Produksi minyak bumi Indonesia turun dari tahun ke tahun. Sementara gas bumi Indonesia punya harapan untuk masa depan. Masih menarikkah industri ini?
20 Mei 2025 07:07 WIB · Ekonomi
Industri hulu minyak dan gas bumi, khususnya pada minyak bumi, di Indonesia, tengah menantang karena produksi yang merosot dari tahun ke tahun. Impor minyak mentah dan bahan bakar minyak atau BBM berpotensi terus membengkak. Di sisi lain, gaung transisi energi menguat. Benarkah senja kala industri hulu migas semakin dekat?
Merujuk data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi produksi siap jual (lifting) minyak bumi 2024 yakni 579.700 barel minyak per hari (BOPD). Angka tersebut melanjutkan tren penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2022 realisasinya sebesar 612.300 BOPD, lalu 2023 sebesar 605.000 BOPD.
Sulitnya Indonesia menaikkan lifting minyak bumi tidak terlepas dari uzurnya lapangan-lapangan migas. Kondisi itu memicu penurunan produksi secara alamiah. Sementara eksplorasi lapangan-lapangan minyak baru belum membuahkan hasil signifikan. Padahal, dibutuhkan lapangan baru guna mendongkrak produksi dalam negeri.
Di sisi lain, kebutuhan minyak Indonesia diperkirakan bakal terus meningkat seiring target-target pertumbuhan ekonomi. Dengan belum membaiknya produksi dalam negeri, kebutuhan itu mau tidak mau harus dipenuhi impor.
Menurut Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM 2024, indeks ketersediaan hulu migas 2024 terkontraksi jika dibandingkan dengan 2023. Sepanjang 2024, volume impor minyak mentah Indonesia sebanyak 112,19 juta barel. Angka itu menurun 10,68 persen ketimbang 2023.
Penurunan volume impor minyak mentah itu bukan diakibatkan meningkatnya produksi domestik yang diserap kilang, melainkan karena volume intake (minyak mentah masuk ke kilang) menurun. Penurunan volume intake minyak mentah pada kilang juga berkorelasi dengan penurunan produksi kilang minyak pada 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/09/eb3c9b0c-4dd1-47c6-a072-ef22926afc86_jpg.jpg)
Namun, di tengah tantangan penurunan produksi minyak bumi, pemerintah mengupayakan sejumlah proyek, termasuk proyek strategis nasional, terus berjalan serta beroperasi sesuai target. Dengan demikian, produksi minyak mentah dalam negeri diharapkan meningkat guna memenuhi kebutuhan energi nasional.
Pada Jumat (16/5/2025), Presiden Prabowo Subianto meresmikan secara daring produksi perdana dari dua lapangan migas, yakni Lapangan Forel dan Terubuk, di Kepulauan Riau. Dari dua lapangan itu ditargetkan ada tambahan pasokan minyak bumi sebesar 20.000 BOPD dan gas 60 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, total investasi proyek Forel dan Terubuk sebesar 600 juta dollar AS. Proyek tersebut memiliki nilai strategis karena semua pekerjanya adalah anak bangsa. Adapun kedua lapangan itu dikelola oleh Medco E&P Natuna Ltd, anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk.
Direktur Utama MedcoEnergi Hilmi Panigoro menuturkan, peresmian itu bagian dari upaya mendukung agenda energi nasional. Selain itu, juga guna mewujudkan komitmen perusahaan untuk menjalankan operasi migas yang andal, aman, efisien, dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Bahlil mengupayakan peningkatan pasokan minyak mentah dalam negeri dengan mengoptimalkan blok-blok yang ada di Natuna, yang selama ini tak beroperasi meski izinnya lama dipegang badan usaha. ”(Jika dioptimalkan), bisa meningkatkan (produksi) 5.000-7.000 barel per hari,” ujar Bahlil.
Di tengah tren penurunan produksi minyak bumi nasional, gas bumi justru membawa harapan. Di samping kebutuhan domestik yang terpenuhi, temuan lapangan-lapangan gas baru, khususnya di Indonesia bagian timur, memberikan secercah harapan untuk peningkatan produksi dalam negeri kelak.
Menurut data Ditjen Migas Kementerian ESDM, produksi gas bumi pada 2024 sebesar 6.802 MMSCFD. Adapun pemanfaatan gas bumi domestik Indonesia terus meningkat. Hingga 2024, realisasinya mencapai 67,08 persen dengan total volume penyaluran mencapai 5.785,92 miliar british thermal unit per hari (BBTUD).
Temuan sumber gas bumi, antara lain, di North Ganal, Kalimantan Timur, oleh perusahaan migas asal Italia, ENI, pada 2023, dengan potensi 5 triliun kaki kubik (TCF). Kemudian, pada tahun yang sama, juga ditemukan sumber gas di South Andaman oleh Mubadala Energy (2023) dengan potensi 6 TCF.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/421cebad-6ced-4312-a957-42f156d9b00e_png.png)
Di samping itu, proyek Abadi Masela di Maluku, yang menyimpan potensi besar gas bumi di laut dalam, juga diupayakan segera beroperasi. Inpex, perusahaan asal Jepang selaku operator, meluncurkan inisiasi desain rekayasa awal atau front-end engineering design pada Rabu (9/4/2025). Proyek itu sempat tertunda lama hingga ada pergantian investor.
Menurut rencana, kilang proyek Abadi Masela, meliputi dua train likuifaksi LNG, akan dibangun di darat, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Kapasitas produksi diproyeksikan 1.600 MMSCFD atau setara 9,5 juta ton gas alam cair (LNG) per tahun. Akan dihasilkan juga 150 MMSCFD gas pipa serta 35.000 barel kondensat per hari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/09/43b0f1c3-c802-4a26-9455-211b7f842acd_jpg.jpg)
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, Senin (19/5/2025), berpendapat, sampai kapan pun produk migas akan dibutuhkan. Tinggal bagaimana penggunanya akan melakukan penyesuaian. Ke depan, produk migas nonenergi, seperti untuk petrokimia dan pupuk, diperkirakan bakal terus meningkat.
Khusus untuk minyak bumi, sudah tuanya kondisi lapangan minyak di Indonesia membuat pemenuhan kebutuhan nasional dengan cara impor tidak terelakkan. ”Impor pasti akan bertambah karena saat ini neracanya cukup jauh. Konsumsi 1,5 juta barel per hari, sedangkan produksi berkisar 500.000-600.000 barel per hari,” ujar Komaidi.
Menurut Komaidi, dalam migas, upaya-upaya yang dilakukan (eksplorasi) saat ini, baru bisa dirasakan 4-5 tahun ke depan. Oleh karena itu, dalam jangka pendek, dalam hal penyediaan minyak bumi, yang bisa dilakukan hanyalah menahan laju penurunan produksi agar defisit tidak semakin besar.
Sementara itu, terkait anggapan senja kala industri hulu migas, khususnya minyak bumi, Komaidi tak melihatnya akan terjadi dalam waktu dekat. Apalagi, di tingkat global, tren produksi negara-negara produsen minyak justru meningkat, terutama di kawasan Amerika Utara.
”Jadi, belum dapat dikatakan (industri migas) akan selesai. Hanya, di Indonesia, produksi minyak memang terus menurun serta berbarengan dengan transisi energi. Ini sebenarnya menjadi tantangan bagi Indonesia karena kondisi (produksi dalam negeri) menurun saat terjadi tren peningkatan di global,” kata Komaidi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/08/08/5608ee5e-c4c1-405b-aa9d-b79dca61ee56_jpg.jpg)
Sementara itu, dengan besarnya potensi dari gas bumi, kata Komaidi, Indonesia bisa fokus pada proyek-proyek dengan sumber gas yang sudah ada, seperti Masela. Dengan demikian, sumber-sumber gas itu diharapkan segera beroperasi dan dimonetisasi gas bumi untuk masa mendatang.
Merujuk pada peran strategisnya pertumbuhan ekonomi, eksistensi industri migas belum akan berakhir dalam waktu dekat. Namun, jika belum ada lompatan signifikan dalam produksi minyak, beban impor bakal terus meningkat. Di sisi lain, proyek-proyek gas bumi perlu difokuskan agar dapat dimonetisasi.
Optimisme serupa disampaikan Presiden Asosiasi Perminyakan Indonesia (Indonesian Petroleum Assocation/IPA) Carole J Gall. Dalam pernyataan resminya, industri hulu migas masih menjadi pilar utama ketahanan energi nasional. Selain itu, sektor ini masih menjadi penggerak utama mesin pembangunan ekonomi dan berperan aktif dalam program transisi energi.
”Memang, produksi minyak nasional terus menurun akibat kondisi lapangan migas yang matang (tua). Untuk membalikkan tren ini, para pelaku industri hulu migas perlu meningkatkan eksplorasi serta pemanfaatan inovasi dan teknologi terkini,” tuturnya.
Gall menambahkan, diperlukan kolaborasi yang apik antarpemangku kepentingan, termasuk dengan pemerintah selaku pemangku kepentingan kunci. Kolaborasi yang erat diharapkan dapat menciptakan iklim investasi yang sehat, memiliki kepastian regulasi, kepastian fiskal, serta penyederhanaan regulasi di sektor industri migas.
Penulis:
Aditya Putra Perdana, Aris PrasetyoEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati