Peningkatan produksi beras pada musim gadu tahun ini mampu meredam kenaikan harga beras di tingkat penggilingan, grosir, dan eceran.
01 Okt 2025 13:40 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Beras menyumbang inflasi tahunan pada September 2025 sebesar 0,17 persen. Kendati demikian, secara bulanan, beras mulai mengalami deflasi. Penurunan harga beras secara bulanan itu dipengaruhi masa panen gadu di sejumlah daerah.
Badan Pusat Statistik, Rabu (1/10/2025), merilis, tingkat inflasi tahunan dan bulanan pada September 2025 masing-masing sebesar 0,21 persen dan 2,65 persen. Komoditas pangan yang dominan memberikan andil inflasi tahunan adalah cabai merah dan bawang merah masing-masing sebesar 0,19 persen, beras 0,17 persen, serta daging ayam ras 0,15 persen.
Adapun komoditas pangan yang dominan memberikan andil inflasi bulanan adalah cabai merah dan daging ayam ras masing-masing sebesar 0,13 persen. Khusus beras, komoditas tersebut justru menyumbang deflasi bulanan sebesar 0,01 persen.
Penurunan harga beras itu dipengaruhi masa panen gadu dan berlimpahnya stok gabah penggilingan di sejumlah daerah di Indonesia.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah mengatakan, secara historis, yakni pada 2021-2024, beras selalu menyumbang inflasi setiap September. Namun, pada September 2025, beras justru menyumbang deflasi.
Hal ini terjadi lantaran penurunan harga beras sepanjang September 2025. Penurunan harga beras itu dipengaruhi masa panen gadu dan berlimpahnya stok gabah penggilingan di sejumlah daerah di Indonesia.
”Penggilingan padi mulai berani menambah stok gabah dan mengolahnya menjadi beras setelah pemerintah menaikkan harga eceran tertinggi beras medium,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/01/4c5f524d7f01205c86a41b4bfa062c41-Screenshot_2025_10_01_130351.png)
BPS mencatat, harga berbagai kualitas beras di penggilingan, grosir, dan eceran pada September 2025 turun secara bulanan. Namun, secara tahunan, harga beras tersebut naik.
Harga rerata beras di penggilingan pada September 2025, misalnya, senilai Rp 13.512 per kilogram. Harga tersebut turun 0,68 persen secara bulanan dan naik 5,83 persen secara tahunan. Di tingkat eceran, harga rerata beras mencapai Rp 15.375 per kilogram atau turun 0,13 persen secara bulanan dan naik 4,06 persen secara tahunan.
Adapun berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Padi Amatan Agustus 2025, produksi beras nasional pada September 2025 diperkirakan 3,28 juta ton. Volume produksi beras itu naik tipis dibandingkan September 2024 sebanyak 3,16 juta ton.
Kemudian, produksi beras nasional pada Januari-November 2025, diproyeksikan mencapai 33,19 juta ton. Volume produksi beras itu meningkat 3,72 juta ton atau 12,62 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai 29,47 juta ton.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/01/2bd567ccea42f47ec9c0956d3fddd6ed-Screenshot_2025_10_01_124815.png)
Meskipun harga beras mulai turun pada September 2025, pemerintah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga beras pada Oktober 2025 hingga Februari 2026. Pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas harga daging ayam ras yang mengalami kenaikan akibat kenaikan harga pakan.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menuturkan, secara historis, kenaikan harga beras biasanya terjadi pada Oktober, November, Desember, Januari, dan Februari. Pemerintah akan berupaya mengantisipasinya melalui bantuan beras dan penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Per akhir September 2025, stok beras Perum Bulog sebanyak 3,905 juta ton. Jika bantuan beras dan beras SPHP digulirkan hingga akhir 2025, stok beras pada akhir Desember 2025 diperkirakan masih sebanyak 3 juta ton.
”Stok itu masih lebih dari cukup untuk mengantisipasi kenaikan harga beras yang biasanya terjadi pada Januari dan Februari,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/22/cf5e2854aa8e267a4b85e12a53eea190-20250922TOK8.jpg)
Arief juga mengatakan, stok beras Bulog itu terbilang banyak sehingga Bulog harus menjaga kualitasnya. Jangan sampai beras itu rusak dan bahkan sampai disposal.
Ini mengingat stok beras tersebut masih banyak dibutuhkan untuk bantuan pangan dan program SPHP. Di sisi lain, beras bantuan dan beras SPHP yang disalurkan wajib mengutamakan kualitas.
”Jadi (beras di Bulog) memang harus dirawat, diproses ulang, dan dikontrol kualitasnya. Prinsip utamanya, beras itu harus sampai ke masyarakat penerima dalam kondisi baik,” katanya.
Bapanas mencatat, sejak Januari 2025 hingga 29 September 2025, Bulog telah menyalurkan cadangan beras pemerintah sebanyak 861.400 ton ke masyarakat. Penyaluran itu dilakukan melalui berbagai program dan kanal distribusi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/23/bc1ac81ff9a3519da1787b6ef4ef2d43-20250923BAH18.jpg)
Sementara itu, untuk menstabilkan kenaikan harga jagung pakan yang memicu kenaikan daging ayam ras, Bapanas menyalurkan jagung SPHP sebanyak 52.400 ton. Sasarannya adalah para peternak mikro, kecil, dan menengah.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono mengatakan, dalam dua bulan terakhir, harga jagung di tingkat peternak mengalami kenaikan cukup tinggi. Di Blitar, Jatim, misalnya, harganya tembus Rp 7.000 per kilogram.
Oleh karena itu, Bapanas telah menugaskan Bulog untuk menyalurkan jagung SPHP sebanyak 52.400 ton kepada 2.109 peternak di 16 provinsi. Penyaluran ini difokuskan kepada peternak mikro, kecil, dan menengah yang telah ditetapkan atau didaftar Kementerian Pertanian.
Bapanas telah menugaskan Bulog untuk menyalurkan jagung SPHP sebanyak 52.400 ton kepada 2.109 peternak di 16 provinsi.
”Kami juga telah menetapkan harga jagung SPHP itu. Di gudang Bulog, harganya dipatok Rp 5.000 per kilogram, sedangkan di tingkat peternak, harga maksimalnya Rp 5.500 per kilogram,” katanya.
Berdasarkan data Bapanas, daerah yang mendapatkan alokasi tertinggi jagung SPHP adalah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kendal memperoleh 7.060 ton dan Blitar 6.131 ton.
Pemerintah juga telah memperinci penyaluran jagung SPHP itu per peternak penerima. Di Blitar, misalnya, peternak mikro akan menerima 45 ton, peternak kecil 5.906 ton, dan peternak menengah 180 ton.
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan