Setelah rangkaian bencana di Jawa, bencana besar melanda bagian utara Sumatera. Situasi ini menuntut kehadiran negara secara cepat dan efektif.
29 Nov 2025 06:00 WIB · Tajuk Rencana
KOMPAS/NIKSON SINAGA
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letnan Jenderal Suharyanto masih berada di Lumajang, Jawa Timur, Selasa (25/11/2025), ketika mendapat perintah dari Presiden Prabowo Subianto melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk menangani bencana di Sumatera.
Lumajang adalah wilayah yang terdampak erupsi Gunung Semeru pada 19 November 2025. Sebelumnya, bencana tanah longsor terjadi di Jawa Tengah, yaitu di Cilacap pada 13 November 2025 dan Banjarnegara pada 16 November 2025.
Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang puncak musim hujan pada November 2025 hingga Februari 2026 telah menimbulkan dampak bencana hidrometeorologi sejak awal. Bencana itu bergeser ke Pulau Sumatera. BMKG sudah memprakirakan siklon tropis Senyar berlangsung pada 21-26 November 2025. Siklon yang ditandai dengan hujan lebat dan angin kencang itu menyebabkan jenuhnya air di permukaan tanah perbukitan serta sungai-sungai sehingga menyebabkan banjir dan longsor.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/28/a80d1185-a3c8-4ca7-9b12-d9c7767e95a6.jpg)
Fokus pemerintah bertambah lagi ke wilayah Sumatera untuk penanganan tanggap darurat di Sumatera bagian utara. Banjir dan longsor itu terjadi di beberapa lokasi di tiga provinsi, yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada 25-27 November 2025.
Tak hanya bencana hidrometeorologi, di Aceh—khususnya di Pulau Simeulue—juga terjadi gempa bumi dengan magnitudo 6,3 pada Kamis (27/11/2025) siang. Beberapa bangunan di Simeulue rusak dan beberapa orang terluka. Tidak ada korban jiwa dalam musibah karena gempa bumi tersebut.
Dampak lebih parah terjadi pada bencana banjir dan longsor. Hingga Jumat (28/11/2025), tercatat 105 orang meninggal. Infrastruktur komunikasi terganggu dan sejumlah akses jalan tertutup akibat longsor sehingga akses terhadap bahan makanan dan minuman terganggu. Dampak bencana diperparah kerusakan lingkungan, yang menurut Walhi, terjadi akibat alih fungsi lahan.
Namun, sambil terus berupaya mencari penyebabnya dan mencegah dampak lebih parah ke depan, kita mendukung langkah cepat Presiden Prabowo yang memerintahkan menerbangkan empat pesawat TNI untuk mengangkut bahan bantuan ke lokasi bencana. Selain tiga pesawat angkut Hercules, satu pesawat baru Airbus A400 juga diterbangkan pada Jumat ke Padang, Sumbar; Medan, Sumut; serta Banda Aceh dan Lhokseumawe di Aceh.
Barang yang dibawa pesawat, seperti genset, tenda, alat komunikasi, dan bahan makanan, sangat dibutuhkan korban bencana. Penggunaan pesawat dan helikopter dibutuhkan untuk lebih cepat menembus lokasi bencana yang terputus.
Selain negara bersama aparatnya yang hadir menangani dampak bencana, solidaritas sosial juga tak kalah penting. Berbagai upaya penggalangan dana dan bantuan kebutuhan korban patut kita apresiasi.
Penulis:
RedaksiEditor:
Albertus Subur Tjahjono, Andreas MaryotoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan