Sedikitnya 20.000 warga kehilangan akses air minum. Kerusakan kedua waduk itu menciptakan masalah besar bagi sistem pasokan air bagi warga.
10 Jun 2026 20:12 WIB · Internasional
AFP/US Central Command
DUBAI, RABU — Di tengah deraan musim panas, ribuan warga Iran di Sirik kehilangan akses mereka pada air bersih. Serangan terbaru Amerika Serikat atas Iran menghantam dua waduk di wilayah tersebut. Waduk-waduk yang berada di wilayah itu selama ini memasok air Bemani dan Kouhestak yang berada di Sirik.
”Memprihatinkan, serangan itu menyebabkan sedikitnya 20.000 warga di wilayah itu kehilangan akses air minum. Dengan suhu antara 45 dan 50 derajat celcius, kondisi menjadi sangat sulit dan kritis bagi penduduk setempat,” kata seorang pejabat jawatan air sebagaimana dikutip televisi Iran, Rabu (10/6/2026).
”Kerusakan kedua waduk itu menciptakan masalah besar bagi sistem pasokan air di wilayah tersebut,” tambahnya. Saat ini otoritas setempat tengah berupaya keras menemukan alternatif sumber air untuk desa-desa yang terdampak.
Terkait serangan yang terjadi pada Selasa malam di Jask, Sirik, dan Pulau Qeshm tersebut, Washington berdalih hal itu adalah balasan atas jatuhnya helikopter Apache karena serangan drone Iran. ”Tabrakan” antara drone Iran dan Apache terjadi pada Senin di atas Selat Hormuz.
Jika Washington menyatakan serangan itu adalah serangan balasan, Teheran mengecamnya dengan keras. Menurut Iran, alasan yang digunakan AS untuk menyerang Iran dan merusak fasilitas sipil itu sebagai dalih palsu.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan, tindakan AS telah merusak upaya-upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah digalang oleh komunitas internasional. ”AS telah merusak proses diplomatik ini dengan pesan-pesan yang kontradiktif yang dikirimkannya, perubahan posisi dan tuntutannya yang berulang, dan, yang terburuk, melalui pelanggaran gencatan senjata yang berulang,” kata Esmaeil Baqhaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, dalam pesan video.
”Setiap proses diplomatik dirusak oleh penggunaan kekerasan dan dengan menggunakan tindakan yang melanggar hukum,” kata Baqhaei menambahkan. ”Setelah kejadian ini, kita perlu menilai kembali (jalur diplomatik dengan Washington). Setiap proses diplomatik membutuhkan lingkungan yang stabil.”
Mitra dekat Iran, China juga menyoroti serangan AS tersebut. Beijing prihatin atas meningkatnya kekerasa di Timur Tengah. Terkait hal itu, China mendesak agar para pihak menahan diri dan menurunkan eskalasi konflik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/10/312051ecada6f69b83ff53d0e16b4734-IRAN_US_ISRAEL_WAR_138914855.jpg)
”Berbagai pihak terkait harus tetap tenang dan menahan diri, menghentikan intensifikasi konflik dan eskalasi situasi, serta mengambil langkah-langkah konkret untuk meredakan dan mendinginkan ketegangan,” kata Lin Jian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, dalam konferensi pers di Beijing, China.
Sebaliknya, dari Washington, Presiden AS Donald Trump justru menuduh Iran mengulur-ulur waktu dan terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan. Efeknya, menurut Trump, Teheran harus menanggung akibat dari situasi itu. ”Iran hanya berbicara,” kata Trump.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Truth Sosial miliknya, Trump mengklaim bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah dikalahkan.
(AFP/Reuters)
Penulis:
Iwan Santosa, Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim