Dua wakil Indonesia di Daihatsu Indonesia Masters 2025 lolos sampai ke final. Sektor putra meski minim pelapis masih menunjukkan baranya.
25 Jan 2025 21:47 WIB · Olahraga
Jonatan Christie dan pasangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto memastikan diri ke babak final Daihatsu Indonesia Masters 2025. Lolosnya mereka kali ini memperlihatkan sektor putra masih menjadi penyokong bulu tangkis Indonesia, meski kondisinya juga tengah karut-marut minim penerus.
Lewat 12 pukulan bergantian dari Fajar dan Rian, pasangan Thailand Kittinupong Kedren/Dechapol Puavaranukroh harus memupus harapan maju ke final setelah pengembalian koknya menyangkut di net. Poin 24-22 untuk keunggulan Fajar/Rian pun menutup pertandingan semifinal Indonesia Master, Sabtu (25/1/2025).
Fajar/Rian sempat memimpin 19-17 pada gim kedua. Walakin, kesalahan berulang kali yang dilakukan keduanya menguntungkan pasangan lawan. Keadaan berubah. Kedren/Puavaranukroh berbalik memimpin 19-20. Suasana Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, kian riuh dengan teriakan pendukung tuan rumah yang memberi semangat. ”Ayo, Mas Fajar, Mas Rian. Kamu bisa, lho,” teriak seorang perempuan dari bangku penonton.
Drive cepat ditutup smes kencang membuka peluang kembali untuk menyelesaikan gim karena Fajar/Rian mencetak poin, 20-20. Dua kali pasangan tuan rumah tersalip, tetapi bisa menyamakan skor lagi. Fajar/Rian mulai ambil kendali dengan kedudukan 22-21 dan terus berlanjut hingga berakhir dengan kemenangan dalam dua gim langsung, 21-14, 24-22.
Pekan lalu di India Open 2025, Fajar/Rian juga berjumpa dengan Kedren/Puavaranukroh. Saat itu, pertandingan juga berlangsung sengit dengan rubber game. Hanya, poin 24-22 kala itu menjadi penanda menangnya pasangan Thailand tersebut yang mengakibatkan Fajar/Rian tersingkir di babak kedua. Di turnamen sebelumnya, Malaysia Open 2025, pasangan Indonesia ini juga gagal melangkah jauh karena terhenti di babak pertama.
”Untuk Indonesia Masters ini memang langsung persiapan, gym dan teknik, setelah kalah di turnamen-turnamen sebelumnya. Jadi, pas kalah itu langsung latihan lagi, tidak santai. Nyoba arena, terus kontinu. Kondisi badan enggak turun dan terus menjaga,” ujar Fajar yang juga mengapresiasi dukungan suporter selepas pertandingan.
Rian menambahkan pertemuan di turnamen sebelumnya juga menjadi catatan dan bekal untuk berjuang hari ini sehingga strateginya sudah disiapkan.
”Sudah antisipasi karena sebelumnya baru bertemu. Tadi juga menang angin jadi lebih percaya diri. Kalau di India, agak sedikit berat dan kalah angin. Defensenya jadi ngambang.Yang terpenting juga, komunikasi terus gimana caranya tidak gampang membuang poin,” jelas Rian.
Esok, Fajar/Rian akan berhadapan dengan ganda putra Malaysia Wei Chong Man/Kai Wun Tee. Tahun lalu, kedua pasangan ini pernah bertemu di tiga turnamen.
Ketiga laga saat itu dimenangkan semua oleh Fajar/Rian. ”Kami tetap mempersiapkan yang terbaik. Karena tren mereka juga sedang bagus kan,” kata Fajar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/25/039a921b-8b9a-497d-a280-6e01acda14a6_jpg.jpg)
Di nomor tunggal, Jonatan yang menjadi satu-satunya andalan Indonesia membuktikan diri sampai ke final setelah menaklukkan Wang Tzu-Wei dua set langsung, 21-18, 24-22. Banyak mati sendiri menyebabkan Tzu-Wei frustrasi. Beberapa kali, ia berjongkok menekuri kesalahannya yang menambah poin untuk Jonatan.
Percaya diri Tzu-Wei sempat muncul ketika berhasil menyamakan kedudukan setelah tertinggal 20-16 menjadi 20-20. Meski Jonatan kemudian unggul lagi, Tzu-Wei mampu memaksa seri hingga 22-22. Jonatan pun tampak kecewa ketika akurasi pengamatannya meleset dan kok dinyatakan masuk oleh wasit. Selanjutnya, Jonatan terlihat menahan diri dan mengurangi tekanan pada pukulannya. Cara ini terbukti ampuh sehingga ia keluar menjadi pemenang.
”Beberapa kali pengin cepat selesai, pakai serangan terus malah jadi bumerang. Wang Tzu-Wei juga sudah merancang untuk membuat saya mati sendiri. Akhirnya ganti strategi, menahan diri. Bola belakang tahan dulu jadinya,” ungkap Jonatan.
Di final nanti, Jonatan akan berhadapan dengan Kunlavut Vitidsarn dari Thailand. Secara statistik, Jonatan lebih unggul karena dari 10 pertemuan, sebanyak tujuh laga dimenangkan Jonatan. Kendati demikian, Jonatan tetap fokus mengingat Vitidsarn baru saja mengalahkan unggulan pertama dari Cina, Shi Yu Qi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/25/2973da4f-aeef-4536-a325-7d98168d9af6_jpg.jpg)
Sementara itu, Rinov Rivaldy/Lisa Ayu Kusumawati akan melakukan instrospeksi pada diri sendiri setelah kalah pada semifinal. Meski melangkah cukup jauh pada turnamen di masa awal duet, mereka harus belajar tampil konsisten.
Masalah konsistensi penampilan sejauh ini masih menjadi kekurangan mereka, terutama dalam dua babak terakhir, pada perempat final dan semifinal. Rinov/Lisa terhenti pada semifinal setelah kalah dari pasangan Jepang yang menjadi unggulan ketujuh, Hiroki Midorikawa/Natsu Saito, dengan skor 18-21, 16-21.
Setelah kehilangan gim pertama dan tertinggal hingga lima poin, 8-13, Rinov/Lisa baru bisa menahan kecepatan bermain Midorikawa/Saito. Mereka bisa menyamakan skor menjadi 13-13, 14-14, dan 15-15 melalui permainan reli panjang yang didominasi adu drive.
Namun, setelah menambah setiap poin dengan upaya keras untuk bertahan, Rinov/Lisa kehilangan empat poin beruntun dengan mudah. Ganda yang baru berpasangan pada 2025 ini selalu kehilangan poin pada awal setiap perebutan poin, rata-rata kurang dari lima pukulan. Ketidaksiapan mereka dalam pukulan pembuka ini pada akhirnya berbuah unforced error hingga lawan mendapatkan kembali momentum dan memenangi pertandingan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/25/ca4ed225-c16a-4da3-9066-9a8e26d391da_jpg.jpg)
Sebagai pasangan baru, perputaran posisi masih menjadi kelemahan mereka. Ketika celah terbuka di lapangan mereka, lawan dengan cepat memanfaatkannya. Tak seperti ketika berhadapan dengan Hoo Pang Ron/Cheng Su Yin pada perempat final, saat bisa bangkit pada poin-poin kritis di akhir gim ketiga, kali ini, Rinov/Lisa kesulitan untuk keluar dari tekanan.
Saya harus mengintrospeksi diri sendiri, fokus memperbaiki penampilan, dan mengembalikan hati untuk bisa menikmati kembali permainan. Setelah itu, prestasi akan mengikuti.
Rinov/Lisa hanya punya waktu kurang dari sepekan untuk memperbaiki diri menghadapi tantangan terdekat karena mereka akan tampil pada turnamen berikutnya, Thailand Masters, 28 Januari-2 Februari. Mereka akan tampil pada turnamen Super 300 itu bersama ganda campuran Indonesia lain yang merupakan formasi baru, seperti Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Verrell Yustin Mulia/Pitha Haningtyas Mentari.
Dengan demikian, Indonesia lagi akan bergantung pada sektor putra. Sejak Indonesia Masters kembali digelar pada 2018 setelah sempat tiada pada 2017, sektor ganda putra selalu lolos hingga final bahkan beberapa kali terjadi ”all Indonesian finals”. Untuk sektor tunggal putra, tiga kali berhasil ke final dan pernah menciptakan juga final antar Indonesia pada 2023.
Penulis:
Riana A Ibrahim, Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase