Sepasang pengunjung bertengkar karena rebutan lupis. Konsumen lain sampai terbengong-bengong gara-gara mendapatkan sedikit bakwan meski berdiri paling depan.
12 Jan 2025 08:33 WIB · Gaya Hidup
Di rumah makan Kuliner Urang Awak Minang Rajawali, pengunjung rela melintasi antrean panjang untuk sarapan. Mereka menikmati aneka sajian yang termasuk jarang ditemukan di Jakarta. Ada kalanya, adu mulut antarkonsumen tak terelakkan.
Baru sekitar pukul 07.30, pengunjung sudah mengular hingga belasan meter. Mereka mengantre dengan tertib menuju beberapa gerai yang menyajikan makanan khas Sumatera Barat. Kebanyakan konsumen mengincar ketupat pitalah dengan lauk seperti tunjang, tauco, pakis, dan rendang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/04/e0bd5bac-5c1e-4c9b-bf23-5690ead19f3b_jpg.jpg)
Beberapa karyawan di gerai-gerai lain yang bersebelahan terlihat menyiapkan soto padang, sop buntut, nasi goreng, martabak, bubur kampiun, sampai es cendol patimura. Aneka kudapan seperti lemang tapai, serabi, pisang santan, tempe goreng, dan lupis tak kalah menggiurkan.
Siang merambat, konsumen malah semakin berjubel. Sejumlah pengunjung yang baru tiba tampak terkejut mengamati konsumen yang berasak-asak. Mulai konsumen mengantre sampai melahap makanan, lamanya bisa sampai 30 menit. Tak heran karena mereka juga harus bersirobok sambil berburu kursi.
Semua tempat duduk di lantai dasar sudah penuh. Sejumlah pengunjung beranjak ke lantai dua lalu bisa bernapas lega setelah menemukan kursi kosong. Mereka yang membawa keluarga atau teman-temannya bahkan berkeliling lebih lama karena ingin duduk berdekatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/04/f15c7010-d673-44b8-acb3-1948d483dbb1_jpg.jpg)
Seorang pengunjung dengan sabar menunggu di depan gerai gorengan. Tatkala bakwan panas ditumpahkan, konsumen-konsumen lain yang rupanya sudah tak sabar lantas maju dan mencomotinya hingga ludes. Tinggal pembeli yang berdiri paling depan terbengong-bengong gara-gara hanya kebagian dua potong.
Kerumunan memang lumrah berdesak-desakan di Kuliner Urang Awak Minang Rajawali setiap akhir pekan. Soto Padang Rajawali, demikian jenama terdahulu yang sudah diganti. Menu sarapan disajikan hingga pukul 11.00, namun jika sangat padat, sudah banyak konsumen yang gigit jari sejam sebelumnya.
Pegawai Kuliner Urang Awak Minang Rajawali, Agus Tianto (32), pernah menghadapi sepasang pembeli yang bertengkar, kira-kira dua bulan silam. Seorang bapak hendak memesan lupis. “Ada ibu yang ngotot juga. Rebutan sampai jadi tontonan. Ternyata, bapaknya yang minta duluan. Ibunya terus pergi,” katanya.
Pengunjung yang nakal juga membayar kemudian menyorongkan nota seraya meminta Agus melayaninya dulu, padahal antrean konsumen lain sudah amat panjang. “Kasihan yang antre, tapi orangnya baru datang, sengaja bayar, dan maksa. Saya sudah stres mikirin antrean,” ujarnya sembari tertawa.
Sesekali, pengunjung yang hendak langsung bersantap tiba-tiba berubah pikiran untuk membungkus pesanannya. Jika lengang, Agus bisa memaklumi, namun permintaan demikian mengakibatkan waktunya tersita ketika konsumen tengah berjejalan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/04/6767604b-5b35-474a-82a9-68248717a332_jpg.jpg)
Kuliner Urang Awak Minang Rajawali yang berkapasitas sekitar 300 pengunjung sudah buka pada pukul 07.00. Rumah makan itu berlokasi di Jalan Balai Pustaka Timur, Jakarta. Setiap hari kerja, ketupat pitalah yang terjual sekitar 300 porsi.
Jumlah itu melonjak pada akhir pekan atau mencapai 500 porsi per hari. Sementara, soto padang terjual sekitar 400 porsi setiap hari kerja. “Kalau Sabtu atau Minggu, bisa sampai 700 porsi. Hanya setiap Senin, sarapan tidak tersedia,” ucapnya.
Saat dicicipi, ketupat pitalah tercecap gurih dengan kuah pekat diselingi santan yang berpadu pedas. Di antara pendamping yang melimpah seperti buncis, rebung, nangka muda, dan beberapa butir cabai rawit merah atau hijau, taburan kerupuk merah kian menggugah selera.
Tunjang yang tak alot sama sekali menambah sedapnya ketupat pitalah. Lauk itu teronggok utuh dalam wadah alumunium, tetapi jika konsumen menghendaki, karyawan bisa memotong-motongnya. Lidah pun spontan mendeteksi irisan yang dimasak selama berjam-jam.
Adapun soto padang mencuatkan sekelebat asin yang pas lewat kuah hangat dengan imbuhan merica, bihun, bawang goreng, seledri, kayu manis, dan ketumbar. Sesapan yang kaya dengan rempah bertambah lezat seiring sensahi jahe dan lengkuas yang sekilas menyelinginya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/04/5bec0dd5-b432-4c9e-89dc-c35a4db416ac_jpg.jpg)
Potongan paru dan daging yang tergenang boleh ditemani sepiring nasi. Setiap porsi soto padang dibanderol Rp 40.000 dan ketupat pitalah Rp 20.000. Minuman paling laris, teh telur, harganya Rp 20.000 per gelas. Menjelang tengah hari, menu pun berganti untuk makan siang hingga malam. Kuliner Urang Awak Minang Rajawali buka sampai pukul 21.30.
Sehari-hari, Immasni Amin (79) sudah hadir di rumah makannya sekitar pukul 08.00. Im, sapaan akrabnya, mendirikan Kuliner Urang Awak Minang Rajawali pada tahun 2016. Ia terpikir untuk meramu masakan tradisional. Perempuan kelahiran Bukittinggi, Sumbar, itu memang hobi wisata kuliner, jalan-jalan, dan memasak.
Ia meyakini membeludaknya pengunjung berkat kelezatan yang disebar dari mulut-mulut. Meski tak bisa memastikan persisnya, Im mengungkapkan antrean panjang sudah berlangsung beberapa bulan. Ia tak sekadar membangun rumah makan, tetapi juga melestarikan khazanah kuliner minang.
Im menyodorkan makanan kampung halamannya yang tergolong langka di Jakarta. Dalam menu juga tercantum, antara lain, sambal lado tanak, itiak koto gadang, dan sambal buruak. Tak lama lagi, kuliner unik minang lain, samba bubua, bisa pula dikonsumsi.
“Kadang, pengunjung bilang kayak makan di rumah orang gaek. Maksudnya, tempat orangtua. Mereka terkenang waktu kecil di kampungnya,” tutur Im diikuti senyum. Ia pun tak segan memasok rebung, pakis, dan gula aren dari Padang untuk menjaga kualitas masakannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/04/31bb6595-5596-417d-bde6-04e422dee5e5_jpg.jpg)
Im awalnya menjagokan soto padang. Wajar jika Soto Padang Rajawali terpilih untuk melabeli rumah makan itu. Masukan konsumen diperhatikan sehingga menu saat ini jauh lebih bervariasi. Ia pun mengganti logo bisnisnya menjadi Kuliner Urang Awak Minang Rajawali.
“Soalnya, makanan yang dijual macam-macam. Kalau nama yang lama, konsumen hanya fokus sama soto padang. Saya pilih soto sebab racikannya di Padang beda,” katanya. Ia semula membuka rumah makannya sejak siang hingga malam. Banyak konsumen yang menyarankan Im untuk menyediakan sarapan.
Sony Ferdian (47) memfavoritkan soto padang dengan keunggulan cita rasanya yang otentik. Warga Pos Pengumben, Jakarta, yang berdarah minang itu juga menyukai sate padang. Ia tertarik untuk singgah setelah menonton konten rumah makan tersebut lewat Youtube.
Kebetulan, pegawai BUMD di Jakarta itu berkantor di Pulomas yang lumayan dekat dengan Kuliner Urang Awak Minang Rajawali. “Baru sekali saya datang. Lain kali, pengin mampir lagi. Rumah makannya tak terlalu besar, tapi bagus. Harga juga sepadan dengan makanannya,” ujarnya.
Penulis:
Dwi Bayu RadiusEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase