PIALA DUNIA

Bentengnya Sulit Ditembus, tetapi Siapa yang Akan Mencetak Gol untuk Ekuador?

Ekuador menjadi kuda hitam paling diperhitungkan dalam Piala Dunia 2026. Tim ini sulit dijebol, bahkan oleh juara bertahan Argentina.

10 Jun 2026 12:19 WIB · Olahraga

AP

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Ekuador datang ke Piala Dunia 2026 dengan salah satu pertahanan terbaik di antara para finalis. Namun, pada saat bersamaan, mereka masih kesulitan membuat gol.

The Analyst menempatkan ”La Tri” sebagai salah satu tim yang berpotensi melampaui ekspektasi di Amerika Utara. Ekuador menjadi tim Amerika Selatan yang paling sulit dijebol sepanjang kualifikasi, bahkan oleh juara bertahan Piala Dunia, Argentina.

Ekuador hanya kebobolan lima gol dalam 18 pertandingan kualifikasi zona Conmebol. Jumlah itu menjadi yang terbaik di kawasan tersebut dan hanya setengah dari jumlah kebobolan Argentina yang mencapai 10 gol.

Catatan tersebut semakin mengesankan mengingat mereka harus menghadapi lawan-lawan seperti Argentina, Brasil, hingga Uruguay dalam format kandang-tandang sepanjang 18 pertandingan.

FILE - Ecuador's Kendry Paez (10) and Argentina's Julian Alvarez battle for the ball during a World Cup 2026 qualifying soccer match at Banco Pichincha stadium in Guayaquil, Ecuador, Tuesday, Sept. 9, 2025. (AP Photo/Dolores Ochoa, File)

Di antara para finalis Piala Dunia 2026, hanya Inggris yang memiliki catatan kebobolan lebih baik setelah tidak kebobolan dalam delapan pertandingan kualifikasi UEFA.

Spanyol pun masih kebobolan dua gol dalam enam pertandingan. Ekuador juga mencatatkan 13 clean sheet, jumlah yang tidak mampu ditandingi negara Amerika Selatan lainnya.

Ketangguhan mereka tidak hanya terlihat dari jumlah gol yang masuk ke gawang. Sepanjang kualifikasi, lawan hanya mampu menciptakan peluang senilai 13,3 expected goals (xG), catatan terbaik ketiga di Conmebol setelah Argentina dan Brasil. Ekuador bukan sekadar beruntung jarang kebobolan, melainkan berhasil membatasi lawan menciptakan peluang berbahaya.

Kemampuan mereka menghindari ketertinggalan bahkan lebih mengesankan. Sepanjang 18 pertandingan, Ekuador hanya menghabiskan 97 menit dalam posisi tertinggal atau setara 5,5 persen dari total waktu bermain mereka. Sebagai perbandingan, Uruguay yang berada di posisi kedua masih menghabiskan 243 menit dalam kondisi serupa.

Tiga pilar

Statistik itu menunjukkan Ekuador hampir selalu mampu mengendalikan pertandingan. Lawan jarang mendapat kesempatan untuk unggul lebih dulu, apalagi mempertahankan keunggulan dalam waktu lama. Apalagi, mereka memiliki senjata mematikan lewat serangan balik.

Mereka mencetak tiga gol dari serangan balik sepanjang kualifikasi, hanya kalah dari Kolombia. Selain itu, La Tri membukukan 23 direct attacks, salah satu yang tertinggi di Conmebol, menunjukkan kemampuan mereka mengubah situasi bertahan menjadi serangan cepat yang berbahaya.

Gelandang Arsenal asal Jerman #29 Kai Havertz (kiri) berduel dengan bek Paris Saint-Germain asal Ekuador #51 Willian Pacho selama pertandingan sepak bola Liga Champions UEFA antara Arsenal dan Paris Saint-Germain (PSG) di Stadion Emirates di London utara pada 1 Oktober 2024.

Fondasi pertahanan tersebut dibangun tulang punggung tim yang berkualitas. Di jantung pertahanan berdiri Willian Pacho, bek tengah Paris Saint-Germain yang berkembang menjadi salah satu pemain terbaik di posisinya di dunia.

Pengaruh Pacho sangat besar sepanjang kualifikasi. Ia mencatatkan 15 blok, terbanyak bersama di antara seluruh pemain Conmebol, serta 65 sapuan yang menempatkannya di peringkat keempat.

Tak hanya solid dalam bertahan, Pacho juga berperan penting dalam membangun serangan dari belakang. Ia membukukan 319 umpan maju dengan akurasi 68 persen.

Moises Caicedo dari Ekuador melakukan tekel terhadap Andres Cubas dari Paraguay selama pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 di Stadion Rodrigo Paz Delgado di Quito, Ekuador, Kamis, 10 Oktober 2024.

Di depannya, Moises Caicedo menjadi motor permainan sekaligus pelindung lini belakang. Gelandang Chelsea itu merebut kembali bola sebanyak 92 kali, terbanyak kedua di kualifikasi Conmebol, serta memenangkan 102 duel. Caicedo juga memberikan kontribusi dalam serangan dengan mencatat tiga asis.

Sementara itu, di lini depan, Ekuador masih mengandalkan pengalaman Enner Valencia. Penyerang veteran tersebut tetap menjadi sosok penting dalam sistem permainan La Tri, baik sebagai pencetak gol maupun pemain pertama yang melakukan tekanan saat kehilangan bola.

Kekuatan lain

Namun, kekuatan Ekuador tidak hanya dibangun oleh kualitas individu para pemainnya. Pelatih Sebastian Beccacece berulang kali menyoroti karakter skuadnya.

Menurut dia, pencapaian Ekuador hingga menempati posisi kedua kualifikasi Amerika Selatan tidak lepas dari semangat dan kerendahan hati para pemain.

”Mencapai level ini mencerminkan kekuatan semangat yang luar biasa,” kata pelatih asal Argentina yang kaya taktik dengan menerapkan tujuh formasi berbeda sepanjang kualifikasi.

Karakter itu lahir dari perjalanan hidup yang tidak mudah. Dikutip dari Reuters, Jordy Caicedo tumbuh di lingkungan miskin di Machala. Moises Caicedo memulai langkahnya dari lapangan sederhana yang dikenal sebagai ”El Hueco” di Santo Domingo. Sementara Pacho menjadikan sepak bola sebagai jalan keluar dari kemiskinan di Quininde, dekat perbatasan Kolombia.

Pelatih Ekuador Sebastian Beccacece memberi isyarat selama pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 melawan Venezuela di Stadion Rodrigo Paz Delgado di Quito, Ekuador, Jumat, 21 Maret 2025.

Mentalitas tersebut tecermin di lapangan. Angelo Preciado, yang berposisi sebagai pemain sayap, tidak segan turun membantu pertahanan. Valencia juga kerap menjadi pemain pertama yang melakukan tekanan terhadap lawan. Tidak ada pemain yang merasa terlalu besar untuk bekerja demi tim.

”Keunggulan Ekuador adalah kerja sama tim,” kata Beccacece kepada BBC.

Budaya kerja kolektif itu membuat Ekuador berkembang menjadi salah satu tim dengan organisasi pertahanan terbaik menjelang Piala Dunia 2026. Namun, di balik ketangguhan tersebut masih ada persoalan yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Kelemahan

Penulis sepak bola The Guardian, Luis Miguel Echegaray, menilai Ekuador masih memiliki pekerjaan rumah besar di lini depan. Dia mengatakan, jika pertahanan menjadi kekuatan utama Ekuador, lini depan justru masih menyisakan tanda tanya besar.

La Tri hanya mencetak 14 gol dalam 18 pertandingan kualifikasi, jumlah paling sedikit di antara negara-negara Conmebol yang lolos langsung ke Piala Dunia. Mereka bahkan sempat melalui empat pertandingan beruntun tanpa mencetak gol.

Ketergantungan terhadap Valencia juga masih terlihat jelas. Penyerang klub Meksiko, CF Pachuca, itu menyumbang enam dari total 14 gol Ekuador selama kualifikasi.

Ekspresi penyerang Ekuador Enner Valencia.

Ia juga mencatat xG sebesar 7,1, tertinggi kedua di Amerika Selatan, yang menunjukkan sebagian besar peluang terbaik Ekuador mengalir kepadanya. Ketika Valencia kesulitan mencetak gol, Ekuador sering kali kesulitan menemukan sumber gol alternatif.

Ironisnya, sebagian masalah tersebut muncul dari identitas permainan mereka sendiri. Para pemain begitu disiplin menjalankan tugas bertahan dan bekerja untuk tim sehingga daya ledak serangan terkadang menjadi korban. Itu yang membuat kemenangan terasa bakal berat ketika berlaga di Piala Dunia nanti.

Peluang lebih jauh

Namun, sepak bola itu bundar. Sejarah pernah mencatat tim dengan pertahanan kokoh sering kali mampu melampaui ekspektasi.

Maroko membuktikannya pada Piala Dunia 2022 saat melaju hingga semifinal berkat organisasi pertahanan yang disiplin. Mereka menahan Kroasia dan Spanyol tanpa gol, menyingkirkan Portugal, dan menjadi tim Afrika pertama yang mencapai empat besar.

Jauh sebelumnya, Yunani bahkan menjuarai Euro 2004 meski hanya mencetak tujuh gol dalam enam pertandingan. Mereka menaklukkan Portugal yang kala itu tampil sangat menyerang.

Para pemain Maroko merayakan kegembiraan setelah mengalahkan Portugal 1-0 di babak perempat final Piala Dunia 2022 di Stadion Al Thumama, Qatar, Sabtu (10/12/2022).

Akhirnya, kerendahan hati penggawa La Tri untuk bersama menyerang dan bertahan sekaligus bakal diuji di laga Grup E. Ekuador akan berada dengan tim yang kali ini mengandalkan kolektivitas tim ketimbang satu dua bintang lapangan.

Keseimbangan pertahanan dan lini serang akan diuji saat menghadapi Jerman, Pantai Gading, hingga Curacao. Jika mampu menjawab persoalan itu, La Tri berpeluang melampaui pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan