Kebakaran di Amerika Serikat dianggap sebagai yang terburuk dalam sejarah negara itu. Hal serupa rentan terjadi di Indonesia.
11 Jan 2025 16:05 WIB · Nusantara
Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebut kebakaran yang melalap Los Angeles menjadi yang terburuk sepanjang sejarah. Di tengah dampak perubahan iklim, bila manusianya tidak siap, hal serupa rentan terjadi di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia.
Hingga Sabtu (11/1/2025) dini hari waktu setempat, kebakaran di Los Angeles menghanguskan sekitar 20.000 bangunan. Kebakaran dahsyat itu juga telah menewaskan 10 orang.
Jumlah korban jiwa masih bisa bertambah. Masih banyak area belum aman didatangi tim penyelidik dan penyelamat.
Untuk pemadaman, mulai dari pemerintah kota sampai federal telah mengerahkan setidaknya 7.500 personel pemadam kebakaran. Ratusan mobil pemadam juga diturunkan.
Selain itu, sedikitnya 50 pesawat dan helikopter dipakai untuk memadamkan api dari udara. Namun, berbagai upaya itu belum berhasil karena terkendala angin kencang yang kering (Kompas, 11/1/2025).
Sama seperti di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan adalah fenomena yang umum di Amerika Serikat, terutama di negara-negara bagian California, Nevada, dan Arizona.
Akan tetapi, kebakaran pada tahun ini begitu besar dan dahsyat. Penyebab utama, penyebaran api yang begitu masif adalah embusan kencang angin tahunan Santa Ana. Peran manusia yang tidak siap menghadapi bencana ikut membuat kebakaran semakim sulit diredakan.
Di Indonesia, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) biasanya selalu meningkat saat muncul fenomena El Nino. El Nino yang ditandai dengan meningkatnya suhu perairan di Pasifik timur dan tengah menyebabkan kenaikan suhu dan kelembaban atmosfer di atasnya.
Fenomena El Nino dapat menyebabkan kekeringan parah di sebagian wilayah, termasuk Indonesia, dan berdampak pada karhutla. Beberapa daerah di Indonesia yang menjadi langganannya adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, pada 2023 terjadi fenomena El Nino di Indonesia sehingga kejadian bencana terbanyak adalah karhutla. Ketika berada pada periode El Nino, intensitas dan frekuensi hujan di sebagian besar wilayah Indonesia sangat rendah sehingga intensitas kejadian karhutla lebih tinggi.
”Di 2023, untuk pertama dalam 20 tahun, data BNPB menunjukkan dalam setahun itu kejadian karhutla mengalahkan banjir,” kata Muhari dalam konferensi pers Kaleidoskop Bencana 2024 dan Outlook Potensi Bencana 2025 yang disiarkan melalui BNPB TV, Selasa (7/1/2025).
Sepanjang tahun 2023, BNPB mencatat ada sekitar 5.400 kejadian bencana di Indonesia. Rincian kejadian bencana tersebut terdiri dari karhutla (2.051 kejadian), cuaca ekstrem (1.261), banjir (1.255), tanah longsor (591), kekeringan (174), gelombang pasang dan abrasi (33), gempa bumi (31), serta letusan gunung api (4).
Untuk memperkuat mitigasi karhutla di 2025, kami juga akan meningkatkan sistem pendataan dan peringatan dini, membuat inovasi di bidang mitigasi, serta menjemput bantuan peralatan mitigasi dan kedaruratan bencana dari BNPB.
”Di 2023, jumlah kejadian karhutla sangat tinggi, tetapi dampaknya lebih rendah ketimbang luasan lahan yang terbakar akibat karhutla di periode El Nino sebelumnya tahun 2019 dan 2015,” katanya.
Menurut Muhari, hal itu menjadi catatan BNPB bahwa pola pendekatan dan penanganan karhutla dari tahun ke tahun semakin baik. Dengan demikian, meskipun kejadiannya lebih tinggi dari periode El Nino sebelumnya, dampak pada luasan lahan terbakar bisa lebih rendah dari puncak kejadian El Nino periode sebelumnya.
Merujuk pada data Sipongi, sistem monitoring karhutla Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), indikasi luas karhutla di Indonesia tahun 2023 sebesar 1,16 juta hektar (ha). Sementara indikasi luas karhutla pada 2019 mencapai 1,65 juta ha.
Data Sipongi juga memperlihatkan indikasi luas karhutla terbesar di Indonesia pada 2023 terjadi di Kalsel dengan luas mencapai 190.394,58 ha. Sebelumnya, pada 2019 indikasi luas karhutla di Kalsel sebesar 137.848 ha dan pada 2015 seluas 196.516,77 ha.
Sebaliknya, di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, indikasi luas karhutla pada 2023 justru lebih kecil dari luas karhutla pada 2019. Di Kalteng indikasi luas karhutla turun dari 317.749 ha (2019) menjadi 165.896,44 ha (2023) dan di Kalbar turun dari 151.919 ha (2019) menjadi 111.848,43 ha (2023).
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel Bambang Dedi Mulyadi mengatakan, pihaknya akan segera merivisi Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Kalsel Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengendalian Kebakaran Lahan atau Hutan. Tujuannya, lebih mengoptimalkan penanggulangan karhutla.
”Dengan revisi perda itu, kami akan lebih berfokus pada penguatan mitigasi dan peningkatan kolaborasi multipihak. Kami juga akan memperbarui (update) peta risiko bencana untuk lebih mendetailkan lagi pemetaan bahaya dan kerentanan,” katanya.
Berdasarkan data BPBD Kalsel, sepanjang tahun 2024 terdapat 355 kejadian karhutla di Kalsel. Semua yang terbakar adalah lahan dengan luas mencapai 1.277 ha. Kejadian karhutla ini lebih rendah dibandingkan jumlah titik panas yang terdeteksi satelit sebanyak 5.726 titik.
”Untuk memperkuat mitigasi karhutla di 2025, kami juga akan meningkatkan sistem pendataan dan peringatan dini, membuat inovasi di bidang mitigasi, serta menjemput bantuan peralatan mitigasi dan kedaruratan bencana dari BNPB,” katanya.
Dengan mekanisme baru pencatatan kejadian bencana, BNPB mencatat kejadian bencana di Indonesia tahun 2024 sebanyak 2.107 kejadian. Dari 2.107 kejadian itu, yang terbanyak adalah banjir (1.088 kejadian), sedangkan karhutla 337 kejadian. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian karhutla tetap menyebabkan 723 jiwa terdampak.
Menurut Muhari, pada 2024 terjadi fenomena La Nina, ketika curah hujan lebih tinggi dari rata-rata sehingga bencana yang paling sering terjadi di Indonesia adalah banjir.
Periode basah tahun 2024 diperkirakan masih berlanjut pada 2025, setidaknya hingga tiga bulan pertama di awal tahun 2025.
”Di 2025, bencana hidrometeorologi basah akan tetap mendominasi sehingga BNPB berdasarkan pengalaman di 2024 terus melakukan pendampingan melekat hulu-hilir, mengurangi intensitas pemicu, penguatan pemerintah daerah, dan penguatan masyarakat di level akar rumput,” ujarnya.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati pada akhir tahun 2024 menyampaikan, fenomena La Nina akan berlangsung dari akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025.
”Fenomena La Nina berpotensi mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung. Dibutuhkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan seluruh komponen, baik pemerintah pusat, pemda, maupun masyarakat,” ucapnya.
Kendati di 2025 ancaman bencana hidrometeorologi basah masih lebih besar dibandingkan ancaman bencana hidrometeorologi kering, bukan berarti mitigasi terhadap bencana karhutla boleh dikesampingkan. Karhutla juga bisa berdampak sangat buruk jika mitigasinya lemah.
”Kita berharap di 2025 ini kita bisa lebih baik, lebih tanggap, lebih efektif, dan lebih optimal dalam penanggulangan bencana sehingga dampaknya, baik moril maupun materiil, bisa kita tekan lebih sedikit lagi,” ujar Muhari.
Penulis:
Jumarto YulianusEditor:
Cornelius Helmy Herlambang