Berpikir Kritis Jadi Kunci Hadapi Era Banjir Informasi

Setiap hari, jumlah informasi yang dihasilkan masyarakat di dunia mencapai 2,5 exabyte atau 2,5 miliar gigabyte. Bagaimana cara memilih informasi yang tepat?

22 Nov 2024 18:05 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Mohamad Final Daeng

MAGELANG, KOMPAS — Era banjir informasi seperti sekarang memunculkan tantangan bagi masyarakat dalam memilah dan memilih informasi yang benar. Berpikir kritis menjadi kunci bagi setiap orang untuk menghindari informasi menyesatkan.

Hal itu merupakan benang merah pembahasan seminar literasi digital bertajuk ”Labirin Informasi: Tersesat atau Melesat?”, di Kampus Universitas Tidar (Untidar), Magelang, Jawa Tengah, Jumat (22/11/2024). Acara itu diselenggarkan Harian Kompas/Kompas.id bersama Untidar.

Pelaksanaan literasi digital ini bekerja sama dengan perusahaan anggota Kompas Collaboration Forum (KCF). Hadir sebagai pembicara Rektor Untidar Prof Sugiyarto dan Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas/Kompas.id Tri Agung Kristanto.

Sugiyarto memaparkan, di era post-truth seperti saat ini, masyarakat cenderung memercayai informasi yang sesuai dengan kebutuhan emosional mereka atau yang sejalan dengan ideologi politik yang mereka anut. Hal itu dilakukan tanpa mempertimbangkan faktor yang lebih luas lagi.

Rektor Universitas Tidar Sugiyarto menjadi pembicara dalam seminar literasi digital di Universitas Tidar, Kota Magelang, Jawa Tengah, Jumat (22/11/2024). Pelaksanaan literasi digital Kompas.id bekerja sama dengan perusahaan anggota Kompas Collaboration Forum. Acara sejenis telah digelar sejak 2020 dan sudah terlaksana sebanyak 50 kali lebih, baik secara online maupun offline, di berbagai perguruan tinggi dan perusahaan. Dalam kegiatan itu juga dilaksanakan pemberian beasiswa subscriber Kompas.id untuk 300 sivitas akademika Untidar.

Padahal, ada fenomena di mana informasi memang sengaja dibuat sehingga menyesatkan masyarakat, termasuk yang terkait isu-isu sensitif. Hal tersebut bahkan bisa berpotensi mengganggu keutuhan bangsa. ”Hoaks dan disinformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari fenomena post-truth ini,” ujarnya.

Sugiyarto menjelaskan, ada prinsip bahwa perjalanan seseorang menemukan suatu kebenaran itu dimulai dengan selalu meragukan segala sesuatu. Kalau masih ragu, tambah dia, berarti orang tersebut belum sampai pada titik kebenaran.

Berpikir secara kritis atau meragukan segala sesuatu itu menjadi salah satu cara untuk menyaring informasi yang diperoleh. Ini di antaranya dengan memverifikasi informasi, melihat kredibilitas sumber informasi, dan mencari perspektif yang beragam.

Semua itu dapat terwujud dengan meningkatkan budaya literasi di kalangan masyarakat, terutama generasi muda sebagai penerus bangsa. ”Karena itu, kita juga harus membangun budaya membaca, budaya literasi,” ujarnya.

infografik Tren Indeks Literasi Digital Indonesia

Sementara itu, Tri Agung Kristanto mengatakan, jumlah informasi yang dihasilkan masyarakat di dunia setiap hari mencapai 2,5 exabyte. Satu exabyte sama dengan 1 miliar gigabyte. ”Informasi sebanyak itu seperti labirin, yang bisa menyesatkan,” katanya.

Quote

Informasi seharusnya digunakan untuk kebaikan, misalnya pengembangan diri.

Tri Agung menjelaskan, penyesatan informasi sudah dikenal sejak lama, termasuk dikisahkan dalam epos Wayang Mahabharata yang berakar ribuan tahun lalu. Penyesatan informasi ini digambarkan dalam taktik Pandawa mengelabui Dorna dengan membuat panglima Kurawa itu berpikir bahwa putranya telah mati.

Karena itulah masyarakat sebagai konsumen informasi harus bijak dalam memilah dan memilih informasi yang membanjiri, terutama di dunia digital. ”Informasi seharusnya digunakan untuk kebaikan, misalnya, pengembangan diri,” kata Tri Agung.

Seminar literasi digital ini telah digelar sejak 2020 dan sudah terlaksana sebanyak lebih dari 50 kali, baik secara daring maupun luring, di berbagai perguruan tinggi dan perusahaan. Dalam kesempatan di Untidar, diberikan pula 300 beasiswa subscriber Kompas.id untuk sivitas akademika Untidar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Mohamad Final Daeng
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase