Kebiasaan masyarakat yang berbelanja membuka peluang untuk mendapatkan cuan tambahan lewat bisnis hamper Lebaran.
20 Mar 2025 16:27 WIB · Ekonomi
B
agi sebagian orang, momentum Lebaran sering kali menjadi salah satu periode dengan tingkat pengeluaran yang tinggi. Sebab, mereka biasanya perlu belanja beragam pernik yang mendukung kebutuhan menjalankan Ramadhan sampai perayaan hari raya Idul Fitri.
Konsekuensinya, mereka harus menyiapkan uang ekstra. Berbagai cara kreatif bisa ditempuh agar ada tambahan pemasukan, termasuk menggarap peluang cuan dari hamper Lebaran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/2961334c-4cb4-4d6b-931b-0be2ecabec21_jpeg.jpeg)
Salah satu warga yang melakukan itu adalah Gita Feliana (25), pegawai swasta di Surabaya, Jawa Timur. Dengan gaji per bulan sekitar Rp 4,7 juta, dia mengakui kerap susah menabung, terutama menjelang Lebaran.
Uang tunjangan hari raya yang dia peroleh dari kantor acap kali masih kurang. Pasalnya, ada pos pengeluaran baru, seperti anggaran untuk berkumpul bersama keluarga, memberi uang untuk keponakan, dan rekreasi yang memanfaatkan waktu libur hari raya Idul Fitri. Sementara harga kebutuhan pokok biasanya cenderung naik selama momen Ramadhan-Lebaran.
Oleh karena itu, sejak 2024, setiap kali memasuki Ramadhan, dia memutuskan untuk berjualan hamper berisi kue kering untuk menambah penghasilan.
”Dari keresahan itu aku mulai jual hamper demi bisa menabung, gaji itu sebenarnya cukup, tetapi karena Lebaran belum bisa untuk menabung. Nah, kebetulan aku senang membuat kue dan ada oven nganggur di rumah, kenapa tidak mulai jualan memanfaatkan momen di bulan spesial ini,” kata Gita saat dihubung dari Jakarta, Kamis (20/3/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/19/9ff12e352e5e49337a72853dcd297bc7-cropped_image.jpg)
Gita menjalani bisnis hamper itu sendirian, mulai dari perencanaan praproduksi, produksi, pengemasan, promosi, hingga mengantar pesanan ke kurir. Semua pekerjaan tersebut dia lakoni sepulang kantor.
”Bikin kuenya habis buka puasa, beresnya sampe malam sekitar pukul 23.00 WIB. Lalu, pada akhir pekan, karena kantor libur, maka aku bisa totalitas mengurusi bisnis hamper dari pagi,” ucap Gita.
Dalam memilih produk, ia juga tak sembarangan. Gita hanya memproduksi kue kering yang dianggap populer dan diminati konsumen saat Lebaran. Beberapa kue kering produksinya adalah biskuit cokelat atau keju, putri salju, nastar, dan lidah kucing.
Kue kering itu lantas dikemas menggunakan wadah yang menarik setiap paketnya. Nama ”Mealbox_Surabaya” pun disematkan untuk mempermudah konsumen mengingat kue-kue buatannya. Produk-produk itu kemudian dipromosikan di media sosial dengan nama @mealbox_surabaya untuk memperluas pasar.
Untuk menambah nilai jual, ia juga menambahkan amplop Lebaran, kartu ucapan, dan sajadah travel. Berbagai gimik itu dilakukan agar hamper yang dijajakannya lebih menarik dan berkesan bagi penerima.
Gita menawarkan paket hamper kue kering yang dipatok dengan harga Rp 70.000-Rp 125.000 per paket. Harga jual ini sama dengan tahun 2024. Dia tidak berani menaikkan harga jual karena dia mempertimbangkan isu pasar cenderung lesu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/19/5fe02c31e91ac5a9561a0317f571a5af-cropped_image.jpg)
Pendapatan dari berdagang hamper musiman itu, Gita klaim cukup menambah ”amunisi” merayakan Lebaran. Selama dua minggu Ramadhan, dia biasanya bisa menjual rata-rata 4 paket hamper kue kering per hari. Maka, pendapatan yang dia peroleh berkisar Rp 280.000-Rp 500.000 per hari.
Kemudian, seminggu sebelum Lebaran, Gita biasanya mampu menjual sampai 10 paket hamper kue kering per hari. Kenaikan pesanan ini karena masyarakat biasanya baru bertukar hamper mendekati akhir Ramadhan. Dengan demikian, pendapatan yang bisa ia kantongi berkisar Rp 700.000-Rp 1.250.000 per hari.
”Keuntungannya berjualan tersebut nanti bisalah buat tambah-tambah ’THR’ Lebaran keponakan. Lalu sisanya dipakai menabung. Aku juga ada rencana untuk upgrade ovenku, itu mimpiku, sih, cuma belum tahu kapan, semoga,” imbuh Gita.
Berbisnis hamper juga dilakoni oleh Vincentzo Calviny Joski (31). Dia memiliki cerita berbeda dengan Gita.
Laki-laki asal Mustikajaya, Bekasi, Jawa Barat, itu mulai berbisnis hamper secara penuh waktu pada Maret 2025. Beberapa tahun sebelumnya, dia bersama istri sudah merintis bisnis kue kering, tetapi sebatas untuk pekerjaan sampingan.
Kepada Kompas, Vincent, begitu dia biasa disapa, mengungkapkan peluang bisnis hamper itu besar. Apalagi, saat momen perayaan Idul Fitri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/13/0f34017d-e72e-4adf-bd65-b84a612a99d1_jpg.jpg)
”Apalagi sekarang bulan puasa, setelah itu akan Lebaran. Pada masa Lebaran itu, warga biasanya memberikan hadiah kepada beberapa rekan kerja maupun keluarga atau sahabat. Jadi melihat peluang pasar itu, akhirnya saya dan istri terjun ke bisnis hamper secara penuh,” ujar Vincent.
Isi paket hamper yang dijual adalah berbagai makanan ringan, sirup, dan jajanan. Semua tersusun dengan rapi di keranjang berwarna coklat.
Untuk mempromosikan hamper, dia dan istri hanya mengandalkan media sosial. Ini seperti peribahasa sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan promosi gratis lewat media sosial, setidaknya hamper yang mereka jual bisa langsung dilihat oleh sanak saudara dan teman-teman terdekat mereka.
”Itu kami promosikan, baik dari status Whatsapp sendiri maupun media sosial seperti Instagram, Facebook,” ujarnya.
Cara itu cukup membuahkan hasil. Sejauh ini, untuk paket hamper seharga Rp 100.000, dia bisa menjual 50 paket. Sementara itu, untuk paket seharga Rp 150.000, pesanan yang masuk bisa sampai 10 paket.
Memang, diakui bisnis hampernya belum terlalu besar. Namun setidaknya, dari beberapa parsel yang terjual, hasilnya cukup untuk menghidupi keluarganya, termasuk untuk merayakan Idul Fitri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/04/24/640f032f-4804-4824-850d-5e559e26f2f4_jpg.jpg)
”Ya, lumayanlah,” ucap Vincent. Dia enggan mengungkapkan omzet setiap hari.
Isu ekonomi lesu yang belakangan mencuat, dia akui cukup mengkhawatirkan untuk kelangsungan bisnis hamper. Oleh karena itu, dia berencana menambah ’periuk nasi’, seperti menjadi pekerja lepas di bidang video editor dan berdagang barang bekas layak pakai.
Masih banyak cerita warga berbisnis hamper Lebaran untuk menambah pundi-pundi pemasukan merayakan hari raya Idul Fitri.
Ketua Umum Asosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia Hermawati Setyorini berpendapat, khusus untuk usaha musiman hamper Lebaran bisa diseriusi untuk menjadi usaha yang berkelanjutan. Bahkan, bukan tidak mungkin usaha hamper lebih menguntungkan daripada pekerjaan utamanya.
Meskupun demikian, bisnis hamper dibutuhkan riset yang kuat, strategi yang konsisten, dan modal yang cukup agar bisa berkelanjutan. Hal itu dibutuhkan agar bisnis yang mulai dijalankan dapat memberikan keuntungan, bukan justru kerugian.
Selain itu, di tengah perekonomian yang lesu, Hermawati menyarankan penjual hamper sebaiknya menerapkan strategi prapemesanan terlebih dahulu agar produk yang dibuat tidak sia-sia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/05/12/7d0f7dd5-5861-44ca-b19e-7665b9e4d7dc_jpg.jpg)
Sementara itu, masyarakat yang ingin coba-coba di bisnis ini, dia menyarankan agar dapat memulai dengan menjadi reseller terlebih dulu. Sebab, modalnya hanya melakukan pemasaran dan distribusi. Dua langkah ini bisa dilakukan untuk menekan risiko berusaha hamper.
”Sebenarnya sekarang ada penurunan daya beli masyarakat. Pemesanan hamper tetap naik walau tidak signifikan. Fenomena mulai berbisnis dari jualan hamper ini bagus, tetapi risikonya juga harus diperhitungkan,” kata Hermawati.
Hamper merupakan simbol berbagi kebahagiaan dan keberkahan yang bukan hanya dari pengirim ke penerima, melainkan juga bagi produsen hamper itu sendiri. Gita dan Vincent adalah contoh nyata yang merasakan keberkahan itu menjelang Lebaran.
Penulis:
Stephanus Aranditio, Nikolaus HarbowoEditor:
Iqbal Basyari, Caecilia Mediana