Belanda-Jerman Tuding Rusia Pakai Senjata Kimia di Ukraina

Rusia mengaku sudah menghancurkan senjata kimia mereka per 2017.  Belanda-Jerman mengaku ada bukti memakai senjata kimia di Ukraina.

04 Jul 2025 20:30 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

DEN HAAG, JUMAT — Rusia kembali dituding memakai senjata kimia di Ukraina. Kali ini, tudingan dilontarkan Belanda dan Jerman.

”Rusia menambah penggunaan senjata kimia. Harus ada penjatuhan sanksi lagi untuk memberi efek jera,” kata Menteri Pertahanan Belanda Ruben Brekelmans di Den Haag, Belanda, Jumat (4/7/2025).

Penyelidikan itu dilakukan Badan Intelijen Militer Belanda (MIVD) dengan Badan Intelijen Luar Negeri Jerman (BND). Menurut mereka, Rusia menggunakan berbagai jenis gas untuk menyerang Ukraina. Gasnya antara lain gas air mata, sarin, dan kloropikrin.

In this handout photo released by Russian Defense Ministry Press Service released on Saturday, June 25, 2022, A Russian gunner prepares to fire at Ukrainian troops at an undisclosed location. (Russian Defense Ministry Press Service via AP)

Pemakaiannya antara lain disemprot oleh pesawat nirawak ke parit-parit tempat perlindungan tentara Ukraina. Begitu tentara Ukraina berhamburan keluar untuk mencari udara, mereka ditembaki oleh Rusia.

Kloropikrin adalah gas yang dilarang pemakaiannya di dunia sejak Perang Dunia I. Lebih dari itu, Rusia termasuk negara anggota Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW). Semua anggota OPCW yang berjumlah 193 negara selain tidak boleh menggunakan senjata kimia juga dilarang membuat, menyebarluaskan, dan menyimpannya.

Rusia pada 2017 mengaku sudah menghancurkan semua stok senjata kimia mereka sejak Perang Dunia I. Akan tetapi, temuan adanya kloropikrin ini menandakan bahwa Rusia tidak sepenuhnya jujur. Rusia tidak pernah melapor punya gas itu.

Baik Rusia maupun Ukraina belum memberi tanggapan atas laporan terbaru ini. Sebelumnya, pada 2024, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyangkal tuduhan pemakaian senjata kimia. Ia justru mengatakan, Ukrainalah yang memakai senjata kimia.

 

Sejak 2022

Dugaan bahwa Rusia menggunakan senjata kimia sudah muncul sejak April 2022. Batalyon Azov ketika mempertahankan kota Mariupol di Ukraina melaporkan, mereka berhadapan dengan pesawat-pesawat nirawak Rusia. ”Pesawat itu menyemprotkan asap dan seketika banyak anggota kami yang kesulitan bernapas,” isi laporan Batalyon Azov yang dikutip BBC edisi 14 April 2022.

Dari situ, Inggris dan Amerika Serikat mengutarakan kecaman terhadap Rusia dan menjatuhkan sanksi ekonomi. Rusia membantah tuduhan tersebut dan mengatakan bahwa Ukraina yang mengada-ada.

Moskwa mengatakan, pasukan mereka menemukan stok senjata kimia yang akan dipakai oleh pasukan Rusia menyerang di Kursk. Selain itu, pasukan Rusia di Adiivka menemukan laboratorium pembuatan senjata kimia yang oleh mereka dikatakan sebagai milik Ukraina.

This handout photo taken from video released by Russian Defense Ministry Press Service on Wednesday, Feb. 22, 2023, shows the Russian military's Grad multiple rocket launcher firing rockets at Ukrainian troops at an undisclosed location. (Russian Defense Ministry Press Service photo via AP)

Pada Oktober 2024, Kementerian Luar Negeri Inggris mengeluarkan kecaman formal dan sanksi atas Pasukan Radiologi Kimia dan Biologi Rusia beserta komandan mereka, Igor Kirilov. Di laman resminya, Kemenlu Inggris mengatakan memperoleh laporan bahwa Kirilov bertanggung jawab memerintahkan pemakaian senjata kimia.

Laporan intelijen itu turut mencakup pengakuan para tentara Rusia di lapangan yang mengaku bahwa mereka pernah menembakkan senjata kimia ke Ukraina. Dari sisi Ukraina, tercatat ada tiga orang yang tewas akibat kloropikrin. Selain itu, juga ada 2.500 korban yang sakit dengan menunjukkan gejala keracunan senjata kimia.

”Pemakaian senjata kimia adalah kejam menurut hukum perang sekali pun. Ini melanggar aturan internasional yang Rusia jelas-jelas ikut menandatanganinya. Tidak ada yang bisa melanggar aturan internasional tanpa mendapat konsekuensinya,” kata Menlu Inggris David Lammy.

Kirilov, dilansir oleh Russia Today, mengatakan bahwa Ukraina dibantu AS mengembangkan senjata kimia untuk menyerang pasukan Rusia. Menurut Kirilov, laboratorium kimia Rusia yang terakreditasi OPCW mengklarifikasinya. OPCW di laman resminya menyangkal pernyataan Kirilov.

 

Kloropikrin

Menurut Leonard Ayres di dalam bukunya, The War with Germany, yang terbit pada 1919, kloropikrin adalah gas yang ditemukan oleh ilmuwan dari Skotlandia, John Stenhouse, pada 1848. Jerman menggunakan gas ini selama Perang Dunia I yang berlangsung pada 1914-1918.

Pihak yang berperang adalah Sekutu Inggris, Perancis, AS, Kerajaan Rusia, dan Italia melawan Blok Sentral Jerman, Kerajaan Austro-Hongaria, Bulgaria, dan Turki Ottoman. Tentara Sekutu diserang dengan memakai gas kloropikrin sehingga mata mereka perih dan perutnya mual.

Gas kloropikrin sendiri tidak mengakibatkan kematian. Akan tetapi, ketika para tentara Sekutu membuka masker gas untuk muntah, mereka ditembak lagi dengan gas beracun yang mematikan.

Namun, berdasarkan laporan MIVD dan BND, kini Rusia memakai kloropikrin dalam konsentrasi tinggi. Apabila gas ini dilepas di dalam ruangan tertutup, akibatnya mematikan. (Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto