Berlari untuk Kesehatan hingga Menjawab Tantangan

Motivasi berlari bisa macam-macam. Namun, konsistensi berlari amat penting.

11 Des 2024 16:59 WIB · Olahraga

Oleh helena fransisca nababan

Olahraga lari kian populer di kalangan masyarakat. Bagi sebagian orang, berlari bukan hanya tentang mengayunkan kaki dan tangan atau mengikuti tren. Namun, berlari juga tentang menjaga kesehatan karena vonis penyakit, riwayat kesehatan keluarga, hingga menjawab tantangan diri sendiri.

Rudianto Pangaribuan (52), Public Relation PT Indofood Tbk Divisi Bogasari, terlihat santai dengan napas tidak ngos-ngosan meski baru saja tuntas menyelesaikan 8,4 kilometer berlari tanpa putus di area lari Discovery, Bintaro Jaya, Sabtu (7/12/2024). Ia kemudian melakukan pendinginan untuk menutup olahraga paginya itu.

Kebiasaan Rudi berlari dimulai sejak pandemi Covid-19. Saat ia boleh pulang dari rumah sakit usai perawatan dan berstatus pasien dalam pengawasan, ia bertekad mengubah gaya hidupnya. Ia ingin membangun gaya hidup sehat. Ia berolahraga di rumah dengan sepeda statis dan treadmill setiap pagi.

”Setelah saya dinyatakan negatif dari infeksi virus itu pada 2020, saya melanjutkan kebiasaan berolahraga selama menjadi pasien dalam pengawasan dengan berlari,” kata Rudi, panggilan akrab Rudianto.

”Saya juga punya diabetes, jadi saya harus menjaga kadar gula saya dan menjaga supaya insulin tubuh tetap sensitif. Selain itu, keluarga juga ada riwayat kanker. Saya memutuskan hidup sehat dengan menekuni lari dan menjaga asupan makanan,” imbuhnya.

Rudianto Pangaribuan (52) tengah menjalani rutinitas berlari di akhir pekan seperti terlihat, Sabtu (7/12/2024) di kawasan Discovery, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan

Awalnya Rudi berprinsip yang penting lari saja dulu. Ternyata ia sempat mengalami cedera tumit kaki setelah berlari. ”Saya lalu cari tahu penyebabnya. Dari Youtube seorang pesohor yang juga pelari, saya jadi tahu penyebabnya. Saya ikuti penyembuhan dan aturan berlari. Mulai akhir 2020 saya bisa berlari lagi dengan nyaman,” ujarnya.

Pelan-pelan Rudi mulai meningkatkan durași lari, kecepatan, dan jarak lari. Pada pertengahan 2023 ia mencatat mampu berlari dengan jarak 21 km.

”Puncaknya pada ulang tahun saya ke-52 pada 3 Desember lalu, saya sanggup berlari 25 kilometer,” katanya.

Berkat menekuni lari, dokter mendapati hasil pemeriksaan kesehatan Rudi selalu terjaga apik. ”Banyak teman juga bilang saya lebih langsing, kelihatan muda, dan glowing,” ujar Rudi.

Motivasi menjaga kesehatan dan riwayat kesehatan keluarga juga menjadi alasan Christoforus Deberland Situngkir (34). Berland yang saat ini adalah Kepala Departemen Pemeliharaan Stasiun dan Gedung Depo PT MRT Jakarta menekuni olahraga lari karena teguran dokter setelah ayahnya terkena serangan jantung.

Serangan jantung itu terjadi saat pandemi Covid-19 pada 2020. ”Karena bapak sempat sesak, kita kira bapak terinfeksi Covid-19. Setelah CT Scan ternyata bapak harus menjalani bypass jantung,” tutur Berland, panggilan akrabnya.

Selama mendampingi perawatan ayahnya, dokter yang menangani juga menegur dan memperingatkan Berland akan potensi serupa pada dirinya. ”Waktu itu berat badan saya 103 kilogram. Saya ingin menjaga kesehatan saya,” tutur Berland.

Pelari melintasi kebun saat berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024). Borobudur Marathon 2024 diikuti oleh 10.500 pelari dalam tiga kategori, yaitu lari marathon, half marathon, dan 10 kilometer. Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 01-12-2024

Setelah diperingatkan dokter, ia berkonsultasi dengan ahli gizi. Mulailah ia menjalani program menurunkan berat badan. Ia menjalani intermittent fasting dan menjaga asupan makanan.

”Selain berenang, saya mulai berjalan kaki keliling depo MRT. Target langkah saya buat meningkat,” kata Berland.

Setahun ia menjalani program tersebut, berat badan sudah turun ke 85 kg dan ia sanggup berjalan 10.000 langkah sehari. ”Saat itu saya mulai menambah dengan lari-lari kecil,” ujarnya.

Jarak larinya, kata Berland, juga tidak langsung jauh. Ia memulai dengan langkah yang diseling dengan lari 500 meter, kemudian 1 km, 5 km, 10 km, hingga akhirnya menempuh jarak half marathon dan maraton penuh.

Kecepatan larinya juga apik. Dari semula 6 menit per kilometer, sekarang ia sudah berlari dengan pace 4 menit per kilometer. Sejumlah lomba half marathon dan full marathon sudah ia ikuti.

Berland ingin terus mempertahankan aktivitas berlarinya. Ia memiliki mimpi tetap kuat dan sanggup berlari maraton di usia 50-an.

Berlari di usia tak lagi muda juga menjadi tantangan bagi Nova S (50). Sejak tahun lalu ia menantang dirinya untuk mampu berlari jarak jauh, setidaknya 5.000 meter.

”Tahun lalu saya menemani adik saya berlari di Standard Schartered Singapore Marathon. Saat itu saya melihat ada banyak peserta lari yang sudah sepuh, laki-laki dan perempuan. Jadi saya terpacu juga untuk bisa berlari,” kata Nova, warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, itu.

Bagi Nova, umur bukan halangan. ”Yang penting ada kemauan dan mau rutin berlatih pasti bisa ikut berlomba,” ujar Nova penuh semangat.

Nova sebetulnya sudah rutin berjalan kaki di sekitar tempat ia tinggal. Pada masa pandemi Covid-19, kegiatannya berjalan kaki meningkat menjadi latihan lari.

”Awalnya saya berlari 1 kilometer, terus berlari 2 kilometer mixed jalan. Lama-lama lewat itu 5 kilometer. Saya bisa berlari 6-7 kilometer saat latihan,” tutur Nova.

Pelari menuntun rekannya yang kelelahan saat berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024). Borobudur Marathon 2024 diikuti oleh 10.500 pelari dalam tiga kategori, yaitu lari marathon, half marathon, dan 10 kilometer. Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 01-12-2024

Alhasil, Nova sukses menjawab tantangan yang ia buat untuk dirinya sendiri. Ia baru saja menyelesaikan 5 kilometer dalam ajang 2024 Singapore Marathon di akhir November lalu dałam waktu 53 menit 12 detik.

”Nomor ini fun. Saya senang bisa menyelesaikan 5 km di lomba pertama saya,” ujar Nova yang baru merayakan 50 tahun pada 2 November lalu.

Rupanya Nova sudah ketagihan dengan berlari. Ia menargetkan di lomba berikutnya akan berlari di nomor 10 kilometer.

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dari EKA Hospital BSD, Ria Lestari, menjelaskan, memiliki motivasi internal untuk berlari itu bagus. Namun, konsistensi (berlari) juga tak kalah penting.

”Jangan sampai menggebu-gebu di awal kemudian habis. Lebih baik sedikit-sedikit (larinya), tetapi terus-menerus (berlari),” kata Ria Lestari.

Menurut Ria, ada beberapa cara untuk memelihara supaya lari itu aman dalam arti terhindar dari cedera dan menyenangkan. Yang pertama pelari mesti fokus pada alasan utama mengapa berlari. Motivasi internal menjadi alasan bagus seseorang berlari.

”Alasan itu macam-macam, dari untuk mengurangi stres, untuk meningkatkan kebugaran, karena ingin mengubah gaya hidup, hingga untuk menantang diri sendiri sanggup berlari di usia tertentu,” kata Ria.

Warga mengikuti acara Borobudur Fun Run di kawasan Desa Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (8/12/2024). Ajang lari santai dengan rute sejauh 3,3 kilometer ini diikuti 2.000 peserta dan menjadi penutup rangkaian acara Bank Jateng Borobudur Marathon 2024. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko

Yang paling penting, ujar Ria, jangan FOMO alias merasa takut tertinggal karena tidak mengikuti suatu kegiatan. Setelah itu pelari bisa menentukan target yang realistis.

Target realistis tersebut juga harus mengikuti proses. Dalam berlari sebaiknya ada peningkatan yang bertahap.

”Tidak bisa hari ini berlari 2 km, besok 3 km, besoknya lagi 4 km. Secara umum, peningkatan dalam berlari itu 10 persen per minggu,” kata Ria.

Kemudian, pelari mesti memprioritaskan istirahat dan pemulihan. Pelari juga mesti mendengarkan tubuhnya.

Manakala tubuh lelah, atau ada yang nyeri atau sakit, pelari disarankan untuk beristirahat. Pelari juga dianjurkan untuk menyesuaikan atau mengubah latihan lebih fleksibel. Apabila seseorang berniat menjadi pelari serius, Ria menyarankan, sebaiknya pelari melibatkan pelatih lari.


Kerabat Kerja

Penulis:

helena fransisca nababan
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto