Berlin hingga Cape Town Serukan Gencatan Senjata, Israel Kian Brutal di Gaza

Terlalu lemah untuk evakuasi, sekitar 400.000 orang terjebak di Gaza City yang terkepung dan terus diserang. Belasan bayi prematur bertahan hidup di RS yang hancur.

28 Sep 2025 09:30 WIB · Internasional

Oleh Irene Sarwindaningrum

GAZA, MINGGU — Desakan internasional agar Israel menghentikan agresi militer di Jalur Gaza semakin keras. Gelombang protes berlangsung di Berlin, Cape Town, bahkan di Tel Aviv sendiri. Di New York, Uni Emirat Arab atau UEA secara langsung menyampaikan desakan itu kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Namun, alih-alih mengendur, Israel justru kian brutal serang Gaza.

Pada Sabtu (27/9/2025), dalam sehari, sedikitnya 92 orang tewas, mayoritas perempuan dan anak-anak. Ratusan ribu warga Gaza kini terjebak dalam kepungan militer. Serangan udara Israel kembali menghantam kawasan padat penduduk di Gaza City.

Di Kamp Al-Shati, tujuh anggota keluarga Bakr tewas setelah rumah mereka hancur porak-poranda. Perempuan berpakaian hitam terlihat meratap di jalanan, salah satunya memeluk erat jasad anak kecil yang dibungkus kafan putih.

”Kami tidak bisa tidur karena bom dan tembakan. Anak-anak sedang tidur ketika tiba-tiba rudal menghantam rumah,” kata Salwa Subhi Bakr, salah satu anggota keluarga yang selamat. ”Apa yang Netanyahu mau? Apa yang Hamas mau? Apa yang dunia inginkan dari kami?” ujarnya getir.

Seorang bayi dengan demam tinggi mendapat perawatan di rumah sakit lapangan UK-Med di Muwasi, dekat Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Sabtu (27/9/2025). (AP Photo/Jehad Alshrafi). A baby with a high fever is treated at a UK-Med field hospital in Muwasi, near Khan Younis, southern Gaza Strip, Saturday, Sept. 27, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Ratapan serupa datang dari Umm Khaleel, kerabat lain yang selamat. ”Yang terjadi ini pembantaian, pembantaian yang dikecam dunia internasional,” ujarnya dengan suara gemetar.

Di Kamp Nuseirat, serangan udara sebelum fajar menewaskan 15 orang lain. ”Reruntuhan menimpa lantai rumah kami. Atas kehendak Tuhan, sebagian selamat, sebagian syahid,” tutur Iyad Shokr. Di lokasi serangan, puing-puing beton menutupi jalan, sementara anak-anak mengais sisa barang-barang dari reruntuhan rumah.

Di Distrik Tufah, Gaza City, 11 orang tewas, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Empat lainnya tewas di Al-Shati akibat serangan terpisah. Sejumlah korban juga dilaporkan tertembak ketika berusaha mencari bantuan makanan di Gaza selatan.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut, dalam 24 jam terakhir, 74 orang tewas. Secara keseluruhan, sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023, lebih dari 65.926 orang telah meninggal dan 167.000 lainnya luka-luka. Separuh korban jiwa adalah perempuan dan anak-anak.

Seorang anak perempuan Palestina menerima makanan sumbangan di dapur umum di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Sabtu (27/9/2025). (AP Photo/Jehad Alshrafi). A Palestinian girl gets donated food at a community kitchen in Khan Younis, southern Gaza Strip, Saturday, Sept. 27, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Sistem kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran sejak setidaknya setahun terakhir. Direktur Rumah Sakit Shifa, Mohamed Abu Selmiya, mengatakan, tank Israel kian mendekat ke kompleks rumah sakit, membatasi akses keluar-masuk pasien. ”Penembakan tidak berhenti sedetik pun,” ujarnya.

Rumah Sakit Helou masih merawat 14 bayi prematur dalam inkubator. Namun, gerbang utama rumah sakit ditutup karena pesawat nirawak (drone) Israel berputar di atas gedung. Banyak staf medis terpaksa meninggalkan rumah sakit, menyisakan beberapa dokter dan perawat yang berjuang merawat pasien dengan sumber daya terbatas.

Quote

Apa yang Netanyahu mau? Apa yang Hamas mau? Apa yang dunia inginkan dari kami?

Organisasi Dokter Lintas Batas (MSF) mengumumkan penghentian operasi mereka di Gaza City. ”Ini adalah keputusan terakhir yang kami inginkan. Bayi prematur, pasien kanker, dan penderita penyakit parah kini dalam bahaya besar,” tulis MSF.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat empat fasilitas kesehatan di Gaza City telah berhenti beroperasi bulan ini. Sejumlah pusat gizi anak juga ditutup.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa sekitar 350.000-400.000 warga masih terjebak di Gaza City. Sekitar 300.000 lainnya sudah mengungsi. Warga yang bertahan sebagian besar tidak mampu membayar ongkos evakuasi atau terlalu lemah untuk pindah.

”Makanan langka dan mahal, air tidak aman diminum,” kata Amal al-Aas, warga Gaza barat. Dapur umum pun kewalahan. ”Kadang makanan habis sebelum kami kebagian. Kami pulang dengan tangan kosong,” ujar Fatima al-Daghma, pengungsi dari Khan Younis.

Rencana Trump

Di tengah meningkatnya korban di Gaza, Presiden AS Donald Trump mengklaim pihaknya hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata. Ia menyinggung adanya rencana perdamaian 21 poin yang ditawarkan kepada sejumlah negara Islam.

”Sepertinya kita punya kesepakatan di Gaza, kesepakatan yang akan memulangkan para sandera dan mengakhiri perang,” katanya.

Namun, Hamas membantah telah menerima proposal apa pun. ”Belum ada rencana yang dipresentasikan kepada kami,” kata seorang pejabat Hamas kepada Reuters.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjabat tangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pertemuan di Kantor Oval, Gedung Putih, Washington, DC, Senin (7/4/2025). Netanyahu berada di Washington untuk meminta keringanan tarif dari AS sekaligus mencari dukungan lebih lanjut terkait Iran dan situasi di Gaza. (Foto: Saul Loeb/AFP). US President Donald Trump shakes hands with Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu during a meeting in the Oval Office of the White House in Washington, DC, on April 7, 2025. Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu was in Washington on Monday to meet Donald Trump, whom he will likely ask for a reprieve from US tariffs while seeking further backing on Iran and Gaza. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Media Israel, Haaretz, sebelumnya melaporkan, rencana itu mencakup pembebasan seluruh sandera Israel dengan imbalan ratusan tahanan Palestina, penarikan bertahap pasukan Israel, dan jaminan bahwa Gaza tidak akan dianeksasi.

Netanyahu, yang memimpin koalisi sayap kanan Israel itu, berulang kali menegaskan perang tidak akan dihentikan sebelum Hamas dihancurkan. Pertemuan antara Netanyahu dan Trump dijadwalkan pada Senin (29/9/2025) di Gedung Putih, di tengah sorotan dunia.

Gelombang protes

Di Berlin, puluhan ribu orang turun ke jalan dalam aksi ”Together for Gaza”. Massa membawa bendera Palestina dan poster ”Free Palestine” serta ”Food and water are human rights”. Polisi memperkirakan 60.000 orang hadir, sedangkan panitia menyebut hingga 100.000 orang.

”Hari ini kita bisa mengirim sinyal bahwa mayoritas yang menentang kebijakan Israel terlihat di jalan,” kata Dustin Hirschfeld, peserta aksi.

Partai Kiri Die Linke menuding pemerintah Jerman terlalu diam. Kanselir Jerman Friedrich Merz memang telah membatasi penjualan senjata ke Israel. Akan tetapi, langkah itu dinilai belum cukup. Pasalnya, Berlin masih menolak menjatuhkan sanksi atau mengakui negara Palestina, berbeda dengan sejumlah sekutu Barat-nya.

People protest against Israel during a mass demonstration called "All Eyes on Gaza" in support of Palestinians in Berlin, Germany, Saturday, Sept. 27, 2025. (AP Photo/Christoph Soeder)

Di Cape Town, Afrika Selatan, lebih dari 3.000 orang berbaris menyerukan agar pemerintah memutuskan hubungan diplomatik dan dagang dengan Israel. Mereka membawa bendera Palestina dan poster bertuliskan ”Jangan cuma merasa sedih, lakukan sesuatu”.

”Boikot, divestasi, dan sanksi terhadap Israel, sama seperti dunia melakukannya pada kami dulu,” kata Usuf Chikte dari Palestine Solidarity Campaign, salah satu peserta aksi di Cape Town.

Petisi yang diserahkan ke parlemen Afrika Selatan menuntut pengusiran duta besar Israel, penghentian ekspor batu bara, hingga penindakan terhadap warga Afrika Selatan yang ikut bergabung dengan militer Israel. Sejak akhir 2023, Afrika Selatan telah menggugat Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) dengan tuduhan genosida.

Tekanan besar juga datang dari dalam negeri Israel. Ribuan orang berkumpul di Hostage Square, Tel Aviv, menuntut kesepakatan damai yang bisa memulangkan para sandera. Spanduk besar bertuliskan ”Semua sandera, bawa mereka pulang sekarang” terbentang di antara kerumunan.

”Satu-satunya hal yang bisa menghentikan kita jatuh ke jurang adalah kesepakatan penuh yang mengakhiri perang dan membawa pulang semua sandera,” kata Lishay Miran-Lavi, istri Omri Miran yang masih ditahan Hamas.

Ronen Ohel, kakak sandera Alon Ohel, juga mendesak Netanyahu segera bertindak. ”Tidak ada lagi penundaan. Ada kesempatan sekarang untuk benar-benar menjadi pemimpin,” ujarnya.

Meski demikian, suara keras datang dari kubu sayap kanan. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir memperingatkan Netanyahu agar tidak menghentikan perang tanpa kekalahan total Hamas. ”Anda tidak punya mandat mengakhiri perang tanpa kekalahan Hamas,” tulisnya di X.

Para pengunjuk rasa berkumpul dalam aksi antipemerintah yang diselenggarakan keluarga para sandera Israel yang ditawan di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, memperingati 722 hari perang antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas, di luar Museum Seni Tel Aviv (dikenal sebagai “Hostages’ Square”), Tel Aviv, Sabtu (27/9/2025). Mereka menuntut gencatan senjata dan langkah nyata untuk membebaskan para sandera. Dari 251 sandera yang diculik dalam serangan Hamas pada Oktober 2023 yang memicu perang, kelompok militan Palestina masih menahan 47 orang di Gaza, termasuk 25 yang menurut militer Israel telah tewas. (Foto: Jack Guez/AFP). Demonstrators gather during an anti-government protest organised by the families of the Israeli hostages taken captive in the Gaza Strip since the October 2023, marking 722 days of the ongoing war between Israel and Palestinian militant movement Hamas, calling for a ceasefire and for action to secure the hostages' release, outside the Tel Aviv Museum of Art (known as the "Hostages' Square") in Tel Aviv on September 27, 2025. Of the 251 hostages seized during Hamas's October 2023 attack that sparked the war, Palestinian militants still hold 47 in Gaza, including 25 the Israeli military says are dead. (Photo by Jack GUEZ / AFP)

UEA kirim pesan tegas

Di sela Sidang Umum PBB, Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed bertemu Netanyahu. Ia menegaskan pentingnya segera mengakhiri perang serta komitmen UEA pada solusi dua negara.

Pertemuan ini menjadi yang pertama antara Netanyahu dan pejabat senior Arab sejak serangan Israel terhadap pemimpin Hamas di Qatar pada 9 September lalu. Normalisasi hubungan melalui Abraham Accords kini menghadapi ujian besar. Abu Dhabi telah memperingatkan bahwa aneksasi Tepi Barat akan menjadi ”garis merah” yang bisa memperburuk hubungan diplomatik.

Namun, dalam pidatonya di Majelis Umum PBB sehari sebelumnya, Netanyahu kembali menegaskan, Israel akan ”menuntaskan pekerjaan” melawan Hamas. Pidato itu memicu aksi walk out puluhan delegasi. Hal ini menandai kian terisolasinya Israel di forum internasional. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto