Di zaman digital saat ini hampir semua orang bisa memotret, tapi tak semuanya bisa bercerita lewat fotonya.
17 Des 2024 10:37 WIB · Foto
Memotret itu mudah. Hal ini bisa dilakukan semua orang saat kemajuan teknologi digital begitu mendukung. Alat untuk memotret pun kini tidak harus menggunakan kamera khusus. Penyematan fitur kamera pada ponsel membuat semua orang bisa memotret. Dan, ketika hasil foto-foto tersebut memenuhi memori ponsel, lahirlah media sosial yang bisa digunakan untuk membagikan hasil foto tersebut.
Kehadiran media sosial membuat siapa pun bisa bercerita tentang pengalaman keseharian, baik lewat tulisan atau foto. Medium fotografi yang hasilnya berbentuk visual dianggap lebih mengena untuk berbagi cerita. Sering kali, foto yang menarik dapat menggugah perasaan dibandingkan dengan tulisan semata. Dan, salah satu yang lazim dilakukan adalah membagikan foto-foto dalam unggahan seri yang dikenal juga sebagai foto cerita.
Dalam dunia jurnalistik, foto cerita pada awalnya dipopulerkan oleh majalah Life, sebuah majalah hiburan yang banyak diisi dengan ilustrasi dan foto. Majalah ini menjadi salah satu majalah yang banyak dijadikan contoh dan rujukan terbitan media cetak di abad ke-20. Foto-foto yang terbit di majalah Life menjadi karya foto jurnalistik yang ikonik, menginspirasi, serta memberikan dampak besar bagi kehidupan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/16/b5dc6fde-51c7-4f6e-bb2f-c081981c9419_jpg.jpg)
Foto cerita merupakan gabungan dua foto atau lebih yang berkesinambungan dan dikemas menjadi suatu cerita dengan tema tertentu sehingga menghasilkan interpretasi tersendiri. Foto cerita dilengkapi dengan tulisan untuk membantu menjelaskan cerita yang disajikan. Dalam membuat foto cerita, bisa disajikan dengan beragam gaya berbentuk esai, deskriptif, seri, menyandingkan atau membandingkan (diptik atau triptik), dan lain-lain.
Foto esai biasanya foto cerita yang lebih banyak dikerjakan oleh fotografer jurnalistik dengan mengangkat tema atau isu tertentu. Foto jenis ini lebih menceritakan sebuah kisah dan biasanya memiliki satu tujuan tertentu. Foto-foto bisa dibuat dengan obyek berbeda, tapi masih dalam satu topik yang sama. Pengerjaan foto esai terkadang membutuhkan waktu lama karena harus diawali dengan riset kuat.
Foto cerita deskriptif lebih menceritakan gambaran detail akan suatu tema yang diangkat. Misalnya tentang suatu proses produksi suatu barang. Foto seri lebih pada foto-foto yang menggambarkan perkembangan suatu obyek dalam urutan waktu. Adapun foto sanding lebih pada menampilkan dua foto atau lebih yang menggambarkan perbandingan foto suatu obyek di waktu lampau dan sekarang.
Dalam konteks keseharian bagi pehobi foto, membuat foto cerita bisa dilakukan secara sederhana. Dari foto-foto yang kita ambil, bisa ditentukan benang merahnya dan kemudian kita susun menjadi foto cerita yang saling terkait.
Untuk membuat rangkaian foto cerita yang bagus, kita tidak hanya butuh pengetahuan dan keterampilan membuat foto yang baik, tapi juga keterampilan untuk bercerita. Selain itu, menentukan ide atau topik menjadi awal langkah membuat foto cerita. Setelah ide tercetus, kita melakukan perencanaan dan riset mengenai kapan dan di mana saat yang tepat untuk membuat foto.
Ada kalanya rangkaian foto cerita tidak hanya dibuat dalam satu waktu saja, tapi bisa beberapa kali di tempat yang sama ataupun berbeda. Jika yang diceritakan melibatkan orang, butuh hubungan personal yang intens antara fotografer dan subyek yang difoto. Kita harus bisa menjaga sikap selama memotret agar mendapatkan foto yang bagus.
Jika yang diceritakan terkait suatu tempat, kita harus paham kapan waktu yang tepat untuk memotret. Kemudahan akses dan tidak adanya batasan memotret tempat tersebut menjadi syarat utama membuat foto cerita tentang suatu tempat.
Setelah kita mendapatkan foto-foto yang dibutuhkan, kita bisa menyusun menjadi sebuah cerita sesuai dengan ide awal apa yang akan kita tampilkan. Jika mengacu pada formula membuat foto cerita yang diperkenalkan oleh majalah Life, ada beberapa elemen dalam foto cerita, yaitu pengantar, potret, interaksi, ikon atau penanda utama, detail, dan penutup.
Dengan panduan elemen tersebut, kita bisa menyusun cerita dengan menempatkan foto-foto yang ada sesuai tempatnya. Apabila kita merasa kurang, bukan tidak mungkin kita dapat mengulang memotretnya. Namun, terkadang keterbatasan waktu membuat kita harus memaksimalkan perencanaan dan proses pemotretan.
Foto cerita perjalanan
Salah satu contoh mudah membuat foto cerita adalah saat kita melakukan perjalanan, baik untuk liburan maupun perjalanan dinas. Kita bisa memulai dengan melakukan riset kecil seperti mencari informasi tentang lokasi yang akan kita tuju. Kita juga bisa mengumpulkan referensi tentang keunikan lokasi, ikon di tempat tersebut, akses menuju lokasi dan akses untuk memotret, serta waktu yang tepat untuk memotret di lokasi. Tidak lupa informasi tentang cuaca juga menentukan sukses tidaknya kita berburu foto.
Dari riset awal kemudian kita tentukan tema atau topik apa yang akan kita sajikan. Apakah keunikan, keramaian, keindahan arsitektur, atau sisi kehidupan keseharian di lokasi tersebut. Setelah menentukan hal tersebut, kita bisa mencatat foto apa saja yang harus diambil saat di lokasi.
Saat melakukan pemotretan, kita bisa mengikuti panduan yang sudah kita catat. Usahakan tidak ada yang terlewat. Selain itu, kita juga harus peka jika menemukan sesuatu yang unik dan menarik untuk dipotret. Ambilah foto dengan berbagai format sebanyak mungkin untuk memudahkan kita memilih foto nantinya.
Salah satu metode yang bisa kita terapkan untuk memotret foto cerita adalah dengan metode EDFAT (entire, detail, frame, angle, time), sebagaimana pernah dibahas di Klik Kompas edisi 26 November 2024.
Setelah semua dirasa cukup, kita bisa melakukan kurasi dan pemilihan foto. Untuk ini, kita bisa meminta bantuan editor atau orang lain sebagai kurator untuk membantu menyeleksi foto. Namun, apabila kebutuhan kita membuat foto cerita hanya untuk diunggah ke media sosial, seleksi bisa kita lakukan sendiri.
Proses selanjutnya kita membuat urutan foto yang disertai narasi pengantar yang menjelaskan rangkaian cerita dari foto-foto tersebut. Jika ada editor, kita harus bisa menjelaskan apa yang kita buat agar dia memahami foto cerita kita. Tujuan membuat foto cerita harus jelas sehingga editor bisa membantu menyusun sesuai keinginan kita. Apabila tak ada editor, kita bisa meminta tolong teman atau keluarga dekat untuk melihat foto cerita kita. Dan, sebagai proses akhir kita bisa publikasikan karya foto cerita kita sesuai keinginan. Selamat mencoba!
Penulis:
iwan setiyawanEditor:
Ignatius Danu Kusworo