Kekejaman di Gaza Mengubah Hati Warga Dunia

Nestapa bangsa Palestina telah membuka mata banyak warga dunia, termasuk para pemimpin negara.

01 Jun 2025 15:20 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

Piers Morgan, jurnalis Inggris yang pernah kondang sebagai host di kanal televisi CNN, dikenal kerap menggedor lawan bicaranya dengan pertanyaan tak terduga.

Pasca-serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, dengan tegas, ia menyatakan posisinya sebagai pembela Israel. Dalam siaran wawancara, ia mengundang sejumlah tokoh yang dianggap cenderung berpihak pada rakyat Palestina, lalu menguji kekokohan argumentasi mereka.

Tidak jarang pertanyaannya terkesan sinis pada tamu-tamunya itu. Di antara mereka yaitu Bassem Yousef, dokter asal Mesir yang kemudian menjadi komedian di Amerika Serikat; jurnalis dan penulis buku Mehdi Hassan; dan Francesca Albanese, pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk isu Palestina.

Morgan tak jarang seperti ingin mendorong para narasumber itu ke ”tepi jurang” saat mempertahankan argumentasinya terkait perang Israel-Hamas. Setidaknya ini terlihat ketika dia mengundang Youssef hingga dua kali dalam acaranya. Begitu juga dengan Hassan.

Akan tetapi, seiring dengan semakin brutalnya kekejaman Israel di Gaza, Morgan yang sempat gigih membela Israel di layar kaca dan dunia maya pun akhirnya memperlihatkan perubahan sikap.

Pada wawancara di kanal Piers Morgan Uncensored, 28 Mei 2025, giliran Morgan membuat Tzipi Hotovely, Duta Besar Israel untuk Inggris, kewalahan. Ia mempertanyakan bagaimana Israel, yang mengklaim negaranya demokratis, menyerang Palestina, membunuh puluhan ribu warga sipil, menyebabkan kelaparan akut lebih dari 1 juta warga Palestina di Gaza, dan membumihanguskan kehidupan warganya.

Pada akhirnya, Morgan mengakui bahwa yang dilakukan oleh Israel pada bangsa Palestina di Gaza adalah genosida, tindakan di luar batas perikemanusiaan.

Di luar nalar

Tidak hanya Morgan yang mengubah sikapnya setelah lebih dari setahun terakhir melihat kehancuran dan nestapa bangsa Palestina di Gaza. Sejumlah pemimpin dunia, termasuk negara Eropa barat pun, berubah sikap.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut tindakan Israel menyerang bangunan sekolah yang menjadi tempat berlindung warga Palestina pada dini hari, ketika mayoris tengah tertidur, sebagai hal yang menjijikkan.

Rekan-rekan meratapi kematian jurnalis Palestina Hassan Essliah saat pemakamannya, setelah dia tewas dalam serangan tentara Israel semalam di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza, Selasa, 13 Mei 2025. (

Begitu juga dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz yang menyatakan operasi militer Israel ke Gaza tidak bisa lagi dibenarkan sebagai sebuah perang melawan kelompok perlawanan. ”Serangan militer besar-besaran oleh Israel di Jalur Gaza tidak lagi menunjukkan logika apa pun bagi saya,” kata Merz.

Angka kematian warga sipil di Gaza pada 29 Mei lalu menembus angka 54.000 jiwa. Angka ini belum termasuk korban jiwa yang mungkin masih berada di bawah reruntuhan gedung dan perumahan di seantero Gaza yang sudah rata dengan tanah.

Quote

”Serangan militer besar-besaran oleh Israel di Jalur Gaza tidak lagi menunjukkan logika apa pun bagi saya,” kata Merz.

Tak kalah menyedihkan, tingkat kelaparan akut jutaan warga di Gaza. Belasan ribu anak balita setiap hari berpotensi tewas karena tidak ada asupan nutrisi dalam tubuh mereka.

”Bukti apa lagi yang Anda butuhkan sekarang? Apakah Anda akan bertindak tegas untuk mencegah genosida dan memastikan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional?” ujar Tom Fletcher, Kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN OCHA) meneriakkan gugatan dalam sidang Dewan Keamanan PBB.

Indonesia sudah sejak lama menyuarakan desakan untuk kemerdekaan Palestina. Bersama sejumlah negara anggota non-blok, sejak 1955, Indonesia tak pernah berhenti menyuarakan ini. Meski ada bujukan, melalui Amerika Serikat dan kelompok negara OECD, Indonesia bergeming. Kemerdekaan Palestina, memanusiakan populasi yang tumbuh dan berkembang di wilayah itu, tetap menjadi sikap Indonesia.

Dikutip dari tulisan mantan diplomat Israel, Moshe Yegar, proklamator kemerdekaan RI, Mohammad Hatta, menuturkan, Israel pernah membujuk Indonesia untuk mengakui keberadaan Israel sebagai sebuah negara. Caranya, mencoba mengirimkan misi persahabatan.

Akan tetapi, Hatta, yang saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri, menolak dengan halus dan meminta agar misi itu ditunda hingga batas waktu yang tidak ditentukan (Moshe Yegar, 2006, The Republic of Indonesia and Israel, 12:1).

Hatta menyatakan, Indonesia menentang penjajahan, termasuk yang dilakukan Israel terhadap Palestina. ”Tak adanya kemerdekaan, maka tak akan tercapai persaudaraan dan perdamaian internasional,” kata Hatta.


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto