KEJAHATAN

Berkas Epstein Membuka Kotak Pandora Pedofilia dalam Relasi Kuasa

Kasus pedofilia yang terungkap dalam ”Epstein Files” bukanlah pedofilia biasa. Ada struktur kekuasaan yang menopang eksploitasi seksual terhadap anak.

03 Feb 2026 16:00 WIB · Internasional

AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/STEPHANIE

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Berkas Epstein atau Epstein Files yang berisi laporan eksploitasi anak mencuat menjadi perbincangan hangat. Ada nama tokoh-tokoh besar dunia yang disebutkan di dalamnya. Berkas yang terdiri atas jutaan halaman itu telah membuka kotak pandora pedofilia dalam relasi kuasa.

Berkas Epstein merujuk pada dokumen pengadilan yang merekam kejahatan Jeffrey Epstein serta jejaring sosial dan politik di sekelilingnya. Ia merupakan pemodal asal Amerika Serikat dengan jaringan luas di kalangan elite AS dan internasional.

Pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan meninggal di sel tahanan setelah didakwa melakukan perdagangan seks anak. Otoritas AS menyebutnya bunuh diri. Proses pidananya terhenti. Namun, tuntutan agar berkas itu dibuka ke publik tak terbendung. Nama Presiden AS Donald Trump disebutkan di dalamnya.

A document that was included in the U.S. Department of Justice release of the Jeffrey Epstein files, photographed Monday, Feb. 2, 2026, shows a diagram prepared by the FBI attempting to chart the network of Epstein's victims and the timeline of their alleged abuse. (AP Photo/Jon Elswick)

Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar, mengapa seseorang bisa menjadi pedofilia? Faktor risikonya beragam, mulai dari gangguan pada perkembangan saraf hingga trauma masa kecil. Namun, kasus Epstein jauh lebih kompleks. Sebab, kasus ini melibatkan jaringan kekuasaan yang memfasilitasi kejahatan itu secara sistemik.

Pedofilia didefinisikan sebagai fantasi, dorongan seksual, atau perilaku berulang dan intens yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak. Sejumlah riset mengaitkan pedofilia dengan gangguan perkembangan saraf dan fungsi otak.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Revista de Psiquiatría y Salud Mental (2009) disebutkan, para pedofil menunjukkan beberapa perubahan saraf dan pola aktivasi otak yang dominan pada subkortikal terhadap rangsangan seksual. Subkortikal merupakan struktur otak yang mengatur berbagai fungsi vital, seperti kontrol motorik, emosi, dan gairah.

boneka lucu di letakkan di alun-alun Bolivar, Bogota dalam aksi menentang pelecehan anak, Senin (30/11/2020). Ribuan mainan lucu bertebaran di sekitar alun-alun utama Bogota pada hari Senin dengan pesan menolak kekerasan seksual yang mengancam 37 anak setiap harinya di Kolombia. AFP/RAUL ARBOLEDA

Peneliti di Universitas Jaen, Spanyol, Juan Antonio Becerra Garcia, menjadi penulis pertama dalam riset itu. ”Hasil studi ini menunjukkan asal mula pedofilia mungkin sebagian terletak pada perubahan otak akibat masalah selama perkembangan saraf. Meski demikian, perubahan ini tidak membebaskan orang-orang ini (pedofil) dari tanggung jawab atas tindakan mereka,” tulisnya, dilansir dari jurnal tersebut, Selasa (3/2/2026).

Beberapa studi lain menganalisis keterkaitan koneksi saraf dengan pedofilia. Penelitian di Centre for Addiction and Mental Health (CAMH) Kanada menggunakan magnetic resonance imaging  (MRI) dan teknik analisis komputer yang canggih untuk membandingkan sekelompok pedofil dengan sekelompok penjahat nonseksual.

Hasilnya, para pedofil memiliki zat yang disebut materi putih atau substansia alba yang lebih sedikit. Materi ini berfungsi untuk menghubungkan beberapa bagian otak, termasuk untuk mengirimkan sinyal saraf, memproses informasi, dan mendukung fungsi kognitif.

Quote

Akan tetapi, kasus Epstein bukanlah fenomena pedofilia biasa. Kejahatannya dibungkus dengan struktur kekuasaan yang menopangnya. Jadi, penyebabnya bukan semata-mata dorongan seksual, melainkan juga hasrat akan dominasi.

Faktor trauma dan minat seksual

Trauma masa kecil juga menjadi faktor potensial pedofilia. Anak yang pernah menjadi korban pedofilia atau pernah menyaksikannya berpotensi menirunya saat dewasa. Apalagi jika tindakan itu tidak dipahami sebagai perbuatan yang salah sejak dini.

Akan tetapi, tidak semua korban pelecehan seksual di masa kecil akan menjadi pedofil. Sebab, pedofilia merupakan kondisi kompleks yang melibatkan faktor klinis, psikologis, dan lingkungan di sekitarnya.

Faktor pedofilia lainnya dikaitkan dengan minat seksual. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Aggression and Violent Behavior (2023) menyebutkan, pedofilia dipengaruhi pula oleh minat seksual yang lebih rendah terhadap orang dewasa.

Peneliti di Universitas Maastricht, Belanda, Eveline E Schippers, penulis pertama studi itu, mengatakan, pelaku pelecehan seksual pada anak (PSOC) cenderung memiliki minat seksual yang lebih tinggi terhadap anak. Namun, bukan berarti mereka tidak punya minat seksual terhadap orang dewasa.

FILE - Documents that were included in the U.S. Department of Justice release of the Jeffrey Epstein files are photographed Friday, Jan. 2, 2026. (AP Photo/Jon Elswick, File)

”Kurangnya minat seksual pada orang dewasa mungkin merupakan faktor penting dalam penilaian dan pengobatan PSOC dengan pedofilia yang dapat membuka jalan baru untuk membantu mereka menahan diri dari perilaku pelanggaran,” katanya.

Kekuasaan dan eksploitasi

Akan tetapi, kasus Epstein bukanlah fenomena pedofilia biasa. Kejahatannya dibungkus dengan struktur kekuasaan yang menopangnya. Jadi, penyebabnya bukan semata-mata dorongan seksual, melainkan juga hasrat akan dominasi.

Kekayaan dan kekuasaan memungkinkan pelaku memandang orang lain sebagai komoditas. Jaringan kekuasaan menjadi benteng untuk melindungi tindak kejahatannya dari hukum sekaligus melanggengkan eksploitasi seksual pada anak. Kondisi ini didukung oleh normalisasi dari kalangan elite di sekitarnya. Korban yang merasa tak berdaya pun takut bersuara.

This undated photo released by the U.S. Department of Justice shows former President Bill Clinton (center) and Jeffrey Epstein (left)

Dorongan publik agar kasus ini segera diungkap pun menguat. Mantan Presiden AS Bill Clinton dan istrinya, mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, setuju untuk bersaksi dalam investigasi DPR AS terhadap kejahatan seksual yang dilakukan Epstein, Senin (2/2/2026) waktu setempat.

Anggota DPR AS, James Comer, terus mendesak agar Bill dan Hillary dikenai tuduhan penghinaan terhadap Kongres AS karena menentang panggilan pengadilan Kongres. Sebelumnya, Comer menolak tawaran dari pengacara keluarga Clinton agar Bill melakukan wawancara tertulis, sementara Hillary memberikan keterangan melalui pernyataan.

Comer bersikeras agar keduanya memberikan deposisi atau pengakuan di bawah sumpah di hadapan komite. Surat dari komite kepada pengacara keluarga Clinton menunjukkan bahwa mereka telah menawarkan agar Bill melakukan wawancara tertulis selama empat jam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan investigasi dan penuntutan Epstein.

This undated photo from the personal collection of Jeffrey Epstein provided by the Democrats on the House Oversight Committee on December 12, 2025, shows US President Donald Trump (L), flanked by Epstein (C), talking to an unknown woman. Democratic lawmakers released a new cache of photos on Friday from the estate of convicted sex offender Jeffrey Epstein that includes images of US President Donald Trump and former president Bill Clinton, as well as former Trump advisor Steve Bannon, former Clinton treasury secretary Larry Summers, director Woody Allen and the ex-prince now known as Andrew Mountbatten-Windsor. (Photo by HANDOUT / House Oversight Democrats / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /  HOUSE OVERSIGHT COMMITTEE DEMOCRATS / HANDOUT /  " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

”Keluarga Clinton tidak berhak mendikte ketentuan surat panggilan pengadilan yang sah,” kata Comer.

Clinton telah menolak surat panggilan pengadilan Kongres AS selama berbulan-bulan untuk kesaksian mereka terkait investigasi terhadap Epstein dan rekan-rekannya. Pengacara mereka berupaya membantah keabsahan surat panggilan pengadilan tersebut.

Akan tetapi, ketika Comer yang berasal dari Partai Republik mengancam akan memulai proses tindakan penghinaan terhadap Kongres, keluarga Clinton mulai bernegosiasi untuk berkompromi. Hubungan Bill Clinton dengan Epstein kembali menjadi fokus perhatian Partai Republik di tengah mencuatnya kasus Epstein. Clinton memiliki hubungan yang terdokumentasi dengan baik dengan Epstein pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti