kami sudah memiliki pemain yang bisa bersaing melawan tim dan pemain terbaik,” katanya. (AFP)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto