Bendera Jolly Roger dari kisah manga ”One Piece” berkibar. Bentuk harapan warga terhadap kondisi saat ini.
01 Agt 2025 13:41 WIB · Gaya Hidup
Memasuki bulan Agustus, bendera bajak laut dari manga One Piece berkibar di sejumlah daerah di Indonesia. Sebagian kalangan mengaitkannya dengan tanda kekecewaan di tengah kondisi bangsa yang dianggap tengah merosot.
Bendera itu berlatar hitam. Di tengahnya ada sosok ”Jolly Roger”, tengkorak dengan tulang bersilang di belakangnya. Tengkorak itu seperti tersenyum dan memakai topi jerami, khas tokoh utama manga One Piece memenuhi jagat maya, Monkey D Luffy.
Bendera itu ada dimana-mana. Di atap rumah, tiang bendera, hingga pantat truk. Status media sosial warga juga ramai dengan bendera ”One Piece”.
Anchy (38), warga Kendari, Sulawesi Tenggara, misalnya, juga memasang gambar bendera itu di status pesan instannya. Ia juga melanjutkan postingan berita pernyataan pejabat negara yang menganggap pemasangan bendera One Piece sebagai provokasi. Padahal, menurut ayah dua anak ini, alur cerita One Piece jauh dari provokasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/20/f5ec333f-176d-4234-ae4e-051f94d6d1fe_jpg.jpg)
Kisahnya One Piece berpusat di World Government (WG). WG disebut sebagai penguasa. Mereka juga mengatur jalannya pemerintahan.
Namun, WG punya kecenderungan semena-mena. Mereka akrab dengan nepotisme. Tokoh-tokohnya tidak benar-benar peduli masyarakat bawah. Mereka, yang sebagian besar doyan pesta, juga tak pernah mau dikritik.
Alam juga kena batunya. Dunia yang awalnya indah justru merana di tangan WG. Pohon-pohon ditebang dijadikan bangunan.
Hingga akhirnya pada satu titik, penduduk WG jenuh. Mereka rindu sosok penyelamat. Kehadiran bajak laut (pirates) jadi simbol perlawanan. Misi utamanya, ingin lepas dari cengkeraman WG.
”Pirates yang biasanya identik dengan sosok perompak bengis tampil lebih pro dengan masalah dan kesengsaraan rakyat dalam One Piece. Peduli kesengsaraan pada rakyat, itu juga yang saya harapkan terjadi saat ini,” tutur Anchy.
Harapan Anchy tidak tumbuh sendirian. Di medsos, gambar dan video Jolly Roger, dengan ciri khas topi jerami, memenuhi berbagai linimasa.
Bendera ini dipasang di tiang bendera tepat di bawah bendera Merah Putih. Juga ada yang hanya terpasang di tiang bambu. Mereka mengaitkan gambar itu dengan harapan hidup lebih baik dari saat ini.
Dalam skripsi Analisis Semiotika Anime One Piece dalam Mendukung Kesetaraan Ras Manusia yang ditulis Ihsanul Busra dari Universitas Islam Negeri Suska Riau, One Piece adalah serial manga Jepang. One Piece lahir dari tangan dingin penulis dan seniman manga Jepang, Eiichiro Oda.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/01/cada0a47-38d1-46fd-8995-c97d24b0985d_jpeg.jpg)
Komik ini telah diterbitkan di majalah manga Jepang, Shueisha’s Weekly Shonen Jump, sejak 22 Juli 1997. Hingga saat ini, ceritanya masih terus berkembang.
Kisah utamanya berkisah pada petualangan anak laki-laki Monkey D Luffy yang memiliki kekuatan tubuh elastis seperti karet setelah secara tidak sengaja memakan buah iblis. Dia menginisiasi berdirinya Bajak Laut Topi Jerami.
Bersama rekan-rekannya, dia lantas melakukan perjalanan sepanjang Grand Line untuk menemukan harta karun terbesar di dunia yang dikenal sebagai One Piece dan menjadi raja bajak laut berikutnya (Azis & Yuwita, 2023).
Luffy berlayar dari kampung halamannya, Desa Foosha, melalui lautan yang berbahaya yang disebut Grand Line. Di sana, dia bertemu dengan banyak karakter yang berbeda dan unik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/01/b3379ba1-c6f5-47a6-86dc-90784af9ec62_jpeg.jpg)
Pada saat yang sama, dia mengumpulkan pasukan yang kuat, terdiri dari individu dengan keahlian dan semangat mereka sendiri. Lawan mereka adalah bajak laut jahat hingga WG yang korup.
”Luffy dan kru menghadapi banyak tantangan, membangun persahabatan, dan mengungkapkan banyak rahasia di dunia One Piece. Tema-tema seperti persahabatan, keadilan, dan ketekunan adalah bagian utama dari cerita ini,” kata Ihsanul.
Kesimpulan Ihsanul, manga ini menampilkan banyak cerita yang mendukung kesetaraan ras manusia. Ada tokoh manusia biasa, manusia ikan, hingga manusia rusa dalam kisah ini.
”Banyak kisah menampilkan perjuangan kru bajak laut topi jerami yang tidak setuju dengan terjadinya ketidaksetaraannya ras di antara manusia,” tulisnya.
Terkait Jolly Roger, ikon itu telah lama menjadi ciri khas bajak laut. Sejarahnya diyakini bermula sejak abad ke-17.
Kala itu, transportasi laut tengah menjadi tren. Banyak pangan hingga barang berharga dibawa ke berbagai belahan dunia menggunakan kapal-kapal besar.
Rebecca Simon, sejarawan dari King’s College London, seperti dikutip dari ABC.net.au, mengatakan, salah satu yang terkenal adalah identitas bendera yang dipakai perompak di sekitar Laut Karibia. Mereka menandai aksinya dengan berbagai warna bendera.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/03/ea0dcca3-fe6a-4511-babe-939573b790b9_jpeg.jpeg)
Saat memakai bendera merah, misalnya, berarti mereka tidak akan menawarkan belas kasihan. Mereka akan bertarung sampai mati demi barang jarahan.
”Adapun bendera hitam menunjukkan bajak laut akan menawarkan seperempat barang. Itu artinya mereka mau bernegosiasi dengan pemilik barang,” kata Simon.
Menurut Simon, penggunaan warna merah inilah yang memopulerkan nama Jolly Roger. Sebab, beberapa ahli berpikir mungkin roger berasal dari kata rouge, kata Perancis untuk merah.
”Sebutannya menjadi joli rouge atau warna merah yang cantik. Itu masuk akal karena pada masa itu (abad ke-17), sebagian besar bajak laut berasal dari Perancis,” kata Simon.
Namun, ia tidak memungkiri ada juga yang beranggapan kalau Jolly Roger adalah istilah untuk setan di laut.
Lantas kenapa ada tengkorak dengan tulang bersilang dibubuhkan dalam bendera?
Simon menyebut itu tidak lepas dari keberadaannya sebagai lambang kematian di abad pertengahan.
Simbol itu juga sering digunakan dalam buku catatan maritim, di samping nama seseorang yang telah meninggal.
”Dalam perkembangannya, setiap kru bajak laut memiliki bendera tersendiri. Hal itu sesuai motivasi, identitas, dan penanda dari kru tersebut,” ujarnya.
Namun, punya stigma sebagai perampok yang kasar, Simon mengatakan, bajak laut punya ”kode kehormatan” saat beraksi. Anggota kru, misalnya, memiliki aturan yang demokratis dalam hal bagaimana hal-hal dijalankan.
”Semua orang harus memberikan suara untuk membuat keputusan besar. Kru bajak laut juga membuat dewan untuk menentukan jenis hukuman yang tepat yang dapat diberikan. Tidak ada hukuman yang bisa dilakukan kecuali ada suara bulat,” kata Simon.
Hingga akhirnya, pada medio 1720-an, banyak hal mulai berubah. Ada beberapa faktor yang mengakhiri zaman keemasan para pembajak. Salah satunya saat Kerajaan Inggris mengumumkan perang terhadap para pembajak di lautan.
Belakangan, kisah-kisah bajak laut di dunia nyata masih terjadi. Paling terkenal adalah bajak laut Somalia yang menebar ancaman di Afrika, sejak pecah perang saudara negara itu medio 1990-an. MV Sinar Kudus, kapal kargo asal Indonesia, pernah terjebak dalam pusaran bajak laut di sana tahun 2011.
Masih menebar ancaman di dunia nyata hingga kini, nama bajak laut populer di dunia hiburan. Film bertema bajak laut disukai khalayak.
Kejahatan personel burcad badeed, sebutan bajak laut Somalia, melahirkan film Captain Phillips. Kisahnya terinspirasi pembajakan Kapal Maersk Alabama tahun 2009.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/254fe636-31c3-4c08-a08b-93ac3a83c478.jpg)
Bila Captain Phillips menebar kisah kejahatan, film Pirates of The Caribbean yang dibuat berjilid-jilid sebaliknya. Aktor Johnny Depp membawa sosok Kapten Jack Sparrow sebagai tokoh kocak dan banyak akal. Sparrow dicintai bukan ditakuti.
Sparrow kurang lebih mirip Luffy. Meski tidak selicik Sparrow, Luffy banyak membuat penggemarnya jatuh cinta.
Tidak hanya manga, sosok kini Luffy bahkan digarap Netflix di layar kaca. Kisah kelompok bajak laut topi jerami yang ”baik hati” melawan musuh yang zalim itu kian populer.
Kisah mereka dirindukan. Tidak hanya dalam kisah dongeng, tetapi benar-benar hadir di dunia nyata.
Penulis:
Saiful Rijal YunusEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan