Piala Dunia selalu jadi tempat gol-gol indah tercipta. Di edisi 1990, Lothar Matthaus menciptakannya dengan ”sederhana”, tetapi dikenang selamanya.
25 Jun 2026 18:09 WIB · Olahraga
Kompas/Kartono Ryadi
Jika ada yang tetap bertahan tak lekang waktu dari Piala Dunia 1990, gol Lothar Matthaus ke gawang Yugoslavia adalah salah satunya. Baru saja laga pembuka, Matthaus sudah menunjukkan kecemerlangannya. Aksinya jadi titik mula kegemilangan Jerman Barat mencapai puncak dunia.
Ketika Diego Maradona menggambarkan Lothar Matthaus sebagai rival terbaik yang pernah dia temui, itu adalah pujian terbesar yang bisa diberikan seorang legenda Argentina untuk pemain Jerman Barat tersebut. Maradona tidak berlebihan.
Maradona dan Matthaus bersaing di klub dan negara dengan cara berbeda. Piala Dunia 1990 menjadi salah satu momen penting untuk rivalitas keduanya.
Sementara itu, Maradona dikenal sebagai pemain jenius dengan bakat luar biasa, Matthaus dikenal sebagai gelandang paling komplet yang pernah ada.
Selain punya jiwa kepemimpinan, pemain yang pernah memperkuat Bayern Muenchen dan Inter Milan ini punya stamina yang luar biasa, jangkauan umpan yang fenomenal, dan tembakan-tembakan yang sangat keras.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/11/09/0cb46e80-b7be-4b1f-b3cb-384e98d4b08c_jpg.jpg)
Pada Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia, Matthaus datang dengan membawa ambisi membalas dendam kepada Diego Maradona dan kawan-kawan. Empat tahun sebelumnya di Stadion Azteca, Meksiko, Jerman Barat harus mengakui keunggulan Argentina 2-3 di partai final.
Di Stadion Giuseppe Meazza, Milan, Jerman Barat sedang unggul 2-1 atas Yugoslavia ketika Matthaus beraksi untuk mencetak gol keduanya. Satu gol yang dicetak sebelumnya tidaklah cukup bagi Matthaus.
Matthaus menciptakan gol kedua yang istimewa lewat aksi solo run. Gol ini tidak hanya istimewa karena akhirnya bola bisa bersarang gawang, tetapi bagaimana proses bola bisa sampai ke situ.
Ada kecenderungan yang dapat dimengerti untuk berpikir bahwa gol solo umumnya didasarkan pada keterampilan, menguras tenaga, dan membuat bingung para bek. Namun, Matthaus melakukannya dengan ”sederhana”, yaitu mengubah arah lari dan mengalahkan satu bek.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/25/277a1f3e5af56006da61379a52ca9737-20260625_H02_ARS_Golazo_Lothar_Matthaus_1990_mumed.png)
Bermula dari umpan Klaus Augenthaler di wilayah pertahanan sendiri, Matthaus berbalik arah untuk berlari. Pria kelahiran Erlangen, Jerman Barat, ini menembus ruang terbuka lebih dari separuh lapangan jauhnya.
Libero Yugoslavia, Davor Jozic, sempat berusaha menghentikan pergerakan tersebut, tetapi Matthaus dengan brilian menghindari tekel lawannya. Sang kapten semakin leluasa setelah pergerakan Rudy Voeller dan Juergen Klinsmann sempat memancing bek Yugoslavia bergerak melebar dan menciptakan ruang tembak.
Saat bek Yugoslavia, Faruk Hadzibegic dan Predrag Spasic, menyadari ancaman yang bisa dihadirkan Matthaus dan berusaha menutup celah yang ada, mereka terlambat. Matthaus sudah melepaskan tembakan dengan kecepatan 65 mil (104 kilometer) per jam di antara kedua pemain tersebut dan dengan jarak 26 meter dari gawang.
Kiper Tomislav Ivkovic tak berdaya dengan tendangan keras tersebut. Jerman Barat menambah keunggulan sebelum mengakhiri laga dengan kemenangan 4-1 lewat tambahan gol dari Voeller.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/09/bea4d29e-5e54-4c8e-a7d5-a4d754a07da0.jpg)
Penampilan gemilang Matthaus membantu timnya mengawali turnamen dengan penuh gaya. Empat pekan kemudian, Matthaus mengangkat trofi Piala Dunia setelah menaklukkan Argentina, 1-0.
Trofi beserta gol-gol yang dilesakkan para pemain Jerman Barat di Piala Dunia itu akhirnya abadi. Bukan hanya karena golnya indah seperti milik Matthaus, melainkan juga karena tercatat selamanya sebagai pencapaian Jerman Barat di Piala Dunia.
Tiga bulan setelah Piala Dunia 1990, tercipta reunifikasi Jerman. Negara Jerman Barat bergabung dengan Jerman Timur untuk menjadi Jerman. Oleh karena itu, aksi gemilang pemain seperti Matthaus menjadi salam perpisahan Jerman Barat kepada Piala Dunia.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul