Bagi kaum urban, berhari raya dengan gembira, tapi rasional dan tidak makan tabungan adalah solusi tepat di tengah situasi yang tidak baik-baik saja.
13 Mar 2026 13:00 WIB · Kolom
Kompas/Supriyanto
Tiba saatnya pekan penuh hari raya. Merayakan Nyepi ataupun Idul Fitri, ada yang mudik ke kampung halaman mengikuti tradisi. Ada yang staycation menikmati kotanya yang mendadak lengang. Sebagian lagi memilih di rumah saja.
Sembari menikmati apa pun pilihannya, tetap ada selintas waswas. Hendak seperti apakah situasi negara, dunia, juga kita setelah hari raya terlewati dan cuti berakhir? Situasi saat ini bisa jadi membuat gundah gulana.
Ada pengaruh eksternal yang menekan, antara lain ketidakpastian perdagangan global yang dipicu kebijakan tarif Amerika Serikat. Kini, ditambah pula gejolak perang di Timur Tengah. Jalur distribusi minyak terganggu, harga energi terkerek naik. Beberapa negara mulai menata ulang anggaran dan memberlakukan bekerja ataupun bersekolah dari rumah untuk menyesuaikan diri. Kebijakan serupa bisa jadi diambil Indonesia jika perang berlanjut.
Saat ini, di dalam negeri, beberapa waktu terakhir keadaannya juga tak mudah. Sejumlah kebijakan nasional disertai efisiensi anggaran superketat menuai berbagai kasus yang merugikan publik dan diiringi pro kontra tajam. Semuanya berdampak langsung pada sektor transportasi, konstruksi, layanan publik daerah, hingga program-program yang selama ini menjadi sumber nafkah jutaan pekerja informal.
Gelombang PHK telah menerjang industri padat karya setidaknya sejak 2024, meliputi industri tekstil, alas kaki, elektronik, dan jenis komoditas lain. Tren yang sama masih berlangsung sampai sekarang.
Data BPS mencatat populasi kelas menengah Indonesia menyusut dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024 atau hampir 10 juta orang keluar dari kelompok itu dalam lima tahun. Menjelang Lebaran kali ini, BPS memperingatkan kenaikan harga bahan pokok yang diperburuk oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Daya beli warga yang sebelumnya sudah menipis semakin terkikis.
Dalam konteks itulah mudik di hari raya terasa kian mahal. Ada biaya tiket, bahan bakar, tarif tol, dan oleh-oleh yang semuanya naik. Mudik, bagi sebagian orang, kerap dilakukan karena tuntutan menjaga citra di hadapan handai taulan di kampung halaman yang tentu saja menambah bengkak anggaran.
Akhir-akhir ini, tekanan sosial dipepet kondisi ekonomi. Akibatnya, ada yang menjadikan mudik pulang kampung sebagai sarana sekaligus menetap di sana sebagai strategi menyelamatkan diri dan keluarga. Ada yang memilih rasional dan berkepala dingin dengan tetap di kota demi menjaga tabungan tetap tersisa. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, setidaknya ada 10,2 juta pemudik pada 2025 atau turun sekitar setengah juta jiwa dibandingkan tahun 2024.
Bagi sebagian kaum urban lainnya, mudik tak lagi penting karena memang tidak lagi punya ikatan kekeluargaan erat dan ekonomi dengan tempat asalnya. Hal tersebut terkait dengan kehidupan perkotaan yang makin mendominasi.
Tahun 2022, sebanyak 56 persen penduduk Indonesia sudah tinggal di kawasan perkotaan, setara tiga kali lipat jumlah penduduk tahun 1960. Jumlah penduduk di kawasan urban diproyeksikan melampaui 70 persen pada 2040. Banyak perdesaan yang kini telah mengalami urbanisasi dengan problem ketenagakerjaan dan daya tampung ekonominya sendiri. Meskipun ada setumpuk tebal memori romantis tentang kampung halaman, pulang di masa kini tak selalu menemukan suasana maupun rasa yang sama dengan masa sebelumnya.
Di sisi lain, kota, tempat merantau, menetap, dan membentuk keluarga juga relasi di sekitar tempat tinggal, tempat kerja, serta tempat di antara keduanya, telah menjadi kampung halaman baru. Pada sat yang sama, di tengah segala atribusi buruknya, mulai dari macet, penuh polusi, padat, hingga kerasnya kehidupan, kota menjadi tempat yang masih menawarkan peluang untuk menggantungkan hidup.
Walakin, khususnya di Indonesia, kota tidak sepenuhnya berpihak para para penghuninya. Riset Bulletin of Indonesian Economic Studies (2024) mencatat bahwa kenaikan 1 persen populasi urban Indonesia hanya menghasilkan kenaikan pendapatan per kapita 1,4 persen. Angka ini di bawah China yang mencapai 3 persen dan rata-rata negara berkembang di Asia Timur sebesar 2,7 persen. Kota menyerap orang dalam jumlah besar, tapi tidak otomatis mengangkat taraf hidupnya secara proporsional.
Temuan menarik dalam riset Civelli, Gaduh, Rothenberg, dan Wang di kota-kota di Indonesia yang diterbitkan The Economic Journal (2023), menemukan bahwa kepadatan yang lebih tinggi menggerus kepercayaan antarwarga dan partisipasi komunitas. Artinya, semakin kota tumbuh padat dan cepat, perekat sosial antarwarga melapuk.
Robert Putnam dalam Bowling Alone (2000) sudah lebih dulu mendokumentasikan erosi modal sosial di perkotaan ini secara sistematis. Mengacu risetnya di Amerika Serikat, Putnam menunjukkan bahwa modal sosial di kota-kota di sana meningkat antara 1900 hingga akhir 1960-an, lalu turun drastis. Itu karena terdorong pergantian generasi, merebaknya kemajuan teknologi, khususnya televisi, yang membuat orang asik sendiri.
Selain itu, berlangsung masif fenomena urban sprawl atau pertumbuhan kota tak terarah alias berserak. Fenomena ini secara spesifik berkontribusi karena memisahkan orang secara fisik, memperpanjang waktu ke tempat kerja, sekolah, dan lainnya, serta melemahkan rasa keterikatan pada komunitas terdekat.
Putnam memperkirakan suburbanisasi dan urban sprawl menyumbang sekitar 10 persen dari penurunan keterlibatan warga dalam kehidupan komunitas sejak 1965. Angka itu terlihat kecil, tapi efeknya bersifat kumulatif membengkak seiring tahun berlalu dan urbanisasi tak terkendali.
Riset Putnam masih relevan untuk melihat situasi saat ini, termasuk di perkotaan di Indonesia yang sekarang tengah pesat-pesatnya tumbuh tanpa arah. Jika terus dibiarkan, kehidupan di kota akan semakin menyulitkan warganya. Untuk itu, di saat tren urbanisasi tak terbendung dan pilihan tinggal di kota tak terelakkan, catatan penting dari Putnam adalah agar semua pihak kembali menata-ulang kota yang dapat merekatkan kembali relasi sosial kaum urban.
Ia mendorong redesain kota yang memungkinkan interaksi antarwarga, mendukung teknologi yang memperkuat pertemuan tatap muka. Tidak harus membongkar apa yang telanjur terbangun, tetapi menciptakan jembatan ruang untuk perjumpaan fisik. Tidak lupa, menghidupkan kembali keterlibatan aktif dalam kelompok-kelompok kecil, meliputi komunitas berbasis minat, asosiasi profesi, kegiatan seni dan budaya yang partisipatif. Intinya, modal sosial bisa muncul dan berkembang subur hanya jika ada interaksi fisik berulang dan konsisten, disertai kepercayaan yang dirawat dalam skala kecil sebelum meluas.
Hari raya, apa pun latar belakang keyakinannya, erat dengan ajakan untuk kembali memperbaiki hubungan antarmanusia. Sensitivitas pembuat dan pelaksana kebijakan, pengelola kota, juga individu-individu diuji untuk dapat memanfaatkan momentum ini guna membangkitkan lagi relasi erat antarpersonal, apa adanya, bukan bersembunyi di balik pencitraan.
Sudah saatnya mengikis pamor kota yang kompetitif, padat, dan mahal lagi egois dengan memupuk modal sosial. Fasilitas publik dari taman-taman terbuka dekat permukiman dan pusat kegiatan warga sampai angkutan umum terintegrasi terjangkau serta luas cakupan layanannya adalah bagian dari infrastruktur yang wajib disediakan kota.
Sembari menunggu pembangunan kota pro-publik, yang bisa dilakukan setiap warga adalah memaksimalkan pemanfaatan fasilitas umum yang tersedia hari ini.
Selain itu, dapat mulai refleksi diri. Berhari-raya dengan menguras tabungan, lengah terhadap sinyal pekerjaan yang mulai goyah, bisa menjadi titik balik menyakitkan. Menangkal itu semua dapat dilakukan dengan merawat akar sumber penghasilan yang ada, menghangatkan kembali hubungan keluarga, mempertebal jaringan pertemanan dan relasi kerja. Semua guna memastikan kehidupan dapat tetap berlangsung baik di tengah situasi kurang baik ini.
Mudik atau tidak, mari berhari raya sepenuh hati dengan kepala tetap dingin.
Penulis:
Neli TrianaEditor:
Gesit AriyantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase