Siklon yang membawa hujan dengan curah tinggi di Sumatera hanya pemicu. Tutupan lahan dan pendangkalan sungai membuat bencana berdampak besar.
28 Nov 2025 17:15 WIB · Lingkungan
KOMPAS/NIKSON SINAGA
MAKASSAR, KOMPAS — Bencana yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh adalah akumulasi siklon tropis Senyar dan kondisi lingkungan. Kejadiannya mirip dengan banjir bandang yang pernah menewaskan 38 orang di Sulawesi Selatan.
Hal itu dikatakan Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin Ilham Alimuddin menanggapi bencana di Pulau Sumatera, Jumat (28/11/2025).
”Ada pengaruh siklon yang bergerak dari Thailand ke Malaysia, lalu ke wilayah Sumatera. Ini bukan bencana lokal yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian dari bencana global yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hanya saja kondisi lingkungan membuat bencana ini menjadi parah,” katanya, di Makassar, Jumat (28/11/2025).
Dia mengatakan, siklon yang menyebabkan hujan dengan volume besar hanya pemicu. Namun, jika tutupan atau vegetasi sudah kurang dan diperparah aliran air atau sungai yang menyempit dan mendangkal, material akan mudah terbawa.
”Bayangkan jika siklon menerjang ke bawah, lalu curah hujan sangat tinggi dan penahan di permukaan sudah kurang, maka material tanah dan bebatuan sampai kayu, dengan mudah terbawa. Ini diperparah kondisi sungai yang sudah tidak mampu menampung volume air,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/0c441bb8-5f18-4e0b-84c5-3d35efc5a6b8.jpg)
Elevasi hulu ke hilir juga cukup signifikan berpengaruh pada kecepatan laju dan terjangan air. Ini yang membuat material yang sangat banyak dengan mudah terbawa dan menerjang perkampungan di sepanjang aliran sungai hingga ke hilir.
”Selama ini walau tutupan hutan berkurang, kalau tidak hujan, kan tidak terjadi apa-apa. Saat hujan, apalagi dengan curah yang tinggi, baru permukaan terbawa air. Sebaliknya, walaupun volume hujan besar, jika masih ada vegetasi yang menahan, sekalipun air meluap, kondisinya tidak akan parah,” katanya.
Ilham menyebut, banjir bandang di Sumbar dan Sumut mirip yang terjadi di Masamba, ibu kota Luwu Utara, Sulawesi Selatan, pada 2020. Saat itu, banjir bandang menewaskan 38 orang dan menyebabkan lebih dari 10 orang lainnya hilang.
”Di Masamba, terjadi longsor di hulu disebabkan struktur bebatuan yang rapuh dan akhirnya material longsoran ikut terbawa air dan menerjang sepanjang sungai dan hilir. Bedanya di Sumatera, air kelihatan lebih keruh dan kecoklatan. Ini artinya material lumpur yang terbawa dari hulu jauh kebih banyak,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/f3a54bdf-1cb8-4da0-8929-c973158be45f.jpg)
Terkait bencana di Sumatera ini, Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) merilis, hingga Jumat (28/11/2015) siang, 105 orang tewas.
Jumlah ini dengan rincian di Sumut, tercatat 83 orang tewas dan 81 orang masih dalam pencarian. Korban tewas terbanyak ada di Tapanuli Tengah, yakni 34 orang, sementara di Sibolga 30 orang. Adapun yang berhasil dievakuasi sebanyak 677 orang.
Di Sumbar, tercatat 22 orang tewas dan 12 orang masih dicari. Data Kantor SAR Padang menyebutkan, korban meninggal terbanyak ada di Agam, yakni 10 orang. Total warga yang dievakuasi mencapai 29.152 orang.
Di Aceh, korban tewas dan hilang masih didata. Berdasarkan data SAR Banda Aceh, sebanyak 645 orang sudah dievakuasi. Pengungsi terbanyak ada di Aceh Utara, yakni 3.507 orang, dan Aceh Timur 2.456 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/01/f27ebe3e572a8a169ceb32edc7cdcbca-IMG_20251001_140459.jpg)
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan, pencarian korban hilang dan evakuasi warga terus dilakukan. Berbagai peralatan digunakan, mulai dari helikopter, ekskavator, perahu karet, hingga drone pemantauan. Sejauh ini, sekitar 2.000 personel diturunkan untuk proses evakuasi bencana.
Penulis:
Reny Sri AyuEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Retma Wati