Beras 25 Kg Capai Rp 1,2 Juta di Pedalaman Mahakam Ulu, Warga Menjerit

Sungai Mahakam surut di Kabupaten Mahakam Ulu, Kaltim, menyebabkan tersendatnya distribusi sembako. Harga beras 25 kg capai Rp 1,2 juta.

26 Jul 2025 14:41 WIB · Nasional

Oleh Sucipto

Pikiran Agustinus Lejiu (47) dalam beberapa hari terakhir tak tenang. Dia terusik harga kebutuhan pokok yang naik dua minggu terakhir.

”Harga beras satu karung (25 kg) sudah di angka Rp 1,2 juta,” kata Agustinus, Jumat (25/7/2025).

Agustinus adalah warga di Desa Long Apari, Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur.

Desa itu merupakan daerah paling hulu Sungai Mahakam, sungai terbesar di Kaltim dengan panjang sekitar 920 kilometer.

Artinya, beras di sana harganya Rp 40.000 per kilogram. Jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) di Kalimantan yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 15.400 untuk beras premium.

Penumpang perahu cepat melintasi jalan licin saat perahu yang mereka tumpangi melewati riam udang yang ganas saat air Sungai Mahakam di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, sedang tinggi, Jumat (13/12/2019).

Melonjaknya harga bahan pokok tersebut diakibatkan jalur distribusi yang semakin ekstrem. Memasuki musim kemarau, Sungai Mahakam surut. Padahal, sungai itu tumpuan utama mobilitas orang dan barang masyarakat di Mahakam Ulu.

Hal itu membuat perahu kayu besar (longboat) tak bisa mengangkut barang dengan baik ke kampung-kampung di Kecamatan Long Apari. Tak ada jalur darat yang menghubungkan desa di hulu Sungai Mahakam itu ke pusat kota.

Surutnya air sungai membuat permukaan air semakin dekat dengan batu-batu cadas. Di beberapa tempat, riam semakin ganas dan perahu rawan karam. Salah satunya ialah area sungai yang warga sebut sebagai Riam Huluq.

”Minggu lalu, kami dapat kabar longboat jebol kena batu. Mereka membawa bahan pokok. Kabar terbaru, tiga speedboat mengalami hal sama. Mereka terpaksa menginap di hutan pinggir sungai,” ujar Agustinus.

Ia bercerita, kendati warga menanam padi gunung di ladang, musim yang tak menentu membuat hasil panen warga tak optimal. Sebagian besar warga akhirnya meninggalkan ladang padi gunung.

Untuk itu, beras yang disalurkan melalui sungai dari Kota Samarinda, pusat pemerintahan Kaltim, menjadi tumpuan pangan warga.

Perahu kayu besar (long boat) yang membawa bahan pokok karam karena jebol saat melewati riam dan bebatuan saat Sungai Mahakam surut di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Jumat (25/7/2025). Surutnya air Sungai Mahakam membuat distribusi barang dengan perahu terganggu dan butuh BBM semakin tinggi. (DOKUMENTASI AGUSTINUS LEJIU)

Tak hanya beras, harga kebutuhan lain ikut melonjak. Harga elpiji 12 kg Rp 800.000, bensin eceran Rp 30.000 per liter, minyak goreng 5 liter Rp 250.000, dan telur ayam Rp 10.000 per buah.

”Kami sudah menjerit. Butuh penanganan cepat dan jangka panjang, bukan janji pemerintah,” kata Agustinus.

Hal itu dialami juga oleh sedikitnya 5.000 jiwa di Kecamatan Long Apari, beberapa di antaranya tersebar di Desa Naha Silat dan Noha Tivab. Sedikitnya terdapat empat riam mematikan menuju desa-desa tersebut.

Tak hanya itu, Kecamatan Long Pahangai yang bersebelahan dengan Kecamatan Long Apari juga didera harga bahan pangan tinggi. Di Desa Long Tuyoq, Kecamatan Long Apari, harga beras pun di atas HET Kalimantan.

”Harga beras per karung (25 kg) di kampung kami sudah Rp 500.000,” kata Lawing Lejau (60), warga Desa Long Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai.

Akses solar sulit

Dengan kondisi sungai yang sulit dilalui, kebutuhan solar meningkat. Namun, warga hanya dijatah 5 liter per hari di Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) untuk BBM satu harga.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Yulianus Henock Sumual mengatakan, untuk pergi-pulang mengangkut bahan pokok saat ini, warga menghabiskan sedikitnya 25 liter solar dari kecamatan terdekat.

”Bisa dibayangkan jika mereka sakit dan harus dirujuk. Warga lewat mana? Jalur sungai tak memungkinkan untuk dilewati,” kata Yulianus.

Sebuah kapal barang melintasi Sungai Mahakam di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Senin (9/12/2019). Jika air surut, harga barang pokok di wilayah ini naik sebab sungai sulit dilewati perahu.

Ia meminta pemerintah daerah dan pusat menyelesaikan masalah ini secara cepat, untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Sebab, kata dia, seluruh harga kebutuhan pokok melonjak.

Yulianus mengatakan, kondisi ini mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa warga Indonesia. Jika tak mampu membeli, warga terancam tak makan dan sakit.

”(Pemerintah) jangan jadi jagoan tukang janji, tapi tak paham jika ada warga atau rakyat yang hidup dalam kesusahan,” katanya.

Subsidi dan jalur darat

Jarak Ujoh Bilang, pusat pemerintahan Kabupaten Mahakam Ulu, ke Kecamatan Long Apari sekitar 157 km. Pemerintah pusat sedang membangun jalan di ruas tersebut.

Wakil Bupati Mahakam Ulu Yohanes Avun mengatakan, saat ini, jalur yang bisa dilewati mobil bergardan ganda hanya ruas Ujoh Bilang-Long Lunuk, Kecamatan Long Pahangai. Jaraknya sekitar 100 km.

Kondisinya sebagian besar berupa tanah berbatu, beberapa berupa jembatan kayu untuk melintasi sungai kecil. Ujoh Bilang-Long Lunuk melalui jalan sementara itu ditempuh dengan mobil bergardan ganda 7-9 jam. 

Suasana Sungai Mahakam di Desa Ujoh Bilang, Kecamatan Long Lunuq, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Jumat (3/5/2019). Kabupaten Mahakam Ulu belum tersambung oleh jalan aspal sehingga distribusi barang mengandalkan transportasi sungai.

Muatan mobil dengan kondisi jalan seperti itu maksimal hanya bisa 4 ton. Biaya angkut, kata Avun, rata-rata Rp 5 juta-Rp 6,5 juta.

”Setelah itu, tetap harus dibawa melalui jalur sungai menggunakan ketinting (perahu kayu kecil) karena perahu besar pasti karam. Dari Long Lunuk ke Long Apari paling cepat tiga jam,” ujar Avun, dihubungi dari Balikpapan.

Ia mengatakan, jalan darat di Mahakam Ulu itu dibangun pemerintah pusat. Ia berupaya berkomunikasi dengan pemerintah untuk mempercepat pembangunannya, termasuk pembukaan akses jalan sampai Long Apari.

”Untuk jangka pendek, Pemkab Mahakam Ulu melalui UPTD Alat Berat sudah bergerak memperbaiki titik-titik jalan yang rusak untuk memperlancar jalur distribusi barang ke kecamatan Long Pahangai dan Kecamatan Long Apari yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia,” ujar Avun.

Penumpang perahu kayu bermesin 200 kali tenaga kuda duduk berjejalan tanpa atap saat bepergian jauh melintasi Sungai Mahakam di Kecamatan Long Pahangai, Mahakam Ulu, Senin (9/12/2019).

Selain itu, untuk jangka pendek, Pemkab Mahakam Ulu menyediakan subsidi ongkos angkut barang. Para pengusaha warung kelontong dan distributor bisa melapor ke pemerintah desa untuk kemudian didaftarkan sebagai penerima subsidi ongkos angkut barang.

Hal ini diharapkan bisa menekan angka barang pokok di tengah sulitnya akses transportasi di pedalaman Mahakam Ulu.

”Tahun 2024, anggaran subsidi ongkos angkut barang sekitar Rp 1,4 miliar, meskipun realisasi keuangannya tak maksimal. Tahun 2025 ini di kisaran Rp 400 juta-Rp 500 juta,” kata Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Mahakam Ulu, Lung.

Jelang 80 tahun Indonesia merdeka, akses transportasi ideal masih menjadi barang langka di negeri ini. Tidak hanya perkara konektivitas, tapi juga rawan berdampak pada masa depan manusianya kelak.


Kerabat Kerja

Penulis:

Sucipto
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul