Harga beras di Kota Bandung terus merangkak naik sepekan terakhir. Pelaku usaha kecil bidang kuliner terdampak dengan kondisi ini.
26 Jul 2025 17:55 WIB · Ekonomi & Bisnis
BANDUNG, KOMPAS — Harga beras di Kota Bandung, Jawa Barat, merangkak naik dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut rawan memicu kehidupan ekonomi pelaku usaha kecil semakin sulit.
Kenaikan harga beras terjadi di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Sabtu (26/7/2025). Kosambi adalah salah satu pasar tradisional besar di Kota Bandung.
Harga barang kebutuhan pokok di pasar ini menjadi acuan Pemerintah Kota Bandung memantau inflasi yang dipengaruhi harga barang pokok.
Aman (69), penjual beras, mengatakan, harga termurah beras yang dijualnya Rp 14.000 per kilogram. ”Beberapa bulan lalu saya masih jual Rp 13.000 per kg. Sekarang seminggu sekali harganya naik,” ungkap Aman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/26/e48c403dded8ce0d063d2e212c292948-IMG_20250726_122651.jpg)
Ia menuturkan, tingginya harga beras disebabkan nilai jual yang juga naik dari distributor dan petani. Selain itu, stok berasnya terus menipis.
”Saat ini, stok beras saya hanya tersisa 300 kg. Mudah-mudahan Bulog (Badan Urusan Logistik) bisa menyalurkan beras mereka ke pasar,” ujar Aman.
Rahmat Kurnia (52), pedagang beras lainnya, mengatakan hal serupa. Ia memaparkan, kenaikan harga beras mulai dari Rp 200 hingga Rp 1.000 per kg pada akhir bulan ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/26/2fbb1dbd0b03c92c6f4ae4c951e0145c-IMG_20250726_123902.jpg)
Menurut dia, dengan harga saat ini, tak ada lagi kategori beras medium yang biasanya dijual seharga Rp 12.000-Rp 13.000 per kg. Padahal, mayoritas masyarakat kelas menengah ke bawah mengonsumsi beras itu.
”Kemungkinan harga beras akan terus meningkat jika pasokan di pedagang terus menipis. Pemerintah harus memikirkan solusi untuk mencegah kenaikan harga beras,” ucapnya.
Kenaikan harga beras semakin menyulitkan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Bandung, khususnya bidang kuliner. Mereka merasa terbebani jika menaikkan harga makanan yang dijual kepada konsumen.
Roni (35), pedagang soto ayam di Antapani, Bandung, kini membeli beras seharga Rp 15.000 per kg di pedagang eceran. Sebelum ada kenaikan harga, dia biasa membeli beras Rp 13.0000 per kg.
”Kenaikan harga beras juga memicu meningkatnya biaya operasional. Saya belum berani menaikkan harga makanan karena pasti tak akan dibeli konsumen,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/26/ed2b9ff2df0c474a1317f7712ae66525-IMG_20250726_112238.jpg)
Hal senada disampaikan Agus (62), penjual kupat tahu di Jalan Ahmad Yani, Bandung. Agus membeli beras premium seharga Rp 17.000 per kg untuk bahan baku ketupat.
”Sampai saat ini saya masih menjual sepiring kupat tahu Rp 15.000. Jika harga beras terus naik, saya bisa berhenti berjualan,” kata Agus.
Kepala Bidang Distribusi Perdagangan dan Pengawasan Kemetrologian Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung Meiwan Kartiwa menyatakan, pihaknya terus memantau harga dan ketersediaan beras di pasar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/14/ffc498e0-164f-43bf-8f29-6c4659875947.jpg)
”Jika harga terus tinggi dan stok menipis, kami akan berkoordinasi dengan Bulog untuk menggelar operasi pasar. Tujuannya, agar stabilitas harga beras terjaga,” ujarnya.
Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, berpendapat, pemerintah daerah harus punya strategi jitu untuk menjaga stabilitas harga komoditas pangan, khususnya beras, daging, dan telur.
Komoditas itu, kata Acuviarta, menjadi komponen utama dalam penghitungan garis kemiskinan berbasis kebutuhan dasar. Jika tidak diantisipasi, kenaikan harga itu rawan meningkatkan angka kemiskinan.
Angka kemiskinan di Jabar mencapai 3,65 juta orang hingga Maret 2025 berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik. Angka kemiskinan di Jabar menyumbang 15,3 persen dari total jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2025 yang mencapai 23,85 juta orang.
”Harga yang stabil dan inflasi rendah dinilai krusial untuk mencegah peningkatan kemiskinan. Pemda juga diharapkan terus mendorong penciptaan lapangan kerja baru untuk menekan angka pengangguran,” tuturnya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti