Berdalih Salah Identifikasi, Militer Israel Tembaki Pasukan Penjaga PBB

Israel kembali melanggar gencatan senjata. Tentara Israel menembaki pasukan sementara penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan.

17 Nov 2025 16:30 WIB · Internasional

AFP / JALAA MAREY

Oleh Helena Fransisca Nababan

BEIRUT, SENIN — Pasukan sementara penjaga keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNIFIL menyatakan militer Israel menembaki pasukan itu pada Minggu (16/11/2025) pagi waktu setempat di Lebanon selatan. Tidak ada anggota pasukan PBB yang dilaporkan terluka, tetapi Pemerintah Lebanon menyatakan tembakan menewaskan satu warga sipil.

UNIFIL melalui pernyataan yang termuat dalam laman resmi PBB menyatakan, Israel melepaskan rentetan tembakan artileri berat dari tank Merkava yang ditempatkan di dekat sebuah pos Israel di Lebanon selatan. Tembakan diarahkan ke pasukan penjaga perdamaian yang sedang berjalan kaki. Tembakan senapan mesin berat itu mendarat hanya lima meter dari pasukan penjaga perdamaian. Pasukan perdamaian pun terpaksa mencari perlindungan.

Perwakilan UNIFIL disebutkan berhasil menghubungi Militer Israel (IDF) melalui saluran komunikasi mereka. ”UNIFIL meminta IDF berhenti menembak,” kata UNIFIL dalam siaran pers dalam laman UNIFIL.

Pasukan patroli UNIFIL berhasil meninggalkan lokasi dengan selamat setengah jam kemudian. Tepatnya, ketika tank Israel mundur ke arah Pos IDF.

”Untungnya, tidak ada yang terluka,” demikian dinyatakan UNIFIL, seraya menambahkan bahwa serangan itu merupakan pelanggaran serius terhadap Resolusi Dewan Keamanan 1701, yang diadopsi pada tahun 2006, untuk menyelesaikan perang antara Israel dan kelompok Hizbullah.

”Sekali lagi, kami menyerukan kepada (militer) Israel untuk menghentikan segala perilaku agresif dan serangan terhadap atau di dekat pasukan penjaga perdamaian,” kata UNIFIL.

Militer Israel kemudian memberikan pernyataan bahwa mereka tidak sengaja menembaki pasukan UNIFIL di daerah El-Hamames dekat perbatasan Israel di Lebanon selatan itu. Tembakan dilancarkan karena tentara Israel salah mengidentifikasi pasukan UNIFIL sebagai dua tersangka di tengah kondisi cuaca buruk.

”Pasukan kemudian melepaskan tembakan peringatan, dan para tersangka menjauhkan diri. Tidak ada korban luka yang dilaporkan,” jelas IDF.

IDF menyatakan, tentara Israel kemudian menyadari bahwa mereka adalah pasukan penjaga perdamaian PBB. IDF lantas melakukan peninjauan dan menetapkan bahwa para tersangka adalah tentara PBB yang sedang berpatroli di wilayah itu.

IDF menambahkan, mereka tengah menyelidiki insiden tersebut. Insiden itu ditangani melalui jalur penghubung militer resmi.

Troops from the United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) patrol near the southern Lebanese border village of Kfar Kila on November 12, 2025. Israel has recently intensified its strikes on Lebanon, accusing the Iran-backed Hezbollah group of rearming, nearly a year into a ceasefire that brought an end to their most recent war. (Photo by Rabih DAHER / AFP)

Korban sipil

Meski dari pihak UNIFIL tidak ada yang terluka, Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan, tembakan tentara Israel telah menewaskan seorang warga sipil. Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan, serangan itu mengenai sebuah mobil di kota Al-Mansouri, selatan Tyre, dan hanya sekitar 10 kilometer dari perbatasan Israel.

Kantor Berita Nasional Lebanon memberitakan, korban tewas bernama Mohammed Shoueikh. Ia adalah seorang kepala sekolah di Al-Mansouri.

IDF tidak segera mengonfirmasi pertanyaan AFP terkait dengan korban tewas. IDF mengatakan bahwa mereka berhak untuk menyerang target militan di Lebanon yang dianggapnya sebagai ancaman.

UNIFIL

Pasukan UNIFIL berada di Lebanon untuk mengonsolidasikan dan mempertahankan gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Kedua pihak berperang seiring dengan meletusnya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023.

UNIFIL bekerja sama dengan tentara Lebanon untuk tujuan itu. Gencatan senjata sudah dicapai pada November 2024 dengan dasar Resolusi DK PBB 1701.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Israel akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan. Sementara Hizbullah diharuskan tidak memiliki senjata apa pun di Lebanon selatan.

Akan tetapi, Israel tetap mempertahankan pasukannya di lima wilayah yang dianggap strategis. Israel juga tetap melakukan serangan rutin terhadap target-target di Lebanon dengan dalih serangan ditujukan ke lokasi dan operasi Hizbullah.

Pemerintah Lebanon menuduh Israel melanggar perjanjian tersebut dengan tidak menarik diri dan terus melakukan serangan udara.

Militer Lebanon melalui sebuah pernyataan menyatakan, pelanggaran Israel terhadap kedaulatannya menyebabkan ketidakstabilan di dalam negeri. Pelanggaran Israel menghalangi Lebanon untuk menempatkan pasukannya sendiri di selatan. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji