Lebih dari 600.000 anak Palestina di Gaza tidak bersekolah selama dua tahun terakhir akibat perang antara Israel dan Hamas.
18 Nov 2025 09:54 WIB · Internasional
AP/Abdel Kareem Hana
Ratusan anak usia sekolah berkumpul di sebidang tanah kosong yang dikelilingi tenda berwarna putih kusam. Beberapa bangunan terlihat lebih baik dengan atap seng. Pagi itu anak-anak yang tinggal di pengungsian sekitar Jalur Gaza, Palestina, Rabu (12/11/2025), kembali melakukan rutinitas yang telah dua tahun mereka tinggalkan: bersekolah.
Setelah upacara pagi, mereka berpisah dan berkelompok sesuai dengan umur dan kelas yang akan mereka ikuti. Beberapa kelompok segera menuju tenda yang menjadi ruang kelas mereka. Sebagian yang lain menuju bangunan permanen yang difungsikan menjadi tempat belajar mereka hari itu.
Satu kelompok yang tidak kebagian tempat mengikuti proses pembelajaran di ruang terbuka, di samping tenda kelas yang lain. Papan tulis yang disandarkan ke tembok, serta berbagai macam jenis dan warna kursi yang ada, mencerminkan tingkat kedaruratan sekolah ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/18/c6a8291d-09d9-4c91-bd88-a92a51e04f48_jpg.jpg)
Bissan Younis, salah satu orangtua siswa, tampak sedih saat berdiri di luar kumpulan tenda yang dikelilingi puing-puing, yang kini menjadi pemandangan umum di Jalur Gaza. Perkemahan kecil itu adalah sekolah darurat tempat anaknya menuntut ilmu. ”Sebagian besar sekolah hancur,” ujarnya lirih. ”Setiap sekolah yang saya kunjungi selalu bilang tidak ada tempat lagi.”
Lebih dari 600.000 anak Palestina di Gaza tidak bersekolah selama dua tahun terakhir akibat perang antara Israel dan Hamas. Alih-alih belajar dan bersosialisasi, mereka berulang kali mengungsi, melarikan diri dari serangan udara dan penembakan. Bahkan, mereka sering kali menghabiskan hari-hari untuk mencari air dan makanan untuk keluarga mereka.
Gencatan senjata yang dicapai bulan lalu segera dimanfaatkan untuk membuka kembali sekolah darurat. Beberapa kelompok misi kemanusian membuka kembali puluhan sekolah darurat. John Crickx, juru bicara Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (Unicef), mengatakan pentingnya anak-anak untuk kembali ke kelas sesegera mungkin. Menurut dia, ini bukan hanya karena pendidikan dasar, melainkan juga untuk kesehatan mental mereka.
Unicef memperkirakan 630.000 anak Palestina tidak bersekolah selama perang, tetapi hanya sekitar 100.000 anak yang dapat kembali bersekolah. Secara terpisah, Badan PBB untuk Pekerjaan dan Pemulihan Pengungsi Palestina di Timur Jauh (UNRWA), menyediakan sebagian pendidikan melalui guru-guru kontrak mereka yang diperkirakan bisa melayani sekitar 40.000 siswa. Saat ini banyak fasilitas UNRWA yang beralih menjadi tempat pengungsian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/18/0f0bc2dd-316a-429b-8817-4606d4327b87_jpg.jpg)
Puluhan sekolah rusak parah atau hancur total. Yang tersisa, banyak yang masih digunakan sebagai tempat berlindung bagi warga Palestina yang telah berulang kali mengungsi karena perang. Saat ini, badan-badan PBB dan kelompok kemanusiaan masih berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan di Gaza.
Ribuan keluarga masih bertahan di pengungsian yang sebenarnya adalah bangunan sekolah. Sebagian menghuni di sela-sela reruntuhan sekolah-sekolah yang rusak. Touma dari UNRWA mengatakan, sekitar 75.000 orang masih berlindung di sekolah-sekolah milik badan tersebut.
Salah satu pengungsi, Tahreer al-Oweini, mengatakan, dia merasa bersalah tetapi dia tidak punya pilihan. ”Saya tinggal di ruang kelas yang seharusnya digunakan untuk belajar bersama guru, siswa, dan papan tulis.”
Al-Oweini kesulitan mendapatkan tempat untuk ketiga putrinya dan seorang putranya yang duduk di sekolah dasar dan menengah. Ia bahkan memberi tahu seorang kepala sekolah bahwa ia akan mencari kursi dan meja untuk putrinya, tetapi tetap ditolak.
”Mereka punya ambisi,” katanya. ”Namun, kalau mereka tidak sekolah, mereka tidak akan punya masa depan.” (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan